Friday, September 17, 2021
spot_img
BerandaGagasan GuruEksistensialisme: Filsafat Perlawanan Menuju Kesetaraan Gender

Eksistensialisme: Filsafat Perlawanan Menuju Kesetaraan Gender

Farhan Ferian
Mahasiswa S-2 Pendidikan IPS Universitas Negeri Yogyakarta dan Guru SMP Negeri 4 Depok

Suyanto.id–Kesetaraan gender dianggap penting karena dipandang memiliki dampak pada sikap dan pemikiran manusia. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), I Gusti Ayu Bintang Puspayoga, menyebut tingkat kesataraan gender di Indonesia masih rendah (mediaindonesia.com). Hal ini tercermin dari indeks kesetaraan gender yang dirilis Badan Program Pembangunan PBB (UNDP), di mana Indonesia berada pada peringkat 103 dari 162 negara atau terendah ketiga se-ASEAN.

Rumitnya mewujudkan Indonesia dengan memiliki tingkat kesetaraan gender yang tinggi berkaitan dengan timpangnya akses partisipasi control, di mana salah satunya dipicu nilai patriarki dan konstruksi sosial yang konservatif di masyarakat. Permasalahan ini memang harus diberikan solusi agar kesetaraan gender di Indonesia bisa meningkat.

Kesetaraan gender sendiri untuk mendapatkan ukwah yang hakiki perlulah untuk ditelaah menggunakan kebijaksanaan. Ilmu paling tepat untuk memaknai kebijaksanaan adalah filsafat. Melalui filsafat, berbagai fenomena dapat diinterpretasi menjadi sebuah gambaran yang dapat diterima oleh setiap pikiran manusia. Pada hakikatnya, filsafat dapat menembus hati dan pemikiran setiap orang dan akan menjadikan kegiatan sederhana memiliki makna yang luar biasa. Memaknai hak orang untuk memilih pilihannya adalah termasuk kesetaraan gender, perempuan boleh memilih sekolah tinggi hingga doktor tanpa harus memikirkan mahir memasak atau tidak. Hal ini telah dituliskan dalam filsafat eksistensialisme.

Sartre (2002: 46) mengatakan, eksistensialisme menempatkan manusia pada posisinya sebagai dirinya sendiri dan meletakkan keseluruhan tanggung jawab hidupnya sepenuhnya di pundak manusia itu sendiri. Hal tersebut menjelaskan bahwa baik itu laki-laki maupun perempuan bebas memilih apa yang ia inginkan dalam hidupnya, namun tidak meninggalkan apa yang menjadi tanggung jawab atau bahkan risiko atas pilihan yang ia pilih. Perempuan yang memilih sekolah atau pendidikan tidak lebih tinggi atau lebih rendah dari perempuan yang memilih menikah muda, begitu juga pada laki laki. Hak untuk memilih ini haruslah dimiliki setiap orang tanpa campur tangan orang lain. Manusia memiliki akal untuk berpikir sehingga dia pasti berpikir dahulu sebelum memilih sesuatu.

Menganggap aku adalah kesadaranku, tidak memiliki jarak dengan kesadaranku, dan menolak ego transedental, maka dari itu pemaknaan akan dunia itu selalu contingent human existence is a contingency atau mere accidental “man is always in the making”. Jadi, manusia itu selalu berubah-ubah dan pasti akan ada manusia yang mengekang manusia lain. Satre juga berkata being nothingness aku dan kesadaranku tidak ada jarak, jarak itu adalah kekosongan, dalam kekosongan inilah manusia yg harus aktif bertindak yang menciptakan kebebasan-kebebasannya sendiri untuk memaknai dunia itu sendiri (manusia proses penciptaan tanpa henti).

Baca juga:   Persoalan Multikultural dalam Pelaksanaan AKM

Sejatinya sebagai manusia tidaklah baik apabila menuntut sesuatu kepada orang lain akan hidupnya sendiri. Menuntut perempuan untuk bertugas menjadi ibu rumah tangga tanpa menanyakan apakah dia mau untuk melakukan kegiatan tersebut, sudah menyalahi eksistensialisme dan juga kesetaraan gender.

Esksistensialisme memiliki dua prinsip, pertama being in itself berada dalam dirinya sendiri mengacu pada segala sesuatu yang tidak memiliki kesadaran atau benda mati. Benda mati memiliki esensi dan eksistensi secara sempurna, jadi dia itu tidak perlu memaknai eksistensinya. Segala sesuatu yang tidak memiliki kesadaran, tidak dapat memaknai eksistensinya. Ia sempurna dalam dirinya sendiri, contohnya meja, kursi, dan batu. Kedua, yaitu being for itself khusus dimiliki oleh makhluk dimiliki kesadaran. Nah manusia sendiri, kata Sartre, memiliki kesadaran dan kebebasan, bebas untuk menentukan maknanya, kelemahannya ia terus mengalami kekosongan alienasi/anxiety justru di situ manusia harus mempraktikkan kebebasannya agar dapat memaknai kehidupannya.

Baca juga:   Konstruksi Tubuh Perempuan (Ideal)

Maka dari itu, melalui eksistensialisme manusia dapat mengerti apa yang menjadi tanggungjawabnya dan apa yang menjadi risikonya tanpa harus mendengarkan atau dipaksa oleh orang lain karena manusia memiliki akal untuk memilih apa yang terbaik untuk dirinya sendiri melalui hasil pemikirannya. Di mana kita harus melampaui ekspektasi orang lain, memenuhi harapan masyarakat yang itu belum tentu pilihan kita, hal itu mengingat aspek kesadaran etre pour soi yang dimiliki setiap orang sehingga berpotensi membentuk penilaian atau menstruktur eksistensi kita sendiri.

Kemerdekaan bukan sesuatu yang harus dibuktikan atau dibicarakan, melainkan suatu realitas yang harus dialami. Manusia mempunyai kemerdekaan yang sangat besar yang dapat dimanfaatkan jika dapat memahaminya. Manusia adalah makhluk yang bebas menentukan hakikat-hakikatnya sendiri, bebas menjalankan hidupnya. Namun, di sisi lain hal tersebut justru menjadi suatu kenyataan yang mengerikan ketika dihadapkan kepada pilihan bahwa manusia sesungguhnya benar-benar dihadapkan pada kebebasannya sendiri. Manusia benar benar sendirian. Kebebasan adalah beban, karena kebebasan mengimplikasikan tanggung jawab. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pak Senam yang Saya Kenal

Growth Mindset dalam Pembelajaran Daring

Wanita Kebaya

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Growth Mindset dalam Pembelajaran Daring

Wanita Kebaya

Pak Senam yang Saya Kenal

1,166FansLike
57FollowersFollow