Sunday, February 28, 2021
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Catatan Kritis Program Sekolah Penggerak

Catatan Kritis Program Sekolah Penggerak

Oleh Abdulah Mukti, S.Pd.I., M.Pd.
Pengurus Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah dan Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Pengantar

Pada 1 Februari 2021, pukul 13.00, Mas Menteri merilis program unggulan dan sensasional berupa Program Sekolah penggerak. Program prestesius tersebut bertajuk ”Penggerak Sekolah Unggul untuk Bangsa”. Berdasarkan tajuk itu, tersemat beberapa makna penting, yakni diperlukannya sosok penggerak yang mampu memajukan dan membuat sekolahnya unggul. Upaya yang gigih dan inspiratif tersebut memiliki daya dobrak dan pengaruh tidak hanya di lingkup sekolahnya semata-mata, namun mampu menjadi katalisator secara meluas dan pendidikan nasional yang bermutu dan unggul dapat digapai.

Kebijakan “khas“ Mas Menteri kali ini masuk sekuel episode ke-7 setelah program Merdeka Belajar, Kampus Merdeka, Organisasi Penggerak, Guru Penggerak, AKM dan Survey Karakter, dan Sekolah Penggerak. Program strategis nasional, jika tidak direncanakan secara matang, ditangani secara komprehensif, konsep yang matang dan memperhatikan regulasi kebijakan pendidikan yang telah berjalan belajar dari pengalaman program-program sebelumnya yang berpolemik dan akhirnya program strategis tersebut ibarat bergema sesaat namun tidak memiliki signifikansi bahkan tidak tepat sasaran dan menyisakan banyak persoalan.

Sepuluh Catatan Konsep Penting Program Sekolah Penggerak

Ada beberapa catatan penulis menyikapi program Sekolah Penggerak yang Mas Menteri gagas. Berangkat dari pengalaman empiris penulis melakukan perubahan dan menggerakkan sekolah from nothing to something dan keterlibatan penulis hingga saat ini “niup-niup” sekolah.

Pertama, melakukan perubahan sekolah dilakukan secara bertahap. Sebagaimana yang disarakan oleh Lippit (1973). Lippit menjelaskan ada tujuh tahapan melakukan perubahan, yaitu (1) mendiagnosis permasalah, (2) menilai motivasi dan kapasitas untuk melakukan perubahan, (3) menilai sumber daya dan motivasi dan komitmen penggerak perubahan, (4) kekuatan, dan stamina serta memilih objek perubahan dengan rencana aksi yang dikembangkan dan menetapkan strategi perubahan, (5) memilih dan memahami dengan jelas perbahan yang dilakukan, (6) mempertahankan perubahan, dan (7) penggerak perubahan harus secara bertahap menarik diri dari peran mereka dan mendorong perubahan menjadi bagian dari budaya organisasi atau institusi.

Kedua, perubahan sekolah sangat ditentukan oleh peranan kepala sekolah. Peranan kepala sekolah sebagaimana yang diungkapkan oleh Meanwhile Beare et al (1989), Leithwood et al (2006), Franklin (2007), Heck & Hellinger (2009), dan Sammons (2011) sebagai inovator, penentu perubahan, dan meyakinkan berbagai pihak untuk bergerak bersama melakukan perubahan. Kepala sekolah dalam menjalankan ketugasanya harus kreatif dalam mencurahkan perhatian pada peningkatan guru mengajar dan siswa belajar. Mereka tidak sekadar mengikuti petunjuk namun berorientasi pada visi untuk menghasilkan mutu lulusan yang sesuai dengan kebutuhan siswa yang selaras dengan nilai-nilai luhur yang telah berlaku sejak masa lalu, untuk masa kini, dan masa depannya.

Ketiga, gerakan perubahan sekolah dilakukan secara komprehensif. Dibekali pemetaan secara detail permasalahan, potensi, dan peluang yang bisa dilakukan melakukan gebrakan perubahan. Perubahan secara komprehensif pun harus mau bergandengan tangan, bersinergi dan berkolaborasi dengan seluruh stakeholders sekolah. Bahkan, dengan beberapa pihak yang sering dianggap obstacle dan trouble maker dan pihak yang berkonflik sekalipun harus mampu dirangkul.

Keempat, untuk itu, diperlukan keterampilan soft skills komunikasi interpsersonal kepala sekolah, guru, dan tim penggerak gebrakan perubahan sekolah dari hulu ke hilir diupayakan secara konsisten.

Kelima, berproses, membaur bersama dan tidak elitis dan menghadirkan dampak perubahan tersebut secara nyata, sehingga bisa meyakinkan berbagai pihak bahwa gebrakan perubahan yang dihadirkan tersebut nyata dan dirasakan. Oleh karena itu, dibutuhkan keterampilan khusus. Keterampilan kepala sekolah atau pemimpin perubahan sekolah masa depan diataranya adalah mengantisipasi perubahan, menangkap peluang, pemecahan masalah secara kreatif, kemampuan bertahan dalam menyikapi berbagai perubahan yang terjadi (Gebaur, 2013; Hillman et al., 2018; Qingling Zhang et al., 2018; Joao Almeida et. al., 2019).

Keenam, keterlibatan secara partisipatorik, meluruhkan ego pribadi dengan mengedepankan berbagi peran serta dan ditopang dengan startegi dan langkah-langkah perubahan secara detail dan tersusun dengan skema yang apik tidak sporadis, tujuan dan target disusun, dan diraih secara bertahap dan memberikan dampak signifikan terhadap kemajuan sekolah.

Ketujuh, basis perubahan yang paling fundamental dimulai dari penguatan secara internal, kokoh, dan mendapatkan dukungan penuh walaupun berproses. Daya dukung internal memberikan jalan kemudahan dari dukungan eksternal.

Baca juga:   Membangun Rumah Bersama Organisasi Profesi Guru Indonesia

Kedelapan, kebijakan yang ditempuh jikapun menciptakan arus baru tidak serta merta meninggalkan bahkan mampu merangkul dan kebijakan yang lama dievaluasi dan diperkuat dengan kebijakan yang baru. Jika mampu mengintegrasikan akan dapat mendatangkan banyak simpati, empati, dan dukungan. Kegagalan melakukan perubahan terkadang terletak kepada cara melakukan langkah dan mengomunikasikan perubahan yang akan ditempuh.

Kesembilan, pendekatan perubahan dan gebrakan perubahan sekolah melalui sekolah penggerak menggunakan pendekatan transformasional. Menurut Sadler (1997), kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang mampu mengembangkan komitmen pengikutnya dengan berbagai nilai-nilai dan visi organisasinya. Secara ringkas seorang pemimpin transformasional adalah komitmen, berbagi nilai-nilai organisasi, dan berbagi visi organisasinya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Bass (1985) bahwasanya kepemimpinan transformasional terdiri atas empat komponen, yaitu karisma atau memunculkan pengaruh kediriannya secara ideal, motivasi memberikan inspirasi, memberikan dorongan dan pemikiran, dan mampu memberikan perhatian secara individual sebagai seorang indiovidu dengan kebutuhan, kemampuan, dan aspirasi yang berbeda. Beberapa karakteristik pemimpin transformatif, yaitu (1) pemimpin menempatkan posisinya sebagai agent of change, (2) berani bertindak melakukan perubahan, berani menghadapi resistensi, menanggung resiko, dan berani menghadapi kenyataan, (3) pemimpin percaya kepada pengikut dengan cara mengembangkan kepercayaan melalui motivasi, kejujuran, dan pemberdayaan, peduli terhadap aspek-aspek kemanusiaan, (5) menunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, (6) selalu belajar sepanjang hayat, (7) mampu mengatasi permasalahan yang kompleks, tidak menentu, dan membingungkan, dan (8) memiliki pandangan ke depan (visioner).

Baca juga:   Program Organisasi Penggerak dan Dinamikanya

Kesepuluh, konseptualisasi perubahan dan gebrakan sekolah dengan tetap memperhatikan multikultural bangsa dengan berpijak kepada kearifan lokal daerah masing-masing sehingga rumusan dan formula perubahan tidak tunggal dan generalis. Harus berpijak situasi kondisi tantangan masing-masing daerah yang memiliki kekhasan dan keanekaragaman.

Dari sepuluh catatan terhadap program sekolah penggerak Kemdikbud RI, sebaik apapun konsep yang diusung, jika melupakan beberapa aspek fundamental pendidikan di Indoensia, program mercusuar tersebut tidak akan tergapai jika celah dari program sekolah penggerak tidak akan berhasil landing dengan baik program strategis pendidikan nasional. Celah tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Sebagaimana program lainnya, kebijakan program sekolah penggerak tanpa disertai naskah akademik yang bisa dipertanggungjawabkan secara konsep dan rasionalisasi program tersebut secara utuh.
  2. Liberalisasi dan inovasi yang digagas tidak boleh abai aspek historisitas, religiusitas, dan falsasah bangsa dan pendidikan nasional.
  3. Tatanan regulasi yang sudah ada tidak serta merta dilibas begitu saja. Regulasi tersebut harus ditempuh perubahannya terlebih dahulu agar tidak tumpang tindih apalagi menyangkut regulasi kepala sekolah dan guru yang telah diatur melalui konstitusi pendidikan kita sebelumnya. Jangan dilupakan juga infrastruktur yang ada semisal LPMP, P4TK, LP2KS, LPTK, dan dinas pendidikan yang merupakan ekosistem kebijakan pendidikan. Program POP tahun 2020 yang lalu abai dengan infrastrukturnya sendiri. Keterlibatan konsultan “younger” yang belum tentu memiliki kapasitas, komitmen dan keterkaitan, dan pemahaman yang komprehensif–juga inefisiensi struktur kementerian, bisa menjadi pemborosan program dan seolah memunculkan spekulasi kelompok tertentu yang berkecimpung dengan program ini dibandingkan dengan penguatan infrastruktur struktur yang ada, minimal kolaborasi sinergi dan elaborasi terhadap transformasi pendidikan.
  4. Program sekolah penggerak tidak elitis dan menimbulkan polemik baru. Partnership dengan berbagai pihak yang memiliki rekam jejak dan keterlibatan langsung dengan pendidikan dan sekolah harus dilibatkan bersama sama secara komprehensif, semisal organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, organisasi profesi guru, dan lain sebagainya.
  5. Konsep dan gebrakan yang digulirkan harus secara menyeluruh, tidak sepotong-sepotong dan tingkat akurasi konsep dan kematangan program perlu menjadi prinsip mendasar sehingga tidak terjadi lagi kontroversi. Karena tidak matangnya konsep, implementasi program seperti AKM dan Survey Karakter yang banyak digembar gemborkan Mas Menteri berujung mundur dari waktu yang ditentukan. Kesan yang ditangkap kemudian, gagasan program baru sebatas kajian diskursus, sudah dirilis sebelum matang betul.

Akhirnya, gagasan Mas Menteri dengan Sekolah Penggeraknya tidak hanya sebatas sensai dan trial and error yang akhirnya berujung tidak berjalan dengan smooth dan jauh dari harapan. Sungguh disayangkan, program strategis pendidikan nasional berjalan lepas dari pendidikan nasional yang sudah berjalan dan dipancangkan oleh para founding father bangsa tercinta. (*)

2 KOMENTAR

  1. Majelis Dikdasmen PP memperbolehkan mengikuti program guru penggerak dan sekolah penggerak.Namun u.Program organisasi penggerak tidak ikut.Karena mekanismenya dll

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Hari yang Dijanjikan

Menangis adalah Hak

Problematika Terurai

Kilasanmu Ayah

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Menangis adalah Hak

Kilasanmu Ayah

Problematika Terurai

1,160FansLike
46FollowersFollow