Sunday, November 1, 2020
Beranda Cerpen Dendam Tujuh Turunan

Dendam Tujuh Turunan

Pipit Fitria
Guru SMK PUI Cirebon

Suyanto.id–Desaku berada di depan jalanan Pantura, setiap hari harus dengar lalu-lalang kendaraan besar dengan beban yang tak kalah berat. Hiruk pikuk daerah Nenggala terkenal dengan aksi kejahatan di malam hari dan kecelakaan yang tak tanggung-tanggung meregang nyawa. Beberapa akses jalanan juga sempat ditutup akibat peristiwa besar saling serang antarkampung. Ini terjadi bukan kali pertama, tapi turun-temurun hingga anak cucu, entah kapan dendam itu akan usai.

Laju kendaraan dari arah kota Cirebon ke Indramayu terpaksa harus mengikuti intruksi untuk putar arah. Kericuhan sudah tak dapat lagi diamankan dengan damai, bahkan para aparat ikut terjun ke dalamnya. Tidak sedikit yang mengalami luka-luka dengan sebilah pedang, parang, dan senjata berbentuk kayu sate tajam. Hebatnya lagi mereka membawa bom molotov yang membuat kabur penglihatan.




Malam itu, suasanya yang cukup tenang dikejutkan oleh suara dentuman keras dari warga tetangga sebelah. Isu mulai memanas ketika salah satu dari mereka mengangkat senjata hingga berlumuran cairan merah kental yang sangat amis. Amiku bergeliat heran mendengar keributan yang takkan terelakkan. Dengan memakai daster motif bunga mawar, ia berlari terbirit-birit menghampiri kerumunan warga. Sepasang kakinya tak dapat meraba dengan jelas memakai sandal yang mana, bahkan kaki kanannya memakai sandal sebelah kiri dan sebaliknya. Kepanikan Ami menular ke seisi rumah, termasuk aku.

Sampeyan aja meneng bae1. Itu di depan ada keributan, ayo kita mengamankan diri.”

Lamunanku buyar. Aku melangkah dengan ragu dan bingung, “Sebenarnya ini ada apa, sih?”

“Mi, yang ribut itu kan desa sebelah. Kita tak usah panik.”

“Coba deh sini, depan rumah kita sudah ramai kawanan mobil Brimob sedang berpatroli”.

Rupanya depan jalanan sudah ramai mobil bermotif khas kepolisian, atribut mereka bukan dengan atribut polisi, berpakaian layaknya tamu biasa lebih meredam perhatian warga dibanding pakaian dinas. Di sebelah kiri ada penjual mi ayam yang turut berbincang dengan salah satu dari anggota detektif mereka. Rumahku sedang dalam pengawasan, pasalnya rumah yang berada depan jalan raya sangat mudah mengetahui kejadian jalanan.

Saat perang terjadi, desaku menjadi desa penengah, pihak penyerang biasa menyerang lewat jalanan dan juga lewat pesawahan yang berjarak dua kilometer dari belakang rumah. Rasanya berada dalam pengawasan itu membuat gerak terbatas dan hati yang selalu gelisah, dihimpit oleh detektif yang siap mengawal ketertiban jalan.

Kupandang sekelompok pemuda tengah bergerombol dengan membawa parang. Wajahnya memerah, cemberut, dan terlihat garang. Gayanya begitu tidak sopan dan angkuh mendatangi gerobak mi ayam, lalu berujar, “Kalau saja pihak Barat menyerang kami dengan sajam, kami tidak takut, akan kami benamkan anak cucunya ke dasar bumi. Asal mamang tahu aja, mereka itu para busuk yang hanya berani bersembunyi di bawah ketiak ayahnya.”

Baca juga:   Sonata Hujan

Bersembunyi di bawah ketiak ayahnya? Gumamku.

“Maaf Bang, bawa apaan itu di tangan?” aku dibuat penasaran dengan benda hitam di tangannya.

“Ini senjata ampuh saya buat nyerang tuh lawan dari Barat. Beraninya dia ambil nyawa adik saya saat menjelang buka puasa di tengah jalan? Kami tidak terima!” tukasnya sengit.

“Loh kenapa dia membunuh adiknya Abang?”

“Urusan asmara, Mba. Moso ngono ora weru to beritane2,” tukas mamang mi ayam melirikku geli.

Aku terpekur dalam lamunan, ternyata perkara cinta bisa setega itu hingga menghilangkan nyawa seseorang, bahkan kepada teman karibnya sendiri. Kuteringat dengan Egi, temanku di kampus. Jumat kemarin ia terbaring kaku di pojok kelas akibat bertengkar dengan pacarnya. Miris hatiku, banyak yang salah mengartikan cinta hingga kesucian itu dibalas dengan lumuran darah.

Kasus penodaan atas nama cinta sering kali kudengar di media. Memang nyatalah bahwa semua demi cinta, manusia bisa berbuat anarkis, bahkan dengan tega menghabiskan nyawa seseorang. Batinku sakit mendengarnya, tragedi pertengkaran tidak hanya sampai kepada kedua belah pihak, tetapi dendam yang berkepanjangan melibatkan keluarga hingga keturunanya.

Baca juga:   Mbak Bekti

“Kami sampai kapan pun tidak akan biarkan mereka hidup tenang!” ujarnya mengepalkan kedua tangan.

“Udah Bang, pakai jalan damai saja.”

“Jalan damai maksudmu? Dalam Islam, nyawa itu harus dibalas dengan nyawa pula, biar adil.”

“Itu berlaku kalau tidak dengan nafsu, Bang.”

“Alah! kalau tidak dengan nafsu nanti jadinya orang itu tambah kurang ajar! Udah deh, ya, Mba, jangan ikut campur, ini urusan keluarga saya.”

Sepertinya, tak ada gunanya berceloteh dengan lelaki bertampang merah padam ini. Dalam hatinya sudah amat terbakar dendam hingga tak mau memilih jalan damai. Aku diberi kode oleh mamang penjual mi ayam untuk segera beranjak pergi tidur. Rupanya, pak polisi juga ada di antara obrolan mereka yang sedang mengamankan dan memperhatikan tingkah lakunya. Dasar aku, keponya sudah kelewatan. Baiklah aku memilih angkat kaki daripada menghiraukan wajah terbakar api dendam.

Dendamnya sudah dendam kesumat. Bahkan bukan hanya yang mengalami sengketa, tetapi keluarga yang tak tahu apa-apa akan menjadi korban pelampiasan di kemudian hari.

Nduk, mbok ya, kamu ko ngelamun lagi. Ayo masuk, sudah malam ini. Tenang, rumah kita sudah dijaga sama bapak-bapak ganteng.”

Ami menggandeng tanganku erat menuju pintu rumah. Sementara pikiranku terbang membayangkan nasib cinta yang begitu tragis hingga dendam yang memburu keturunannya.

Cinta tidaklah salah, yang salah adalah yang mencintai dengan segenap nafsu dan kenikmatan sesaat. (*)

Keterangan:
1 Kamu jangan diam saja.
2 Masa kamu tidak tahu beritanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pendidikan yang Memerdekakan

Puisi Pemuda

Udan Sore

3

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,044FansLike
44FollowersFollow