Sunday, November 1, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Dialog Imajiner Covid-19 dan Anak-Anak Sekolah

Dialog Imajiner Covid-19 dan Anak-Anak Sekolah

Didik Suhardi, Ph.D.
Direktur PSMP Kemdiknas (2008–2015) dan Sekretaris Jenderal Kemdikbud (2015–2019)

Suyanto.id–Dalam situasi serba tidak pasti seperti sekarang, tidak ada satu pun yang bisa memastikan kapan Covid-19 di Indonesia akan berakhir. Ada yang mengatakan September, bahkan ada yang memperkirakan bulan Desember 2020. Poinnya agak sulit dianalisis karena sangat tergantung dari perilaku masyarakat dan kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah ini.

Para pejabat, pengelola pendidikan, pemerhati pendidikan, dan orang tua pun bingung. Anak-anak (para siswa) ini kapan akan masuk sekolah? Kita berdoa masyarakat Indonesia semakin disiplin mengikuti protokol kesehatan sehingga lebih mudah memperkirakan kapan Covid-19 akan selesai.



Dalam kesempatan ini saya sampaikan dialog imajiner anak-anak para siswa (AS) dan Covid-19 (Vid-19).

AS: “Vid! Kok kamu jahat sekali, sih, sama aku? Sekarang aku nggak boleh ke mana-mana sama orang tuaku. Main ke tempat temanku, nggak boleh, ke luar rumah saja, nggak boleh, apalagi ke sekolah, sama sekali nggak boleh. Aku jadi bosan, gara-gara kamu, nich, Vid.

Vid-19: “Kamu tahu nggak, bumi ini sudah capek, polusi udara sudah sangat mengkhawatirkan, negara-negara besar memerangi negara-negara kecil karena mencari minyak untuk negaranya, kehancuran alam juga sudah luar biasa karena kerakusan manusia, belum lagi kerusakan moral karena percaturan politik. Itulah salah satu alasan kenapa aku datang ke bumi.”

AS: “Tapi aku jadi nggak bisa sekolah karena takut kamu menyerang aku dan teman-temanku, Vid. Belajar di rumah aku sudah bosan, ibuku lebih galak dari bapak/ibu guru, kan ibuku yang diurus banyak banget. Aku juga nggak bisa ngobrol sama teman-temanku. Aku sudah sangat kangen dengan bapak/ibu guruku. Mereka juga kangen sama aku, Vid!”

Vid-19: “Aku sangat jahat kalau kamu tidak hidup bersih, displin, pakai masker, dan makan-makanan yang sehat. Jadi, kamu nggak usah takut sama aku, kalau kamu biasa hidup sehat. Aku paling takut sama sabun. Jadi, kamu biasakan saja mencuci tangan pakai sabun. Pasti aku tidak akan mendekati kamu dan kamu bisa tetap belajar di sekolahmu.”

AS: “Jadi, kapan kamu kembali ke alammu dan meninggalkan Indonesia, Vid? Aku mau bulan Juli ini bisa sekolah. Aku sudah pengin ketemu teman-temanku di sekolah. Aku sudah pengin berdiskusi kelompok di kelas, ngobrol di kantin, dan berolahraga bersama teman-teman di lapangan. Aku ingin segera bebas dari kamu, Vid.”

Baca juga:   Pembelajaran dalam Suasana Pandemi: Siapa Mengerjakan Apa

Vid-19: “Bisa, kamu sekolah bulan Juli, asal kamu disiplin. Mulai sekarang, ajak orang tuamu dan tetanggamu untuk mengikuti protokol kesehatan, bergotong-royong menjaga lingkungan tetap bersih dan sehat. Sekolahmu juga harus siap-siap menerapkan protokol kesehatan agar aku tidak berani datang karena sekolahmu bersih dan sehat.”

“Aku segera kembali ke duniaku dan menghilang dari bumi kalau manusia sudah hidup bersih dan sehat, manusia sudah tidak serakah, bumi sudah bersih, udara sudah bersih, manusia makin sadar menjaga lingkungan, manusia makin banyak bersyukur dan menjaga kedamaian. Semuanya hidup berdampingan dan saling menghormati.”

AS: “Sebetulnya kamu itu siapa sih, Vid? Apakah kamu termasuk makhluk yang diciptakan Allah? Apakah karena banyak manusia yang serakah sehingga kamu diturunkan di bumi, Vid? Apakah kamu akan hilang dengan sendirinya setelah semua manusia hidup bersih dan sehat, mengikuti protokol kesehatan?

Vid-19: “Aku salah satu makhluk ciptaan Tuhan. Mungkin salah satu tujuan diturunkan ke bumi agar bumi ini istirahat sejenak, udara jadi lebih bersih karena aktivitas manusia berkurang, cadangan minyak bumi jadi melimpah karena transportasi dan industri istirahat, dan yang paling penting peringatan kepada manusia agar tidak serakah, lebih bersyukur dengan pemberian Tuhan, dan damai hidup di bumi ciptaan Tuhan yang tidak pernah ada kontrak atau sewanya.”

AS: “Aku berani ke sekolah kalau kamu benar-benar sudah tidak mengganggu kami, Vid. Aku janji akan disiplin mengikuti aturan pemerintah dan aturan sekolahku agar mengikuti protokol kesehatan. Aku janji makan makanan yang sehat dan bergizi untuk menjaga tubuhku agar tidak sakit. Kamu jangan ganggu aku lagi dan kamu segera pulang ke duniamu ya, Vid.”

Dialog imajiner ini sekaligus menjadi harapan bagi anak-anak untuk bisa segera sekolah dengan normal, membangun komunikasi, bersosialisasi, berinteraksi untuk mengoptimalkan kemampuan demi bekal yang cukup di kemudian hari. Sekolah bukan sekadar belajar literasi, numerasi, dan yang lebih penting adalah mempersiapkan mereka untuk menjadi generasi Indonesia yang berkarakter.

Semoga dengan diskusi imajiner tadi kita bisa memahami betapa anak-anak sudah ingin menghirup udara segar dan kembali bersekolah. Oleh karena itu, mari kita bantu dengan menjaga disiplin, hidup bersih dan sehat, menata hidup baru dengan kenormalan baru. Dengan cara ini Corona akan hilang dan anak-anak bisa masuk sekolah dengan senang dan riang. (*)

11 KOMENTAR

  1. terima kasih paparan dialog imajiner bapak didik ini akan menjadi ilmu baru bagi anak-anak agar menjadi generasi indonesia yang berkarakter dan dapat menata hidup baru dengan kenormalan yang baru

  2. Sebuah tulisan yang menarik Pak, dan tentunya tulisan singkat dari Bapak ini menggambarkan dunia pendidikan di Indonesia sekarang. Saya cukup setuju dengan saran Bapak, bilamana jika para siswa ingin kembali bersekolah seperti semula, memang harus tetap disiplin, mengutamakan kebersihan dan usahakan gaya hidup sehat. Senada dengan Bapak, saya rasa peran orang tua sangat penting disini, orang tua siswa juga harus memperhatikan gaya hidup anak mereka, dan memberikan dukungan moral pada sang anak untuk mematuhi protokol sekolah pada periode COVID-19 ini. Kiranya, orang tua harus memberikan pemahaman yang baik pada anak-anaknya tentang upaya pencegahan penularan COVID-19, terutama bagi anak yang masih kecil.

    Semoga Bapak dan keluarga tetap sehat selalu dan senantiasa dilindungi Allah. Salam hangat dari anak didikmu.

  3. Terima kasih bapak. Paparannya menarik, singkat dan mudah dipahami oleh siapapun pembacanya. Mudah-mudahan masyarakat segera sadar akan pola hidup bersih, sehingga covid tidak kembali ke bumi dan bumi tidak menanggung beban berat akibat keserakahan manusia. Semoga anak-anak segera ceria karena bisa sekolah bertemu bapak, ibu guru dan teman-temannya.
    Terima kasih dan salam hangat dari warga nganjuk

    • Matur nuwun mas supriyadi, anak-anak sudah jenuh dirumah, semoga corona segera pergi dan sekolah dibuka kembali. Salam sehat dan selalu sukses. Wass

  4. Setuju pak Didik , dengan waktu yg cukup lama model belajar secara on line berpengaruh pd sikap perilaku anak, beĺum lagi pengaruh lingkungan selama belajar di rumah yg sangat variatif ,padahal mendidik mendewasakan semua unsur pada diri anak yg sangat sulit hanya dg pemberian materi pelajaran secara on line. Jadi model pembelajaran new normal sangat diperlukan.

  5. Cucu sy yg msh di PAUD diceritain oleh mamanya ttg tulisan ini….
    Jawabannya…. buatin sekolah ama kampung sendiri biar Corona tdk ganggu2 manusia….😁
    Tks P Didik….

  6. Thanks for another excellent article. The place else may
    anybody get that type of info in such an ideasl method of writing?

    I’ve a presentation next week, and I’m at the
    look for such information.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pendidikan yang Memerdekakan

Puisi Pemuda

Udan Sore

3

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,044FansLike
44FollowersFollow