Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah Populer"Bullying" Pornografi

“Bullying” Pornografi

Prof. Suyanto, Ph.D.
(Guru Besar FE Universitas Negeri Yogyakarta)

BARU-baru ini media massa digital, elektronik, dan cetak ramai-ramai memberitakan bencana moral korban “bullying” di salah satu Sekolah Menengah Pertama di Jakarta. Sebuah vedio adegan mesum “tingkat tinggi” yang dilakukan sepasang siswa-siswi sekolah tersebut, FP dan AE, telah beredar melalui You Yube, BB dan HP. Adegan mereka terjadi di ruang kelas kosong setelah mata pelajaran usai. Anehnya, adegan amat sangat tabu itu rame-rame ditonton dan direkam oleh kawan-kawan mereka dengan menggunakan smart phone. Kelihatanya para pelaku “bullying” gembira melihat kekerasan seksual terhadap siswi AE itu. Itulah ciri khas orang yang melakukan “bullying”, selalu senang memaksakan kehendak kepada orang lain (korban) untuk melakukan sesuatu (fisik, maupun psikologis) yang bukan atas kehendaknya sendiri demi keuntungan dan kegembiraan pelaku “bullying”. “Bullying” bisa terjadi karena adanya empat unsur penting: (1) ketidakseimbangan kekuatan (imbalance power), (2) keinginan untuk mencederai orang lain (desire to hurt), (3) ancaman agresi berkelanjutan secara berulang-ulang, dan (4) teror mental maupun fisik.

Adegan “bullying” pornografi mereka itu menghentak hati dan pikiran kita semua, dan sekaligus sangat memprihatinkan bagi pendidik, orangtua, sekolah, tokoh agama, dan pemerintah. Perilaku menyimpang para pelaku “bullying” pornografi itu sungguh menjadikan kita semua mau tidak mau harus merefleksikan diri dan bertanya apa sebenarnya yang salah pada sistem kehidupan kita baik di bidang pendidikan, pemerintahan, dan juga sistem sosial politik dan budaya yang menjadi konteks bagi tumbuhkembangnya kehidupan anak-anak kita. Siapa sebenarnya yang mereka tiru? Apakah para pemimpin? Para politisi? Ataukah para pelaku “bullying” itu mencoba meniru artis yang membuat berita di seputar adegan porno beberapa tahun lalu? Dari sisi pemerintah juga sudah mengundangkan undang-undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi. Pasal pencegahannya juga dirumuskan jelas. Dalam Pasal 17 ditegaskan: “Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib melakukan pencegahan pembuatan, penyebarluasan, dan penggunaan pornografi”. Pertanyaannya, mengapa pornografi di kalangan pelajar di berbagai kota tetap saja muncul? Bisakah ini diartikan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah belum berhasil menyosialisasikan UU Prnografi? Itulah pentingnya bagi semua fihak untuk melakukan refleksi terhadap setiap ada kejadian pornografi di kalangan pelajar kita, dilihat dari kacamata UU dan hukum yang berlaku. Mungkin yang salah kita semua yang gagal menyosialisasikan UU itu di kalangan para pelajar, sehingga mereka masih juga melakukan “bullying” pornografi.

Baca juga:   Sertifikasi Guru

Kejadian adegan “bullying” mesum di kalangan pelajar berikut dampak ikutannya berupa penyebarluasan video-nya di dunia maya, sungguh hal ini juga menjadi batu uji yang sangat kritis terhadap Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa yang telah dicanangkan tiga tahun lalu. Gerakan ini mewajibkan semua kementerian dan lembaga pemerintah untuk melakukan pembangunan karakter di lingkungannya masing-masing. Kemudian pada gilirannya, dari Gerakan Nasional ini, telah dirumuskan pula prgram nasional pendidikan karakter di semua jenjang pendidikan kita. Bahkan dalam Kurikulum 2013, pendidikan Karakter harus diintegrasikan ke dalam berbagai mata pelajaran. Dengan kejadian mesum “kelas tinggi” di kalangan pelajar kita, bisakah dikatakan bahwa Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa dan juga Pendidikan Karakter belum menyentuh masalah yang ingin kita pecahkan terkait dengan pembangunan dan pendidikan karakter? Tentu tidak mudah untuk menjawab pertanyaan itu, namun apapun faktanya, semua komponen bangsa ini memang perlu bergerak serentak, bersatu padu, untuk menggalang kebersamaan agar pembangunan karakter bangsa dan pendidikan karakter dapat mencegah terjadinya perilaku “bullying” di masa yang akan datang. Jadi, pada akhirnya semua komponen bangsa harus menjadi guru dan pendidik di lingkungannya untuk penanaman karakter yang mulia melalui berbagai modalitas sesuai dengan sifat, hakikat dan entitas masing-masing komponen itu. Modalitas itu bisa berbentuk habituasi, modeling, regulasi, values clarification, dan sebagainya, agar kita bisa saling mengisi dan menopang satu sama lain dalam menanamkan karakter terpuji kepada seluruh siswa sehingga tidak terjadi “bullying” lagi di masa yang akan datang.

Tulisan ini terbit pertama di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 31 Oktober 2013 halaman 1.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow