Wednesday, January 20, 2021
Beranda Cerpen Cahaya di Atas Cahaya

Cahaya di Atas Cahaya

Anik Rofaida Lestari, M.Pd.
Guru IPA SMP Negeri Takeran, Magetan, Jawa Timur

Suyanto.id–Petang menjelang, hujan baru usai turun, dan langit masih kelabu. Sesekali masih terdengar petir dan burung derkuku mulai menggeru-geru menyambut malam. Hari mulai gelap semua warga desa tak pandang usia masuk ke dalam rumah masing-masing, menutup semua pintu dan jendela, menyalakan lampu teplok atau ublik yang dimiliki. Jika keluarga berada menyalakan lampu petromaks tentu dengan harga yang lebih mahal.

Tak ada aturan tertulis atau undang-undang resmi untuk melakukan hal itu, namun itulah aturan adat yang berlaku di desa tersebut. Sebuah desa di lereng gunung dengan pemandangan daratan yang berlembah bukit dan jalan desa yang berkelok-kelok bagai ular naga yang merayap.



Listrik belum masuk ke desa itu, penerangan masih beragam sesuai dengan kasta pemiliknya. Teplok adalah lampu yang di dibuat dari botol kaca pendek di bagian bawahnya, sebagai wadah minyak tanah. Di atasnya ada tempat sumbu berbahan seng ringan yang di desain seperti mahkota yang bisa diputar sehingga melilit kencang pada botol kaca wadah minyak agar minyak tanah sebagai bahan bakarnya tidak gampang tumpah. Sumbu berupa anyaman benang-benang kasar berwarna putih yang mudah menyerap minyak, terselip di bagian tengah seng mahkota. Di samping seng tempat sumbu ada gagang putaran kecil untuk menaik turunkan sumbu.

Di saat lampu sudah menyala, sumbu di tutup semprong, kaca tipis seperti teropong memanjang fungsinya melindungi api agar tidak mudah padam diterpa angin. Di bagian samping lampu, ada kawat kuat yg berfungsi sebagai pegangan dan mencentelkan teplok pada paku di tembok, tiang, atau pada kayu yang terselip di gedhèg rumah. Bagian tengah kawat ada seng bulat lebar untuk menghalangi bias cahaya agar tidak membuat silau yang membawa sehingga semua yang di depannya nampak jelas. Biasanya seng bergambar gadis-gadis cantik para artis negeri jauh.

Berbeda dengan teplok, lampu ublik lebih sederhana lagi. Tempat minyak hanya berupa kaleng-kaleng kecil bekas. Di atasnya di pasang tempat sumbu yang tercelup langsung pada minyak. Tempat sumbu berupa lubang seng memanjang sekitar tiga centimeter yang dipasang di tutup kaleng yang dilubangi persis di bagian tengahnya. Fungsinya untuk menopang lubang sumbu agar tidak masuk ke dalam kaleng minyak. Ublik tidak memakai semprong, sehingga api mudah meliuk-liuk jika terhembus angin, bahkan mudah mati jika angin bertiup agak kencang. Sumbu ublik berupa pilinan benang kapas kasar atau bisa juga memakai gombal atau kain usang yang tak terpakai. Harga ublik lebih murah dibanding teplok.

Lain lagi dengan lampu petromaks, lampu ini paling baik di antara ketiganya. Sudah barang tentu harganya paling mahal. Lampu berbahan stainles steel pada bagian bawah sebagai tempat minyak lengkap dengan lubang pompa. Fungsinya untuk memompa minyak jika nyala lampu mulai meredup. Sumbu berupa kantong kecil berwarna putih yang diikatkan pada bagian tengah lampu. Orang biasa menyebutnya kaos lampu karena memang bentuk dan saat memasangnya seperti saat memakai kaos kaki. Semprong berupa kaca agak lebar seperti tabung.

Untuk menyalakan lampu ini menggunakan spiritus yang dituang pada cekungan persis di bawah kaos lampu. Cara memasukkan spiritus pun ada wadah khusus yang di desain agar cairan warna biru itu tepat ke mangkok sasaran. Wadah spiritus terbuat dari kaleng bertutup yang bisa dibuka tutupnya saat mengisi, dan di bagian pinggir kaleng itu ada cerobong kecil memanjang untuk memasukkan spiritus ke dalam badan lampu dengan mengangkat sedikit semprongnya. Spiritus dibakar dengan korek dan apinya akan menjilat menyalakan kaos lampu. Setelah itu, baru dipompa dan sedikit demi sedikit kaos lampu akan bercahaya putih seperti neon.

Lampu petromaks biasanya digantung, tidak bisa menempel. Agar cahaya fokus ke bawah dan samping, maka di atas lampu ada penutup dari seng lebar berwarna putih yang disebut tèbèng.

Baca juga:   Derita Misteri Mbah Meneer

Petromaks hanya dipunyai orang-orang tertentu, tidak semua warga memiliki penerangan mewah ini. Ketika ada salah satu warga mempunyai hajat, selamatan besar, khitanan, mantu, atau pesta pernikahan, maka lampu-lampu petromaks milik tetangga kanan kirinya dipinjam. Yang punya dengan ikhlas dan rela meminjamkan, mereka memilih dalam keremangan karena beralih menggunakan teplok atau ublik, untuk mematuhi dan menerapkan bentuk rasa gotong royong di desa itu. Agar tidak tertukar, oleh pemiliknya badan lampu dan tèbèng diberi nama dengan menggunakan cat.

Selain untuk acara hajatan, lampu petromaks juga digunakan dalam jumlah banyak pada acara-acara yang mengumpulkan banyak orang, misalnya perayaan hari besar keagamaan atau peringatan Hari Kemerdekaan Republik negeri ini.

Untuk kegiatan beribadah di masjid, juga menggunakan lampu ini. Ada dana dari infak kotak amal setiap hari Jumat untuk membeli “ubo rampe”-nya, termasuk minyak tanah, spiritus, dan kaos lampu jika sudah aus menjadi abu dan jatuh dari besi centelannya.

Menjelang magrib, ada anak laki-laki yang ditugasi untuk menyalakan lampu petromaks di masjid sekaligus mengumandangkan adzan. Tugas itu terjadwal selama seminggu secara bergantian. Penduduk desa tersebut begitu selesai menyalakan penerangan di rumah masing-masing bergegas menuju masjid untuk sholat magrib berjamaah.

Karena lampu petromaks masjid hanya ada satu maka ditempatkan di ruang utama masjid tempat sholat bapak-bapak, sedangkan ibu-ibu dan anak perempuannya menempati ruang sebelah samping dengan menggunakan lampu teplok. Cahaya memang tak begitu maksimal karena sama sekali tak impas dengan luasnya ruangan, namun jiwa dan hati lebih menyala dalam ketaatan.

Terkadang wajah tak begitu jelas terlihat apalagi memakai mukena. Tapi, ibu-ibu itu sudah sangat hafal suara tetangganya karena saking seringnya bertemu setiap hari. Tak hanya saat ibadah di masjid, namun juga di kegiatan lain, saat belanja sayur bersama di “lincak” Mbokde Sarinem atau Lik Sumi. Selesai masak jelang tengah hari pun mereka berkumpul untuk menganyam “eblek” bersama di salah satu rumah tetangganya secara bergantian. Yang paling sering di rumah Yu Sobirah. Tak mesti menganyam, ada juga yang sekadar main, ngobrol sambil pètan atau mencari kutu di rambut kepala.

Baca juga:   Hati Putih Yu Jum

Seusai jamaah magrib, lampu petromaks dipindahkan ke serambi tempat anak-anak ramai mengaji. Ada sekitar tiga puluh anak mengaji di teras tanpa alas, dingin plestèr lantai masjid tak meredupkan semangat belajar mengeja huruf-huruf Arab kitab suci. Mereka duduk tafakur dengan lengan bersiku pada dampar meja bundar berkaki pendek. Bibir-bibir mungil bergerak melafazkan ayat demi ayat. Para guru mengaji dengan ikhlas mengajari tanpa bayaran bahkan tanpa pujian.

Usai sholat isya’ semua kembali pulang. Kaki melangkah menembus dingin malam yang gelap tanpa lentera, menyusuri jalan jalan desa berupa tanah yang berkelok kelok dan berbatu batu kecil. Hanya dengan mengandalkan bayangan ketika pernah melintas saat siang, kaki kaki itu tegas melangkah. Sesekali terantuk batu bahkan kadang terjatuh itu sudah biasa. Langit yang pekat menutupi segalanya, bongkrahan pohon-pohon bambu pembatas desa nampak hitam tinggi menjulang bagai tubuh raksasa yang tambun menakutkan. Ujung batangnya bergerak perlahan terbawa angin yang berhembus bagai tangan yang seakan siap menerkam.

Namun, langkah-langkah kaki kecil itu terus bergegas, menyibakkan rasa takut karena penghambaan yang tulus, bening mengalir menyusuri jiwa-jiwa yang damai, sedamai suasana desa itu. Meski mata indera tak mampu menatap, namun mata hatinya penuh cahaya. Jiwanya bagai lentera yang menuntun hidupnya menapaki jalan-jalan kebaikan, meyakinkan diri bahwa dunia hanya sebatas tempatnya mengabdi sesaat, karena kelak akan tiba saatnya untuk menemui cahaya abadi. Cahaya yang sebenar-benarnya cahaya, yakni cahaya di atas cahaya. (*)

6 KOMENTAR

  1. Terbayang semasa kecil pada tahun 1965 an, saat itu usia 5 tahun sejak lahir tahun 1960 suasana yang tergambar persis seperti cerita di atas, sungguh suasana yang serupa di kampung saya di dusun atau udik di pendalaman Kalimantan Selatan, orang sering menyebutnya hulu sungai. Suasananya tidak jauh berbeda dengan kondisi masyarakat yang sangat sederhana, disitulah awal kehidupan dimulai kemudian hijrah ke daerah kabupaten untuk menuntut ilmu, lulus sekolah pendidikan (PGAN) 6 tahun hijrah lagi ke Kalimantan Timur, yang menurut orang-orang Kaltim adalah daerah kaya, kaya dengan sumber daya alamnya, seperti minyak bumi, batubara dan kayu hutan yang melimpah, namun kekayaan kayu hanya tinggal kenangan atas keserakahan penguasa pusat, semisal Bob Hasan si raja kayu yang terkenal, karena hutan dibabat sampai keakar-akarnya, namun tidak pernah ditunaikan kewajiban penanaman (reboisasi). Elbadiansyah (IKIP PGRI Kaltim)

    • Terima kasih sudah membaca ibu..
      Kenangan masa lalu selalu memicu rasa syukur dalam menjalani alur kehidupan..salam sehat, semangat dan sukses buat ibu dan keluarga..

  2. Thank you for writing these great website.|The shorter response is that I don’t know very much about the subject,
    a longer answer is that I’m going to understand what I’m able to Thanks for this post.
    I found it to be very encouraging.I really learned a lot because of you.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Mamuju

Tresna Tanpa Syarat

Tepuk Dada

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,145FansLike
46FollowersFollow