Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaPendidikanPenilaian dan EvaluasiAsesmen Nasional: Mampukah Menggenjot Mutu Lulusan?

Asesmen Nasional: Mampukah Menggenjot Mutu Lulusan?

Amal Maliki
Kepala SMAN 01 Bombana Sulawesi Tenggara

Suyanto.id–Tahun 2021 adalah tahun yang sangat pantas untuk mengucapkan “selamat tinggal Ujian Nasional”. Betapa tidak, Ujian Nasional yang yang selama ini menjadi momok di kalangan peserta didik, kini dihapus dari dunia pendidikan. Sebagai gantinya, pemerintah akan memberlakukan sistem Asesmen Nasional terhitung mulai Maret 2021. Mampukah Asesmen Nasional ini menggenjot mutu lulusan? Kita tunggu saja hasilnya.

Dalam berbagai sumber dan media, barangkali kita sudah banyak mengetahui tentang apa sebenarnya Asesmen Nasional itu. Ya, Asesmen Nasional-penilaian nasional adalah pemetaan mutu pendidikan seluruh jenjang satuan pendidikan. Jadi, hasil Asesmen Nasional bukan syarat penentuan kelulusan peserta didik, melainkan gambaran peta mutu pendidikan secara nasional. Namun begitu, sekolah harus tetap memiliki kesiapan yang baik untuk menghadapi Asesmen Nasional.

Sejak diperkenalkan Asesmen Nasional di kalangan publik, muncul polemik (pertentangan) dari berbagai pemangku kepentingan pendidikan. Sebagian ada yang menolak, tetapi ada juga yang mendukung pelaksanaannya. Pihak yang menolak beralasan bahwa Asesmen Nasional berpotensi menurunkan prestasi belajar peserta didik karena tidak ada lagi standar untuk menentukan kelulusan. Di pihak lain, yang mendukung, beralasan bahwa Asesmen Nasional merupakan salah satu jawaban untuk meningkatkan mutu pendidikan karena soal yang diujikan dapat memantik keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Sangat miris memang mencermati mutu pendidikan kita melalui laporan organisasi dunia. Salah satu laporan yang diumumkan tahun 2019 oleh organisasi untuk kerja sama dan pembangunan ekonomi, hanya menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dari bawah. Kemampuan nalar bacaan, logika matematika, dan analisis sains peserta didik kita jauh tertinggal dari beberapa negara tetangga. Fakta ini menujukkan bahwa mutu pendidikan kita masih rendah.

Mutu pendidikan yang rendah juga menjadi penyumbang besar bagi angka pengangguran terbuka. Mengapa demikian? Karena, jika mutu pendidikan rendah, otomatis lulusan yang dihasilkan juga rendah. Akibatnya para lulusan sangat sulit bersaing dengan tuntutan kebutuhan dunia kerja. Dengan kata lain, pengangguran akan meningkat. Sekadar gambaran untuk memperkuat penjelasan tersebut, pada tahun 2018 BPS telah mencatat bahwa dari 7 juta pengangguran terbuka, 11,24 persennya merupakan lulusan SMK dan 7,95 persen lulusan SMA.

Peningkatan mutu pendidikan harus terus digenjot. Seluruh negara di dunia telah melakukan hal ini. Oleh karena itu, jika tidak ingin peserta didik kita kalah bersaing di kancah persaingan lokal maupun global dan menjadi pengangguran terdidik, tidak ada jalan lain, kecuali menemukan pilihan-pilihan baru untuk membenahi mutu pendidikan yang sudah sangat jauh tertinggal. Inilah pertimbangannya sehingga pemerintah menyodorkan Asesmen Nasional sebagai pilihan untuk meningkatkan mutu lulusan.

Baca juga:   Inovasi Kepala Sekolah Mengefektifkan PJJ di Masa Pandemi

Asesmen Nasional menawarkan tiga pola untuk meningkatkan mutu lulusan, yaitu: 1) asesmen kompetensi dasar, 2) survei karakter, dan 3) survei lingkungan belajar. Ketiga pola ini, berfungsi sebagai alat untuk mencapai mutu lulusan unggul. Oleh karena itu,  pelaksanaan Asesmen Nasional, melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, pegawai tata usaha, dan kepala sekolah). Inilah perbedaan mendasar antara Asesmen Nasional dengan Ujian Nasional.

Satu hal yang juga tidak kalah penting pada Asesmen Nasional adalah pilihan peserta didiknya. Khusus di jenjang pendidikan menengah, peserta didik yang dipilih mengikuti Asesmen Nasional hanya yang masih duduk di kelas XI, itu pun jumlahnya terbatas 45 orang.  Pertimbangannya karena peserta didik kelas XI sudah melalui dan mempelajari materi pelajaran dua tingkatan kelas (X dan XI) dan akan mengikuti ujian sekolah di kelas XII.

Hasil Asesmen Nasional sangat baik sebagai bahan evaluasi diri sekolah untuk memperbaiki mutu pembelajaran. Jadi, apabila hasil Asesmen Nasional belum memenuhi capaian yang diharapkan, sedini mungkin guru dapat melakukan campur tangan dalam rangka meningkatkan kemampuan peserta didik yang masih lemah.  Begitu juga kepala sekolah, dapat memperbaiki beberapa penunjang lingkungan belajar yang belum berperan baik.

Barangkali belum banyak yang mengetahui bahwa dalam Asesmen Nasional, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak lagi mengandalkan hafalan, tetapi menekankan pada pemahaman nalar bacaan, analisis sains, serta memaknai model dan grafik matematika. Jadi, pada Asesmen Nasional, semua soal sudah menjurus ke arah berpikir tingkat tinggi peserta didik, yang sebelumnya jarang digunakan oleh pebelajar untuk menguji kemampuannya.

Berdasarkan uraian-uraian tersebut, kiranya dapat memberikan pencerahan kepada pembaca apa Asesmen Nasional itu dan perbedaannya dengan Ujian Nasional. Kita tentu sangat mengharapkan dengan lahirnya Asesmen Nasional, mutu pendidikan mengalami peningkatan yang berarti. Hanya saja, semua ini akan sangat bergantung pada kesiapan sumber daya di sekolah dan insentif pemerintah. Dengan begitu, lulusan sekolah akan semakin bermutu, mampu bersaing dengan negara-negara lain di dunia, dan dapat diterima di dunia kerja. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow