Sunday, November 1, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Belajar Tuntas Berkualitas dalam Kondisi Terbatas

Belajar Tuntas Berkualitas dalam Kondisi Terbatas

Didik Suhardi, Ph.D.
Direktur PSMP Kemdiknas (2008–2015) dan Sekretaris Jenderal Kemdikbud (2015–2019)

Suyanto.id–Pendidikan adalah sebuah urusan yang tidak boleh berhenti dalam kondisi apa pun. Pandemi Covid-19 pun tidak bisa menghentikan layanan pendidikan bagi seluruh anak Indonesia di mana pun mereka berada. Berbagai cara dan metode dicari dan diciptakan agar layanan pendidikan tetap berjalan menemani anak-anak belajar di rumah.

Kita menyadari, kondisi belajar di rumah memang tidak ideal. Perangkat pembelajarannya masih terbatas, orang tua tidak pernah dipersiapkan untuk menjadi pendidik kedua di rumah. Suasana belajar juga berbeda karena interaksi antarpendidik dan siswa kurang optimal. Dengan kondisi ini, interaksi antarsiswa dengan siswa lain juga tidak berjalan. Semuanya berlangsung dengan kondisi yang sangat terbatas. Bahkan, di beberapa daerah, belajar di rumah tidak ada bedanya dengan libur sekolah. Ini juga disampaikan oleh Prof. Suyanto, Ph.D. pada tulisan sebelumnya.



Dengan kondisi proses belajar-mengajar demikian sulit, diharapkan anak-anak mencapai Kriteria Ketentuan Minimal (KKM) sesuai standar yang ditetapkan pemerintah agar mereka bisa mengikuti pelajaran, kurikulum, dan satuan pendidikan di atasnya. Sangat dipahami hasilnya demikian karena hampir semua indikator proses peningkatan mutu tidak bisa dilaksanakan secara optimal.

Kita berdoa semoga pandemi Covid-19 segera berakhir. Jika tidak, kita perlu menerapkan pola pembelajaran baru. Dengan asumsi tahun ajaran baru tetap dimulai pertengahan bulan Juli 2020, harapannya kondisi sudah mulai normal kembali. Insyaallah.

Apa yang harus dilakukan agar para siswa siap belajar mengikuti kurikulum dan satuan pendidikan di atasnya secara lancar dengan kualitas yang baik?

Tentu, para kepala dinas dan kepala sekolah sedang memutar otak menyusun strategi bagaimana agar kualitas pendidikan di daerahnya tidak turun. Penurunan kualitas pendidikan berarti akan terjadi lost generation, di mana pada tahun tertentu kualitas sumber daya manusia (SDM) turun. Tentu kejadian ini tidak diinginkan dan kita harus mencari jalan keluar agar kualitas SDM kita tetap baik.

Lost generation bukan berarti hilangnya satu generasi, tetapi terjadi suatu kondisi di mana pada tahun tertentu kualitas SDM turun disebabkan proses belajar tidak optimal. Ketidakoptimalan ini menyebabkan hasil lulusannya tidak maksimal. Sekali lagi, ini tidak boleh terjadi dan harus dihindari.

Strategi apa yang bisa kita lakukan pada tahun ajaran baru nanti?

Salah satu strategi pembelajaran yang bisa dipilih adalah melakukan bridging course (matrikulasi) dengan waktu yang lebih panjang dari biasanya. Matrikulasi ini tidak menambah waktu tahun akademik yang sudah ditentukan pemerintah, yaitu mulai pertengahan bulan Juli. Akan tetapi, memanfaatkan waktu yang ada untuk menyiapkan para siswa agar siap belajar kurikulum yang diajarkan atau belajar di satuan pendidikan di atasnya.

Bagaimana caranya? Tentu para kepala dinas dan kepala sekolah yang paling tahu mengatur waktu sehingga para siswa betul-betul siap. Bapak-ibu guru bisa memanfaatkan “Rumah Belajar” untuk memantapkan prerequisite knowledge sehingga para siswa sudah siap belajar di kelasnya. Bahan ajar dan strategi pembelajaran bervariasi dengan semangat merdeka belajar dan guru penggerak.

Baca juga:   Covid-19, Culture Shock di Sekolah dan Pesantren

Sekolah juga bisa menggunakan materi remedial yang disusun oleh para guru di daerahnya masing-masing, bisa juga menggunakan materi ujian sekolah atau Ujian Nasional tahun-tahun sebelumnya. Oleh karena kondisi learning from home di setiap daerah belum ada petanya, tidak ada pula peta kualitas hasil pembelajaran di setiap wilayah. Berapa lama matrikulasi akan dilakukan di setiap sekolah, diserahkan sepenuhnya kepada dinas pendidikan dan satuan pendidikan.

Matrikulasi dipandang sebagai salah satu strategi paling efektif dan efisien yang bisa dilakukan di sekolah daripada menambah waktu belajar satu semester untuk menutupi kekurangan waktu belajar dan peningkatan standar kualitas lulusan sesuai kurikulum nasional. Kalau menambah satu semester, tentu membutuhkan biaya yang sangat mahal. Kalau menggunakan asumsi anggaran dari BOS saja, perlu anggaran kurang lebih 30 trilun untuk tambahan waktu satu semester.

Apakah ini tidak memaksa siswa dan guru untuk bekerja lebih keras? Tentu iya, karena dengan waktu yang sudah ditentukan dalam satu semester, sekolah dituntut untuk menyusun strategi pembelajaran dengan baik. Di sinilah makna “merdeka belajar” dan “guru penggerak” bisa dioptimalkan untuk mencapai standar kualitas yang diharapkan. Tentu, suasana belajar yang menyenangkan dan berpusat pada siswa tetap harus dijaga.

Apakah perlu semua sekolah melakukan matrikulasi? Jawabanya bergantung kondisi siswa. Menurut saya, untuk sekolah-sekolah yang kualitasnya masih di bawah rata-rata, matrikulasi mutlak dilakukan. Proses belajar-mengajar akan tersendat kalau matrikulasi tidak dilakukan karena para siswa belum siap belajar kurikulum kelas di atasnya.

Ini juga sekaligus merupakan kesempatan untuk melaksanakan Full Day School sehingga waktu belajar di sekolah bisa ditambah sampai habis shalat asar. Full Day menjadi jalan keluar agar para siswa tetap mendapat layanan maksimal.

Perlu kerja keras semua pihak terutama para pengambil kebijakan, kepala daerah, anggota legislatif, termasuk para pengawas dan pemerhati pendidikan untuk memastikan penyiapan Generasi Emas Indonesia tetap konsisten dan berjalan sesuai arah peningkatan SDM yang diharapkan.

Bagaimanapun pendidikan merupakan komponen yang sangat penting dalam membangun negara demokrasi yang semakin baik. Seorang ahli mengatakan, “Democracy is the function of well inform society. Well inform society is the function of education”. Jadi, demokrasi di Indonesia akan berjalan semakin baik dan berkualitas apabila pendidikan masyarakatnya juga semakin baik dan berkualitas. Pendidikan yang berkualitas dan berkarakter menjadi penentu kesuksesan pelaksanaan demokrasi di Indonesia. (*)

14 KOMENTAR

  1. Setuju dengan gagasan Prof, akan tetapi ada kesulitan dalam penerapan di daerah, apalagi daerah 3T yang tentu kualitas pendidikan sudah tertinggal, namun apapun alasannya hal tersebut harus dilakukan karena kita tidak ingin Indonesia semakin tertinggal dengan negara-negara lainnya, kita harus berbuat demi anak bangsa menyongsong Generasi Emas Indonesia. Negara lainpun tentu mengalami hal yang sama disaat pandemi covid 19 ini, oleh karena itu kita harus berbuat dan bergerak, kita tidak boleh terlena untuk melakukan inovasi dan kreatifitas pendidikan yang lebih baik. Elbadiansyah (IKIP PGRI Kaltim)

  2. Covid 19 menjadi biang keroknya
    Tetapi
    Covid 19 hanyalah menyerang orang yang rentan (orang yg sudah tua dan orang yg masih anak).
    Anak usia SD s/d Mahasiswa adalah orang dg usia IMUN yg kuat
    Asalkan disiplin mematuhi protokol kesehatan, tidak akan terlalu dilawatirkan.
    Yg ingin saya katakan Proses belajar mengajar bisa dilaksanakan dg normal tetapi dg kehidupan baru NEW NORMAL yaitu menjaga disiplin yang dilaksanakan dengan sadar oleh semua

  3. Setuju sekali. Kita tetap melakukan kegiatan pembelajaran.krna siswa jg sdh bosan di rumah.mereka ingin belajar bersama guru2nya kembali.
    Lebih efektifnya buat sesie pertemuan untuk beberapa siswa.mohon ini jg menjadi kebijakan dinas di tiap kab .kota di indonesia.
    Harapan kami mari kita belajar kembali bersama siswa.

    • Saya kira dinas memang harus kerja keras mencari berbagai metode agar anak2 tetap semangatvutk belajar. Salah satunya bisa memanfaatkan radio pemerintah daerah atau tv daerah utk me relay siaran2 yg ada kaitannyabdengan pendidikan

  4. Jika memang program belajar masih berlanjut di semester baru ini maka kami usul kemendikbud membuat kebijakan yg membantu siswa dan orang tua siswa al.:
    1. Dana BOS ada alokasi untuk pembelian Ipad untuk siswa sebagai sarana belajar dirumah
    2. Bantuan pulsa bagi siswa
    3. Pemerataan jaringan internet disemua lokasi
    4. Pertemuan berkala untuk Guru dan siswa dalam rangka evaluasi pembelajaran dan pengumpulan tugas utamanya untuk materi UN

    • Sebaiknya dana bos sebagian bisa digunakan untuk mengadakan Ipad dan menghimbau orang tua yang mampu utk membeli Ipad utk putra putri. Tidak mungkin semua dibebankan pada sekolah. Pada saat Mendikbud Prof Muhadjir, dana bos kinerja dan afirmasi digunakan untuk mengadakan Ipad.

  5. Saya sangat setuju dengan gagasan Prof Didik Suhardi menyebut istilah Matrikulasi. Menurut saya hal tersebut sangat rasional, karena selama covid 19 ini proses pembelajaran yang dijalankan sangat jauh dari standar yang ditetapkan. Matrikulasi perlu dilakukan di seluruh sekolah di Indonesia sebagai kegiatan awal semester ganjil tahun pelajaran 2020/2021.
    Usulan saya apabila kegiatan matrikulasi tersebut menjadi agenda yang akan di lakukan sebagai bagian kegiatan di awal tahun maka pemberlakuannya perlu didukung dengan sebuah aturan dan petunjuk teknis agar bisa dengan mudah dijalankan oleh sekolah. Matrikulisi dilakukan disemua jenjang, bagi peserta didik baru di sekolah barunya dan juga peserta didik lama yang naik tingkat di sekolahnya. Sehingga kepala sekolah dan pembantu kepala sekolah dan dewan guru menyusun materi yang akan diberikan dan durasi waktu masing-masing mata pelajaran yang diperlukan dalam menjalankan kegiatan matrikulasi tersebut. Dalam pelaksanaanya juga melibatkan pengawas untuk bisa melakukan pemantuan, dan pendampingan di sekolah binaannya.

    • Terima kasih pak Mul, pemberlakuan di sekolah negeri memang perlu birokrasi lebih banyak karena terkait dengan kepengawasan dll. Bagi sekolah swasta lebih mudah bergerak karena bisa langsung diputuskan yayasan dan pengelola sekolah. Semoga kita bisa tetap memberikan pendidikan kualitas terbaik bagi generasi Emas Indonesia. Sehat dan sukses selalu

  6. Lost generation … tampaknya itu yg akan terjadi dan hrs lapang dada kits terima jika itu terjadi shg bisa bangkit kembali dengan pijakan yg pasti. Jika tak bisa terima itu tentu semua akn membuat ’Karangan Mutu Pendidikan’ yg mutu pendidikan di sekolah atau daerah tidak rendah, semua baik-baik saja. Kebetulan alat ukurnya juga tak ada templatenya, yg ada semau guru dan bebas membuat alat ukur dan juga materi yg diukur.
    Belajar di rumah, benarkah itu terjadi? Jika ya berapa persen? Jika benar ada daring sejauh manakah yg didaringkan, sesuai kurikulum atau materi yg pantas didaringkan saja? Bagi siswa dan dukungan ortu juga kesiapan kemampuan guru sejauh mana? Belum lagi dukungan signal bagaimana? Lemotkah? Ada biaya buat itu?
    Saya yakin belajar di runah di sini tak lebih 50% yg melaksanakan itu dengan baik dan lancar dan sisanya ya libur di rumah atau bantuin ortu berkebun dsb. Karena itulah lost generation tsb tampak sdh ada di depan mata.
    Ada beberapa guru hebat di perkotaan sdh lakukan ‘Mengajar dari rumah’ tuntu tak semua guru hebat. Ada pula guru penggerak di daerah 3T yg mendatangi siswanya secara periodik yg dikumpulkan di suatu tempat yg berdekatan dgn rumahnya para siswa u/PBMnya krn alasan di atas. Suatu pertanyaan berapa kali dan sampai kapan itu mampu dilakukan? Yg pasti materinya tentu hanya berapa persen saja dari rencana sesuai kurikulumnya. Dari kondisi itu siswa dituntut untuk siap kenerima materi di jenjang atasnya. Siapkah anak2 tersebut?
    Itu semua perlu didatakan dengan cernat dan riil, namun itu sangat sulit juga karena banyak orang yg tak suka data yg riil wlp pada akhirnya ada data entah dari mana asalnya.

    • Indonesia sangat luas, jawa saja masih banyak yg tidak bisa akses internet. Apalagi daerahnya cak jarwoto di NTT, bisa dibayangkan. Learning from home sama dengan libur. Mari kita sama2 semangati dimanapun anak2 tinggal mereka harus mendapatkan layanan pendidikan yang terbaik

  7. Tulisannya sudah sangat lengkap.
    Mungkin untuk pembelajaran jarak jauhnya bisa ditambahkan dengan memanfaatkan artificial intellegence (AI) dan Cybersecurity Data Science (SCDS), akan makin mantap, pa.
    Sukses selalu dan terus berkarya.

    • Tks pak maman, betul, penggunaan teknologi suatu keharusan. Penggunaan media akan meningkatkan daya serap siswa dalam memahami materi yang diajarkan. Sehat dan sukses selalu pak maman

  8. Ulasan yang sangat menarik pak Didik. Hal ini juga menjadi motivasi bagi guru untuk merancang pola pembelajaran dengan metode yang sangat sederhana. Kalau kami di NTT, Kota kupang yang merupakan barometer provinsi itupun masih mengalami banyak kendala apalagi yang jauh dari jangkauan listrik dan jaringan internet. Tapi paling tidak ada upaya maksimal yang di lakukan oleh para guru hebat demi memberikan layanan pendidkan dan pembelajaran bagi peserta didik dan tercapainya konsep PJJ baik luring maupun daring.

    • Ya bu nia, tks komennya, apapun kondisinya siswa2 kita harus mendapat layanan pendidikannya. Saya faham kondisi daerah karena hampir 37 tahun saya sering kr kapangan. Semoga bu nia dan teman2 selalu semangat dan bisa memberi inspirasi bagu anak2 kita. Sehat dan sukses selalu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pendidikan yang Memerdekakan

Puisi Pemuda

Udan Sore

3

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,044FansLike
44FollowersFollow
Baca juga:   Rekayasa Pembelajaran: Pendididikan yang Memartabatkan Kehidupan