Sunday, May 16, 2021
BerandaGagasan Ilmiah PopulerDialog Khidzir-Musa di Tengah Wabah Covid-19

Dialog Khidzir-Musa di Tengah Wabah Covid-19

Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan
Guru Besar Emeritus Universitas Muhammadiyah Surakarta; Wakil Sekretaris MUI Propinsi DIY (1980-1990); Wakil Sekjen Pimpinan Pusat Muhammadiyah (2000-2005); Anggota Majlis Dikti Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1986-2000; 2005-2020)

Suyanto.id–Pelajaran terpenting penyebaran wabah Covid-19 atau virus corona ialah tumbuhnya kesadaran setiap orang bahwa mereka hidup bersama dan karena itu harus berbagi. Jika ingin terhindar dari Covid-19, harus menyadari bahwa seseorang bisa saja tertular dari orang yang tampak waras namun membawa virus mematikan tersebut.

Banyak orang tanpa gejala (OTG) sebagai pembawa virus, bebas berjumpa siapa saja, karena tidak merasa terpapar virus, sehingga menjadi penyebar virus tanpa disadari. Bisa saja kita termasuk si pembawa virus tanpa gejala tersebut.



Adalah fakta bahwa kita terjalin satu dengan yang lain menjadi sebuah kesatuan sosial padu. Jika seseorang kurang hati-hati terhadap serangan wabah, keseluruhan unit sosial itu akan menderita. Kesadaran ini menyeruak bersama meluasnya penyebaran Covid-19.

Serupa itu pula yang kini berlangsung dalam kehidupan keagamaan selama wabah Covid-19 melanda negeri ini. Pahala salat jamaah berlipat 27 kali daripada salat sendirian memperoleh keteguhan makna dalam kesadaran tentang kesatuan sosial akibat wabah Covid-19 tersebut.

Keterbatasan ibadah di masjid untuk salat Jumat dan salat Idulfitri menumbuhkan kesadaran baru tentang hakikat ibadah. Salah satu dari lima maksud substantif pewahyuan syariat atau maqashid syariah itu ialah jaminan bagi kehidupan manusia bebas dari derita kemiskinan.

Rasul pembawa wahyu selalu datang dari mereka yang membela kaum tertindas dan kelaparan. Islam diwahyukan guna membela kaum tertindas dan kelaparan. Inilah makna kewajiban zakat harta, zakat fitrah, menyembelih hewan korban, infak dan sedekah, untuk berbagi agar kehidupan sosial dan ekonomi berlangsung seimbang. Mereka yang beruntung harus berbagi kepada mereka yang tidak diuntungkan oleh sistem sosial dan ekonomi untuk bisa hidup sejahtera.

Untuk masuk surga tidak cukup dengan ritual salat tanpa diiringi kerja produkif bagi pembebasan kaum tertindas dan kelaparan. Rajin salat, puasa, dan haji, tanpa kesediaan membantu kaum pinggiran agar bisa bekerja lebih produktif, adalah dusta dan pengingkaran pada Tuhan, seperti maksud firman-Nya dalam Surat Al-Ma’un.

Baca juga:   Pejuang Corona

Syahdan, nabi Khidzir sedang berdialog serius dengan nabi Musa. Khidzir bertanya pada Musa, “Perilaku apa, hai Musa!” hardik Khidzir, “yang membuat penguasa langit berkenan memberikan anugerah-Nya?”

Musa dengan penuh percaya diri menjawab, “Saat seseorang melakukan salat lima waktu”.

Komentar Khidzir atas jawaban Musa, “Ah… salat itu kan sudah menjadi kewijban manusia. Gak ada yang istimewa dengan salat lima waktu”.

Musa, mengernyitkan dahi sejenak, berucap, “Ooh… itu perilaku orang yang sedang menjalani puasa dan haji”.

Khidzir menimpali, “Itu mah, sama saja dengan ritual formal salat lima waktu. Puasa dan haji itu sudah menjadi kewajiban manusia. Tidak ada yang istimewa bagi seseorang yang sedang memenuhi kewajibannya,” jelas Khidzir, membuat Musa semakin tidak mengerti.

Melihat situasi tersebut, Khidzir lalu berseru, “Hai Musa! Maukah kutunjukkan perilaku manusia yang menjadi perhatian Tuhan?”

Musa menjawab, “Saya menunggu kabar itu ya Khidzir!?”

Khidzir menjelaskan bahwa perilaku yang bernilai istimewa dimata Tuhan dan karena itu akan diberi anugerah pahala langsung dari-Nya ialah: “Membebaskan orang yang tertindas, memberi makan mereka yang kelaparan, dan memberi pakaian orang yang telanjang karena tidak mampu membeli penutup auratnya.”

Baca juga:   Pejuang Corona

Berhenti sejenak, Khidzir berkata, “Itulah jalan lapang menuju surga Tuhan.”

Dalam sebuah hadits, Usamah bin Zaid ra berkata, bersabda Rasulullah saw: “Saya berdiri di depan pintu surga, masuklah orang-orang yang umumnya miskin, di saat orang-orang kaya tertahan perhitungan kekayaannya….”  (riwayat Bukhari-Muslim)

Hadits ini bukan anjuran menjadi miskin. Sesuai qaidah mafhum mukholafah justru sebaliknya bermakna seperti nasehat Khidzir pada Musa. Pengembangan sistem atau usaha menghapus penyebab orang menjadi miskin adalah pasangan sinergis ritual formal jika ingin memperoleh ridha Tuhan.

Dalam hadits nabi yang lain, bahkan menyelamatkan hewan yang sedang menderita pun menjadi salah satu kunci masuk surga. Banyak jalan menuju surga, bergantung memilih yang paling produktif dan paling mungkin dilakukan.

Mari mulai dari diri sendiri, “ibdak binafsik,” kata nabi dalam haditsnya. (*)

spot_img

1 KOMENTAR

  1. Alhamdulilah Al Ustaz AlMukarram Guru Prof Munir Mulkhan
    sukran jazilan atas pencerahannya
    Semoga selalu sehat Prof

    amiin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow