Monday, October 25, 2021
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerBahasa dalam Konsep Ekor

Bahasa dalam Konsep Ekor

Studi Berita Surat Kabar di Masa Pandemi Covid-19

Nizamuddin Sadiq, M.Hum.
Ph.D. Candidate University of Southampton (UK), Dosen Pendidikan Bahasa Inggris UII, dan Alumni Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Bahasa adalah kalimat. Demikian, Prof. Gunawan membuat definisi bahasa secara stipulatif. Singkat. Padat. Jelas. Maksudnya, apa yang dikomunikasikan manusia dalam bentuk lisan atau tertulis wujudnya adalah kalimat. Entah itu kalimat lengkap atau tidak, entah itu formal atau non-formal. Entah itu pernyataan, pertanyaan, atau bahkan menegasikan, semua itu adalah kalimat.

Orang boleh saja setuju atau tidak dengan definisi tersebut. Namun demikian, dengan kalimat manusia terbukti mampu menyampaikan ide, gagasan, dan buah pikirannya. Bahkan, jika kalimat itu dirangkai sedemikian rupa, jadilah ia sebentuk narasi yang dapat menjadi inspirasi bagi manusia dalam membangun peradabannya.



Sebagaimana adagium bahasa menunjukkan bangsa, maka kalimat pun menunjukkan budaya suatu bangsa. Oleh karena itu, bangsa yang beradab akan tercermin dari bagaimana bahasa atau kalimat itu berkembang, dipergunakan, dan dihargai dalam kehidupan sosial kemasyarakatan mereka. Pendek kata, peradaban suatu bangsa tercermin dari bagaimana penutur bahasa atau kalimat tersebut menggunakannya secara bijaksana dalam tindak tutur komunikasinya.

Surat kabar sebagai penyambung lidah rakyat banyak menggunakan kalimat dalam mengkespresikan berita. Umumnya ekspresi tersebut tercermin dari judul beritanya. Nah, dari judul berita di surat kabar itulah akan kita tangkap pesan tersembunyi yang dibawanya. Oleh karena itu, artikel ini akan melihat bagaimana pesan yang diekspresikan masyarakat atau mungkin negara dalam suatu pemberitaan melalui sudut pandang atau konsep ekor binatang.

Ekor merupakan untai pada ujung bagian belakang tubuh binatang. Ia tidak saja diciptakan untuk melengkapi organ tubuhnya, tetapi juga berfungsi unik bagi hidupnya.

Mari kita lihat keunikan fungsi ekor pada binatang berikut ini. Ekor kucing dan tupai berfungsi sebagai penjaga keseimbangan. Saat kucing berjalan meniti pagar, ekornya akan menjadi penyeimbang. Demikian juga tupai, saat ia melintasi cabang pohon atau kabel telepon, ekornya berfungsi sebagai peyeimbang.

Lihatlah contoh judul berita ini: BPJS: Negara Hadir dalam Penyesuaian Iuran BPJS Kesehatan. Ini adalah pernyataan BPJS mewakili pemerintah. Mereka berdalih bahwa kenaikan iuran BPJS menunjukkan bahwa negara hadir dalam meningkatkan jaminan kesehatan masyarakat. Nah sebagai bentuk penyeimbang maka hadir pula berita lain, seperti: Netty: Kebijakan Kenaikan Premi BPJS Mencederai Kemanusiaan atau Din Nilai Kenaikan Iuran BPJS Saat Pandemi adalah Kezaliman.

Dalam dunia jurnalistik, prinsip yang terkait dengan perwujudan bahasa atau kalimat dari konsepsi ekor sebagai penyeimbang adalah cover both sides. Penyajian berita harus seimbang antara pihak-pihak yang diberitakan. Tidak boleh hanya meng-cover satu pihak saja. Mengambil rujukan dari salah satu sumber saja menjadikan berita tersebut menciderai prinsip keseimbangan.

Selanjutnya, pada beberapa jenis binatang menyusui yang memanjat, adakalanya mereka memiliki ekor panjang yang berfungsi untuk menyangkutkan tubuhnya. Bahasa atau kalimat pada contoh berita berikut ini: MUI dan DMI Jakarta Keluarkan Seruan soal Takbiran dan Salat Ied atau Muhammadiyah: Sholat Id di Lapangan dan Masjid Ditiadakan merupakan rujukan atau cantolan bagi masyarakat yang akan merayakan Idulfitri beberapa hari ke depan.

Pada berita pertama belum ada kejelasan karena pilihan katanya adalah seruan, boleh atau tidaknya dapat diketahui dengan membaca isi beritanya. Namun, pada berita kedua, tanpa harus membaca isi beritanya, pembaca sudah memiliki kepastian bahwa Persyarikatan Muhammadiyah tidak akan menyelenggarakan sholat ied baik di Masjid maupun di lapangan. Dengan membaca berita ini, pembaca akan memiliki keyakinan yang tinggi terhadap pilihan keputusannya. Dengan kata lain, ia semakin memiliki cantolan atau referensi bagaimana melaksanakan sholat ied yang akan datang.

