Sunday, February 5, 2023
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerEfek Streisand Isu Boikot Wikipedia

Efek Streisand Isu Boikot Wikipedia

Sabjan Badio
Editor Situs Suyanto.id, Pengembang dan Reviewer Spektrum Komunikasi Digital SMK

Suyanto.id–Hasthtag #boikotwikipedia tiba-tiba trending di Twitter Indonesia. Popularitas ini dipicu satu artikel Wikipedia Bahasa Indonesia yang dianggap tidak netral, yaitu “Pembantaian di Indonesia 1965–1966”. Hingga dini hari (4/6), 7.172 cuitan mengangkat hashtag tersebut.

Akibat dari trending ini, kunjungan atas artikel yang dipermasalahkan menjadi meningkat tajam, semula hanya rata-rata 420 per hari, menjadi 59.259 saat hashtag #boikotwikipedia diangkat. Itu artinya, hashtag ini bermata dua, selain mampu menggerakkan pengguna Twitter untuk protes, juga mengangkat popularitas artikel yang dipermasalahkan.

Statistik kunjungan artikel Wikipedia “Pembantaian di Indonesia 1965–1966” (4 Mei s.d. 3 Juni 2020).

Hal serupa kerap terjadi juga dalam bidang lain. Kita sering mendengar usaha figur publik mempertahankan atau mendongkrak kembali popularitas yang mulai menurun dengan cara memunculkan sebuah isu. Di dunia hiburan, kejadian seperti ini lebih populer dengan istilah gimik (Inggris: gimmick). Selain di dunia entertainmen, usaha atau tindakan sejenis sangat mungkin terjadi di dunia politik yang demikian mementingkan popularitas.

Dampak tersebut dikenal dengan efek Streisand. Istilah ini diambil dari nama penyanyi asal Amerika Serikat, Barbra Streisand. Tahun 2003, dia melarang foto rumahnya di Malibu, California dipublikasikan. Penyanyi ini bahkan menempuh jalur hukum dalam usaha menghilangkan foto rumahnya dari sebuah situs web.

Akibat usaha menutupi tersebut, publik justru menjadi penasaran dan ingin melihat foto rumah Streisand. Semula foto rumah hanya diunduh 6 kali (4 kali oleh pengunjung, 2 kali oleh pengacara Streisand), setelah ditutupi dan dilaporkan ke pengadilan, justru dikunjungi 420.000 orang.

Kaitannya dengan isu pemboikotan Wikipedia, bisa jadi efek Streisand terjadi secara alami, bisa pula sebagai sebuah desain. Secara alami, pengangkat hashtag diasumsikan berniat memprotes Wikipedia. Sementara itu, secara buatan, seseorang sengaja mendesain isu boikot Wikipedia dengan tujuan memperkenalkan isi artikel kepada publik.

Baik secara alami, maupun didesain, keduanya telah meningkatkan kunjungan artikel secara signifikan. Hal ini juga menimbulkan beragam reaksi dari pengguna Twitter, ada yang langsung merespons positif, merespons negatif, ada pula yang netral dan menyampaikan argumen secara objektif, termasuk menjelaskan prinsip kerja Wikipedia. Bahkan, ada pengguna Twitter yang menanggapinya secara santai dengan candaan.

Berbagai respons atau reaksi tersebut menunjukkan ragam tingkat literasi masyarakat Indonesia, secara spesifik pengguna Twitter dan pembaca Wikipedia. Masyarakat dengan tingkat literasi baik, tentu akan dapat mempelajari dan memahami dengan baik pula persoalan ini, apakah yang bermasalah artikelnya, editornya, atau lembaganya (dalam hal ini Wikipedianya). Dia juga akan dapat merespons secara objektif dengan tujuan mencari solusi. (*)

spot_img

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow