Friday, August 7, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Asesmen Pembelajaran dalam Masa Pandemi

Asesmen Pembelajaran dalam Masa Pandemi

Prof. Dr. Bambang Subali, M.S.
Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Setelah mengikuti beberapa kegiatan webinar yang sebagian kajiannya berkait dengan asesmen hasil belajar pada masa pandemi Covid-19, hal yang paling menarik justru pada permasalahan penilaian afektif, selain permasalahan penilaian kognitif dan psikomotor. Untuk penilaian aspek kognitif, yang menjadi persoalan, seberapa jauh peserta didik, baik di tingkat pendidikan dasar, menengah, ataupun di pendidikan tinggi, mengerjakan sendiri tugas-tugasnya. Misalnya, ketika diberi kuis atau soal untuk dikerjakan atau saat menghasilkan suatu produk, apakah jawaban kuis, soal, ataupun produk yang dihasilkan benar-benar hasil kerja peserta didik yang bersangkutan? Bagaimana pendidik yakin bahwa peserta didik tidak bekerja sama dengan temannya atau dibantu oleh orang lain atau hanya sekadar mencari laporan di internet?

Faktor yang selama ini dipertanyakan adalah masalah kejujuran. Dalam pembelajaran luring, kecurangan dapat ditangkal dengan cara mengawasi peserta didik saat mengerjakan soal. Namun, untuk penyelesaian tugas kelompok atau individu, tidak bisa dilakukan pengendalian, apakah laporan/hasil tugas benar-benar hasil kerja peserta didik yang bersangkutan, terlebih selama diterapkannya pembelajaran daring. Dengan demikian, kejujuran sebagai salah satu aspek afektif ikut mempengaruhi keberhasilan aspek kognitif.



Untuk aspek afektif sendiri, ada dua dimensi, yaitu dimensi yang bersifat umum atau dikenal dengan istilah generic affective dan yang bersifat spesifik atau spesific affective. Generic affective, seperti kejujuran, kedisiplinan, kerajinan, dan ketekunan dapat dicapai dengan mempelajari semua bidang ilmu yang manapun. Sementara itu, specific affective melekat pada konten yang dipelajari, seperti sikap ilmiah, objektif, tidak mudah percaya kepada temuan hasil penelitian, dan kehati-hatian dalam mengumpulkan fakta dan dalam menerima konsep baru. Ini akan berbeda-beda antarbidang kajian.

Permasalahan yang timbul adalah apakah semua aspek afektif itu dapat ditumbuhkembangkan melalui pembelajaran daring? Jika ya, maka dapatkah diamati/diukur agar dapat dilakukan penilaian terhadap keberhasilannya.

Pendidik bisa menilai peserta didik jujur karena dalam pembelajaran luring peserta didik tidak menyontek. Bagaimana dalam hal menyusun laporan terhadap tugas yang harus diselesaikan, apakah benar laporan itu buatan sendiri, apalagi selama pembelajaran daring.

Saya tidak habis pikir, kalau ada pendidik berpendapat bahwa laporan kegiatan luring ataupun daring dibuat dalam bentuk laporan kelompok dengan cara memadukan laporan individual. Pertanyaannya, siapa yang memadukan? Kedua, mengapa harus dibuat laporan kelompok sementara sampai saat ini hal tersebut justru menjadi persoalan yang serius ketika akan menilai setiap individu berdasarkan hasil kerja kelompok?

Penilaian laporan kelompok dari suatu praktikum atau makalah presentasi kelas, tidak dapat dijadikan dasar untuk menilai siapa membuat apa. Akibatnya, seluruh anggota kelompok akan memperoleh nilai yang sama jika yang dinilai hanya didasarkan hasil kerja kelompok. Padahal, dalam penyusunan tugas kelompok, masing-masing anggota memiliki peran berbeda-beda. Hal ini dapat dieliminasi bias penilaiannya dengan menyertakan lembar penilaian antarteman. Atas dasar lembar penilaian teman, akan dapat diidentifikasi siapa mengerjakan apa menurut pernyataan teman dalam kelompok. Ini pun menghadapi kendala manakala semua sepakat untuk menyatakan bahwa semua aspek laporan disusun bersama.

Dalam pembelajaran, faktor kejujuran akan sangat sulit untuk dinilai. Contoh perilaku jujur ditunjukkan oleh seorang pekerja pembersih KRL, yang menemukan uang di dalam kantong sebanyak 500 juta dan kemudian diserahkan kepada pengelola KRL, tidak bisa diterapkan dalam proses pembelajaran. Padahal, itulah contoh indikator kejujuran yang sesungguhnya.

Baca juga:   GpAP Bagikan Paket Sembako untuk Korban Covid-19

Tidak dapat dipungkiri, bahwa persoalan kejujuran sampai detik ini menjadi momok dalam dunia pendidikan. Bahkan, ada tingkat kejujuran yang sangat serius ketika disertasi berupa sontekan dari suatu skripsi. Akibatnya, gelar doktor dapat dicabut ketika diyakini adanya plagiasi di dalamnya. Sekarang pun, karya ilmiah tidak boleh mengandung banyak autoplagiasi.

Ada pula pendidik yang berpendapat bahwa aspek afektif selama kegiatan daring dapat dilakukan dengan menghimpun data melalui observasi. Pertanyaannya, bagaimana cara mendeteksi bahwa kejujuran sudah dilakukan oleh setiap peserta didik selama pembelajaran daring, sementara tadi sudah diuraikan, bahwa dalam pembelajaran luring pun plagiasi bisa saja terjadi.

Mestinya, justru kerja individual itu lebih mudah untuk menetapkan prestasi setiap peserta didik karena hasil belajar yang benar adalah bersifat individual. Jika pembelajarannya berbasis proyek individual, maka diharapkan semua yang dilaporkan masing-masing peserta didik adalah hasil kerja individual. Setidaknya, sudah menghindari kerja kelompok yang dalam pembelajaran luring pun sulit dideteksi peran masing-masing anggotanya.

Kedisiplinan dalam pembelajaran daring pun, bukan menjadi hal yang mudah untuk dinilai. Akibat faktor kelancaran internet, bisa saja peserta didik tidak dapat menyerahkan jawaban kuis/soal/tugas tepat waktu ketika sudah ditetapkan batas waktu pengumpulannya. Ketidaklancaran internet menjadikan peserta didik bukan hanya gagal mengumpulkannya tepat waktu, tetapi juga ketika dihubungi menggunakan HP pun tidak bisa. Setelah mengumpulkan, ada catatan, mohon maaf ada gangguan sinyal.

Tidak dapat dipungkiri bahwa di pendidikan tinggi pun sering terjadi hasil-hasil kerja pembelajaran jarak jauh menjadi sulit dikontrol ketika satu kelas memberikan jawaban yang sama untuk mata kuliah yang dipandang sulit, seperti matematika dan statistika. Hal yang terjadi, dalam satu kelas/rombel, mahasiswa yang dianggap mampu akan mengerjakan terlebih dahulu, kemudian teman lain akan mencontohnya.

Penilaian aspek psikomotorik juga menjadi kendala dalam pembelajaran daring ketika laporannya dibuat secara kelompok. Dosen tidak akan pernah tahu siapa sebetulnya yang melakukan pengukuran/pengamatan saat pengumpulan data. Data hasil pengukuran/pengamatan yang dilaporkan pun tidak ada jaminan bukan data fiktif yang oleh mahasiswa cerdas dapat direkayasa agar mendukung hipotesis yang disusunnya. Oleh karena itu, laporan individual melalui kerja proyek masih dipandang lebih mendukung adanya kinerja yang lebih otentik daripada laporan kelompok, terlebih bila mahasiswa yang bersangkutan diminta menyerahkan rekaman hasil kerjanya.

Perlu diketahui, beberapa keterampilan psikomotor dalam praktikum sebenarnya adalah kemampuan prasyarat yang diperlukan bagi seorang mahasiswa agar dapat memperoleh data yang tepat dan akurat. Keterampilan psikomotor bukan lagi menjadi kemampuan yang harus dinilai karena jika tidak terampil, berarti data yang dihimpun tidak tepat dan akurat, sehingga kesimpulan yang dibuat pun akan tidak sesuai dengan harapan.

Baca juga:   Refleksi Dunia Pendidikan di Masa Pandemi Covid-19

Aktivitas dalam diskusi kelompok sering dijadikan indikasi keaktifan dalam belajar kemompok. Namun, benarkah seorang pendidik dapat memantau semua kelompok jika misalnya satu kelas dibagi menjadi 8 kelompok dengan anggota masing-masing 5 orang? Ketika pendidik sedang asyik mengamati kelompok yang satu, sudah secara otomatis mengabaikan aktivitas diskusi kelompok lain. Hanya penilaian antarteman, juga jurnal penilaian diri, yang berisi laporan dalam kegiatan diskusi saja yang dapat membantu memperoleh data penilaian. Kembali lagi, itupun kalau peserta didik jujur dalam mengisinya. Akhirnya tidak dapat dipungkiri bahwa strategi asesmen dalam pembelajaran luring pun tidak dapat mulus seperti yang dibayangkan, apalagi dalam pembelajaran daring. (*)

6 KOMENTAR

  1. Betul prof, minta sarannya utk assasment saat pembelajaran daring dan mensiasati penilaian scra kelompok saat luring agar adil dan obyektif. Terima kasih utk ilmunya

  2. Matur agunging panuwun, prof.. Sangat mencerahkan, prof..
    Sehingga kalo menurut simpulan saya, dalam melakukan asesmen pembelajaran daring (khususnya aspek kognitif dan psikomotor) , masih lebih efektif jika dilakukan secara individu nggih, prof? Karena setidaknya itu merupakan hasil pekerjaan siswa, tanpa perlu mengindentifikasi “siswa mana yang mengerjakan” seperti dalam tugas kelompok.. Juga mengingat terkadang penilaian antar teman pun juga bukan solusi yang efektif jika siswa sudah saling bekerja sama untuk memberikan penilaian terbaik. Mohon koreksinya, prof 🙏🙏

  3. Ternyata yang paling esensial adalah cara mengembangkan kejujuran dalam diri seseorang/siswa, yaitu bagaimana caranya supaya bisa.mengontrol diri-sendiri. Secara relijius, cara supaya seseorang/siswa merasa selalu diawasi oleh Tuhan, Allah swt.
    Menurut informasi, SEKOLAH INSAN CENDEKIA di bawah Depag telah berhasil mengembangkan kejujuran melalui penguatan akidah/keyakinan agama.

  4. Benar Mbak Elvara, krn kerja kelompok ataupun diskusi kelompok dalam pembelajaran luring pun peran individu sulit dipantau apalagi daring. Justru individual project lebih ideal daripada group project.

    Benar Pak Dim bahwa kejujuran kunci dari semua hal. Permasalahannya semakin cerdas semakin pintar menutupi kebohongannya sehingga bisa saja seseorang tampak alim di depan pasanganya padahal di luar siapa tahu berselingkuh maka kejujuran kunci dari iman. Contoh perbuatan menyerahkan uang 500juta yang ditemukan pembersih KRL dapat diterapkan setara dengan murid kerja sendiri apapun hasilnya. Bisa dilihat banyak guru/dosen gagal memperoleh sertifikasi jabatan karena dalam membuat portofolio meniru bahkan menjiplak milik guru/dosen lain. Menganggap remeh/biasa melakukan tindakan bohong kecil-kecilan yang dianggapnya tidak berdosa bahkan sebagian orang tua membantu menyelesaikan tugas yg seharusnya dikerjakan sendiri oleh anak merupakan perbuatan orang tua mengajari anak berbohong.

  5. Mas Surya n Mbak Arie kerja kelompok dalam luring saja sulit apa lagi daring maka pembelajarannya project based learning dan penilaiannya individual. project based testing

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,023FansLike
37FollowersFollow