Baca juga:   Romantika Meraih Gelar Doktor Luar Negeri

Kemudian, ekor juga berfungsi sebagai bentuk pertahanan diri. Kadal misalnya, ia memutuskan ekornya sebagai bentuk fatamorgana untuk mengelabui musuhnya. Meski ekornya putus, sesungguhnya kadal mampu mempertahankan dirinya untuk tetap hidup. Konsepsi bahasa yang selaras dengan ini adalah perilaku win-win solution. Ada bagian yang mesti direlakan hilang tetapi juga ada bagian yang dapat dinikmati.

Lihatlah contoh berita ini: Karyawan BUMN Boleh “Ngantor” Lagi 25 Mei, Ini Kebijakan Telkomsel. Dari judul itu saja sudah tertangkap makna mempertahankan diri lewat kata kebijakan. Di tengah pandemi yang masih berlangsung, ada kebijakan-kebijakan perusahaan yang harus ditaati. Di satu pihak terpaksa harus kembali bekerja, tetapi di pihak lain ada way out, semacam jalan keluar agar terhindar dari Covid 19.

Fungsi ekor yang lain adalah sebagai penanda bagi anak-anaknya agar tidak tersesat. Umumnya ekor citah berfungsi seperti ini. Bahasa juga mampu berfungsi sebagai penanda atau pengenal bagi anggota masyarakat penuturnya. Setidaknya, dengan adanya penanda tersebut, orang semakin memahami konteks kalimat tersebut.

Perhatikan berita yang berjudul: Anies Baswedan Bans Jakartans to Go ‘Local Mudik’. Dengan memperhatikan ujung kalimat yang berbunyi “local mudik”, pembaca akan terbawa kepada konteks ke-Indonesia-an. Karena kata mudik teramat dekat dengan kultur masyarakat Indonesia. Kemudian, pembaca juga akan memainkan meta-kognisi-nya kepada kegiatan mudik yang sifatnya lokal. Jika terkait dengan konsep lokal, maka asosiasi pembaca akan terhubung kepada kota-kota satelit sekitar Jakarta. Tentu saja Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (bodetabek).

Tak kalah menariknya adalah beberapa binatang menggunakan ekornya seperti syal sewaktu tidur sehingga membuat tubuh mereka tetap hangat. Perilaku bahasa pun mampu memfungsikan perannya sebagai penghangat dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Seorang sahabat tentu akan menghibur temannya yang sedang kesusahan dengan kata-kata yang menyejukkan; demikian pula seorang ibu akan mengucapkan kata-kata yang lembut ketika sedang menasihati anak-anaknya.

Dalam konteks berita, artikel-artikel yang terkait dengan Ramadan masuk dalam ketegori ini, misalya, Tangisan Seorang Hamba yang akan Mengantarkannya ke Surga. Tulisan ini tentu saja menyejukkan sekaligus menghangatkan. Menyejukkan karena ada banyak jalan menuju surga dan menghangatkan jiwa karena tetesan air mata dapat mengetuk pintu surga.

Akhirnya, bagi beberapa binatang, ekornya berfungsi sebagai senjata untuk mematikan musuhnya, sebutlah buaya dan komodo. Keduanya memiliki ekor yang sangat kuat. Apabila terkena sabetan ekor keduanya dipastikan musuh menjadi tidak berdaya. Perilaku bahasa ini biasanya disampaikan oleh para penguasa atau pelaku-pelaku politik untuk saling menjatuhkan atau berebut opini masyarakat.

Dalam konteks ini, bahasa dijadikan alat untuk menghabisi musuh politiknya atau melanggengkan kekuasaannya. Contoh berita yang terjadi di India: Pengadilan India Larang Adzan dengan Pengeras Suara, menunjukkan bahwa kekuasaan dapat melakukan apa saja. Dalih bisa dicari, alasan dapat di buat. Begitu kuatnya pengaruh bahasa kekuasaan sehingga dapat melakukan apa saja.

Masih banyak lagi fungsi-fungsi ekor lainnya, baik corak dan ragamnya. Demikian pula perilaku bahasa yang se-resonansi dengan konsep ekor binatang. Semakin heterogen suatu masyarakat akan semakin banyak pula variasi konsep bahasa yang ada. Sama seperti ekor, ia bisa menjadi berdaya guna atau berdaya rusak. Tinggal kita memilih, perilaku bahasa macam apa yang akan kita pilih. Menyejukkan atau menindas. Pilihan itu ada pada diri kita masing-masing. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
59FollowersFollow