Sunday, May 16, 2021
BerandaGagasan Ilmiah PopulerCorona dalam Perspektif Kristiani

Corona dalam Perspektif Kristiani

Prof. Kristian Handoyo Sugiyarto, Ph.D.
Guru Besar FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Kurang lebih tiga ribu tahun lalu, tercatat dalam Torah Musa (Exodus-Keluaran, 12:1-51) bahwa Mesir mengalami wabah yang menggegerkan negaranya atas kematian semua anak sulung, mulai dari manusia hingga binatang piaraannya. Kejadian ini hanya terjadi dalam waktu sangat singkat, sekitar tengah malam bulan purnama (tanggal 15 bulan Abib/April). Sekalipun tidak tercatat jumlahnya, dapat dibayangkan bahwa kematian ini melebihi dari jumlah korban-mati wabah Corvid-19 di seluruh dunia dalam periode yang sama, yakni sekitar tengah malam saja.

Mengapa ada tulah kematian? Disebutkan dalam Torah bahwa bangsa Yahudi-Israel dengan status pendatang yang hidup di tengah-tengah bangsa Mesir semakin hari semakin bertambah banyak dan oleh penguasa (Firaun) kala itu dikawatirkan melebihi “penduduk asli”. Oleh sebab itu bangsa pendatang ini mengalami perlakuan penindasan-perbudakan dan setiap anak lahir lelaki mesti ditenggelamkan-mati dalam sungai Nil, termasuk pengalaman kelahiran Musa. Perbudakan ini begitu kuatnya selama sekitar 140-an tahun (menurut perhitungan berbagai referensi), sehingga jerit-tangis penderitaan ini sampai terdengar oleh Tuhan Sang Ada, dan melalui Musa-Harun disampaikanlah tulah hingga yang kesepuluh baru kemudian Penguasa Mesir mengizinkan bangsa Isrel keluar dari Tanah Mesir.

Bagi kita tidak ada gunanya mempertanyakan munculnya tulah kematian tersebut sebagaimana mengapa mesti muncul wabah Covid-19 yang mematikan. Melainkan, bagaimana bisa keluar-selamat dari tulah-kematian, wabah Covid-19.

Disebutkan dalam Torah bahwa atas perintah Tuhan, Musa-Harun meminta agar setiap keluarga berkorban menyembelih seekor domba yang tak bercacat yang telah dikurung sebelumnya selama 4 hari (mulai tanggal 10-an) hingga tanggal 14 sore memasuki tgl 15. Darah domba mesti dioleskan di palang pintu rumah (kusen) sebagai tanda spesial untuk dilewati saja ketika waktu tengah malam “malaikat-maut” mencari nyawa sang sulung, dan bangsa Israel tidak boleh keluar rumah. Peristiwa “melewati-passover” (tidak memasuki rumah) inilah yang dikenal sebagai Pesakh (Ibrani), atau Pascha (Yunani) atau Paskah (Indonesia). Singkat cerita akhirnya bangsa Israel selamat dan dizinkan keluar dari Mesir.

Baca juga:   Masa Covid-19, Orang Tua di Papua Bingung Mendampingi Anak Belajar

Nah ritual Paskah ini mesti diperingati setiap tahunnya dan pada tahun 34-an kejadiannya tepat Yesus disalib, sehingga Ia dipahami sebagai Domba Paskah yang sejati menurut typology in christian theology.

Lalu bagaimana wabah Covid-19 ini mesti disikapi agar kita selamat dari kematian? Ikuti saja petunjuk-petunjuk para pakar yang paham atas virus Corona. Intinya kita mesti mau berkorban menahan diri untuk tidak melakukan kegiatan sebagaimana biasanya, tidak keluar rumah sembarangan dst. Kita pasti selamat dan mampu bangkit dari keterpurukan atas ulah Covid-19. (*)

Baca juga:   Probiotik untuk Peningkatan Daya Tahan Tubuh
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow