Friday, September 17, 2021
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerBelajar Bermakna di Masa Pandemi Covid-19

Belajar Bermakna di Masa Pandemi Covid-19

Junaidin
Mahasiswa Doktoral Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta dan Widyaiswara LPMP Kalimantan Tengah

Suyanto.id–Meskipun jumlah kasus postif Covid-19 terus meningkat dari hari ke hari (Baca: Statistik Perkembangan Covid-19), menyelamatkan generasi millenial harus terus dijamin keberlangsungannya. Mengapa? Sebagai anak bangsa, kita tidak boleh kalah dengan musibah ini. Ujian Tuhan ini selalu ada hikmahnya. Bukankah Tuhan menyatakan bahwa “tidak ada satu pun kejadian di muka bumi ini tanpa hikmah?”

Sebagai warga bumi, berusaha untuk terus hidup adalah jalan terbaik untuk bangkit. Berdirilah hingga langit terbelah dan bumi beserta isinya hancur berantakan pada waktunya. Sikap optimis adalah salah satu karakter kuat penghuni bumi yang percaya ada kehidupan abadi setelah kehidupan dunia yang fana ini.



Sebagai akibat dari wabah ini, pemerintah pusat dan daerah terus berupaya mendorong tumbuhnya partisipasi warga dalam menerapkan sejumlah kebijakan yang diharapkan efektif meminimalisasi meningkatnya jumlah orang yang terpapar Covid-19. Kemdikbud sendiri mengawalinya dengan kebijakan Belajar dari Rumah serta Social dan Physical Distancing. Kemdikbud memiliki tanggungjawab yang tinggi dalam mengatasi wabah ini karena warga belajarnya berjumlah banyak, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Azzahra, A. F. (2020) mencatat bahwa  sekitar 45 juta siswa tidak dapat melanjutkan kegiatan belajar mereka di sekolah.

Untuk menyelamatkan puluhan juta anak, telah digunakan berbagai teknologi berbasis internet untuk menjamin tetap terselenggaranya proses pembelajaran. Beberapa hasil monitoring dan evaluasi terlaporkan bahwa penggunakan media belajar berbasis internet yang beragam telah hampir merata, meskipun belum ada hasil riset yang menjelaskan mutu proses dan hasil belajarnya. Padahal, hasil belajar haruslah bermakna (Ausubel, D. P., 1982). Hasil belajar sendiri terbagi menjadi tiga macam, yaitu tiada aktivitas belajar, belajar menghafal, dan belajar yang bermakna (Anderson, L. W, & Krathwohl, D. R., 2015).

Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa (Rohmah, N., 2013). Belajar bermakna menghadirkan pengetahuan dan proses-proses kognitif yang siswa butuhkan untuk menyelesaikan masalah. Penyelesaian masalah terjadi ketika siswa menggagas cara untuk mencapai tujuan yang belum pernah dia capai, yakni mengerti bagaimana cara mengubah keadaan menjadi keadaan yang diinginkan (Duncker, 1945; Mayer, 1992). Belajar pun harus joyfull, dan hal ini akan terlihat ketika anak dapat menemukan dan/atau menyelesaikan masalahnya sendiri hingga menyatakan ‘Yes, aku bisa!’, bukan belajar sambil bermain tanpa makna (Suyanto, 2019).

Baca juga:   Menyoal Pelaksanaan AKM dan SK pada Masa Pandemi

Penggunaan Pertanyaan HOTS

Mencermati sejumlah tugas berupa pemberian soal yang diterima oleh beberapa anak selama masa Belajar dari Rumah (BDR) melalui WhatsApp dan Google Classroom khususnya, serta sejumlah keluhan orang tua terhadap tugas anaknya selama BDR yang kurang menantang hingga anak dapat menyelesaikannya lebih cepat, bahkan lebih cepat dari waktu sholat wajib, patut ditanggapi. Mengingat keberlangsungannya dikhawatirkan akan  terus-menerus terjadi, maka ada baiknya kita kembali belajar memahami cara menyusun pertanyaan yang mendorong dan membudayakan siswa berpikir tingkat tinggi (HOTS).

Dalam Taxonomi Bloom, ada enam dimensi proses pembentukan kognitif, dimulai dari level yang paling rendah sampai tinggi, yaitu mengingat, memahami, menerapan, menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Pertanyaan yang menuntut “menghafal” digolongkan sebagai pertanyaan tinkat rendah. Pertanyaan yang menuntut berpikir “memahami dan menerapkan” digolongkan sebagai pertanyaan tingkat sedang. Adapun pertanyaan yang menuntut “menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan” digolongkan sebagai pertanyaan tingkat tinggi.

Baca juga:   Implementasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Soal-soal yang dibuat dalam kategori menganalisis dicirikan dengan adanya penyataan yang memicu siswa untuk berpikir menghubung-hubungkan dan mengurai. Soal-soal yang menuntut anak dapat mengevaluasi dicirikan oleh adanya pernyataan yang memicu anak untuk membandingkan sesuatu dengan kriteria tertentu, kemudian menetapkan bahwa sesuatu itu baik/tidak baik, tepat/tidak tepat, dan sebagainya sesuai dengan kriteria yang dipakai. Adapun jika menghendaki anak dapat menciptakan/mengkreasi sesuatu, maka harus ada pernyataan yang dapat memicu anak untuk membangun/membentuk gagasan baru (Kemdikbud, 2016).

Sebagai contoh digunakan tema “puasa”. Soal menganalisis dapat ditanyakan, “Tulis dua macam puasa, bandingkan, lalu jelaskan hasil perbandinganmu!” Soal mengevaluasi dapat ditanyakan, “Jika kamu ingin berpuasa, puasa apa yang ingin kamu lakukan? Sebutkan! Tuliskan paling sedikit tiga alasanmu!” Terakhir, soal menciptakan dapat ditanyakan, “Buatkan daftar manfaat puasa bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, ceritakan dalam tiga kalimat pengalamanmu dalam mewujudkan manfaat puasa bagi masyarakat sekitarmu!”

Semoga bermanfaat, selamat berpuasa, dan jangan lupa bayar zakat fitrah, ya. (*)

spot_img

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pak Senam yang Saya Kenal

Growth Mindset dalam Pembelajaran Daring

Wanita Kebaya

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Growth Mindset dalam Pembelajaran Daring

Wanita Kebaya

Pak Senam yang Saya Kenal

1,166FansLike
57FollowersFollow