Friday, April 23, 2021
BerandaEkonomi dan BisnisEnam Strategi Menjalankan Usaha di Era New Normal

Enam Strategi Menjalankan Usaha di Era New Normal

Noor Fitrihana, M.Eng.
Dosen Prodi Tata Busana FT Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Pada bulan Juni 2020, Pemerintah Indonesia memulai pelonggaran Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Tujuan utamanya adalah menggerakkan roda ekonomi di berbagai sektor yang terhenti dan terhambat selama pandemi Covid-19. Meski berisiko mengalami gelombang kedua penyebaran Covid-19, namun hal ini harus dipilih. Kebijakan pelonggaran ini juga telah disambut dengan dibukanya beberapa sektor yang selama ini terhenti operasinya, seperti pariwisata, hotel, mall, restoran, manufaktur, tranportasi darat, laut, dan udara dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Berhenti beroperasinya industri jasa dan manufaktur, mengakibatkan adanya pengurangan karyawan. Ada yang menjalankan bekerja dari rumah, dirumahkan tanpa kejelasan, hingga mengalami pemutusan hubungan kerja. Pengusaha dan karyawan mengalami tekanan finansial yang sama sesuai kadarnya masing-masing. Banyak pengusaha yang rela menjaga operasional perusahaannya tanpa keuntungan demi mempertahankan karyawan. Ada karyawan yang rela untuk dipotong gajinya demi rekan kerjanya tidak terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Namun, ada juga yang tidak mampu mengkonsolidasikan keadaan sehingga terpaksa menutup usaha dan berhenti bekerja.

Kalangan pengusaha memberikan “warning”, bahwa mereka hanya mampu mempertahankan operasional sampai bulan Juni. Kondisi ini tentu berpotensi menimbulkan krisis sosial yang lebih besar.



Dengan dimulainya “New Normal” secara bertahap, para pengusaha mulai berupaya  membangkitkan kembali usahanya. Demikian juga para pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah mulai membuka lapak usahanya. Para karyawan yang terkena PHK harus segera mencari pekerjaan baru atau membuka usaha. Demikian juga lulusan sekolah dan perguruan tinggi, akan menghadapi sempitnya lapangan kerja, harus menyiapkan diri untuk berwirausaha. Menghadapi kondisi ini, ada enam strategi yang dapat dilakukan.

  1. Memulai usaha sebagai self employee

Robert Kiyosaki dalam bukunya The Casflow Quadran, menggambarkan empat kuadran seseorang memperoleh penghasilan. Kuadran pertama adalah dengan bekerja dan berkrier mendapatkan gaji bulanan, kuadran kedua adalah bekerja secara mandiri (wirausaha/self employee) dan semuanya dikerjakan sendiri tanpa karyawan, kuadran ketiga adalah menjadi pemilik bisnis yang menguntungkan dan sudah tersistemasi dengan tim atau karyawan yang dapat melakukan pekerjaan tanpa harus tergantung keberadaan kita, kuadran keempat adalah sebagai investor usaha yang bertumbuh dengan menaruh investasi di beberapa sektor usaha untuk menerima deviden bagi hasil tanpa harus ikut terlibat mengelola usaha. Semakin dapat menghasilkan pendapatan dari semua kuadran, maka semakin memiliki daya tahan terhadap kondisi pandemi apapun. Untuk mencapai di semua kuadran, dibutuhkan kecerdasan finansial yang tinggi.

Umumnya, kita hanya bermain di kuadran pertama dan kedua. Untuk menghadapi era New Normal, harus berusaha mengelola kuadran satu dan kedua. Selain menjadi karyawan/pegawai, harus memiliki usaha sampingan yang dapat menambah penghasilan. Saat ini, membuka usaha online menjadi pilihan dan sangat menungkinkan dilakukan secara multitasking, baik untuk pelajar, pegawai, maupun ibu rumah tangga.

  1. Berinovasi dan berganti produk/jasa

Selama pandemi, pola belanja masyarakat berubah seiring dengan penerapan PSBB, kewajiban bekerja di rumah, diharuskan menjaga jarak sosial dan fisik, penurunan pendapatan, dan ancaman terpapar virus. Pengurangan anggaran belanja untuk kebutuhan sekunder hingga tersier dialami oleh hampir seluruh masyarakat.

Baca juga:   Kurikulum Adaptif di Masa Pandemi

Sejalan dengan itu, terjadi peningkatan permintaan untuk produk kesehatan, seperti baju hazmat, masker, infrared thermometer, hand sanitizer, dan peralatan disinfectan. Peningkatan juga terjadi terhadap kebutuhan makanan awetan yang praktis (frozen food), belanja online/delivery, konsumsi produk teknologi informasi karena harus bekerja dari rumah, peralatan olahraga untuk menjaga kebugaran dan menghilangkan kebosanan, serta sayur-mayur yang siap dimasak.

Mereka yang survive saat ini adalah yang mampu berinovasi mengubah produk dan layanannnya dengan penyesuaian atas pola perilaku konsumen dengan cepat. Artinya, tidak ada salahnya melakukan pivoting/beralih atau membuka usaha dengan mengembangkan produk/jasa sesuai trend konsumsi masyarakat

  1. Efisiensi, reskilling, dan upskilling karyawan

Efisiensi karyawan bukan berarti harus mengurangi/mem-PHK, bisa juga, misalnya, dengan bekerja secara bergantian. Tentu, ini memerlukan konsesus semua pemangku kepentingan. Efisiensi karyawan juga berarti pentingnya melakukan pelatihan dan peningkatan kembali (reskilling dan upskiling) keterampilan karyawan, misalnya dalam hal penggunaan teknologi dan pemasaran digital sesuai tuntutan saat ini dan ke depan

  1. Tranformasi digital jalur distribusi, komunikasi, dan pemasaran

Melakukan peningkatan layanan distribusi, komunikasi, dan pemasaran secara digital menggunakan jejaring ekspedisi, tranportasi online, web, marketplace, social media, WhatsApp, maupun Telegram. Untuk dapat melakukan transformasi digital ini, diperlukan inovasi produk, khususnya pada daya tahan dan pengemasannya.

Baca juga:   Corona dan Belajar

Beberapa usaha kuliner mengubah pola makan di tempat dengan layanan pesan antar, layanan pesan berbasis aplikasi, menyediakan produk dalam kemasan vacuum untuk mempertahankan rasa, suhu, dan bentuk selama proses pengiriman. Era New Normal ini akan mempercepat semua usaha untuk bertransformasi secara digital sehingga sangat penting untuk semua orang memiliki keterampilan digital yang meliputi menggunakan, bekerja dengan aplikasi digital, membuat aplikasi digital, dan menjalankan bisnis dengan teknologi digital.

  1. Membuat paket diskon

Tekanan finansial akan membuat semua orang berhemat. Mereka secara psikologis akan memilih barang-barang yang diinginkan yang murah. Strategi penjualan dengan beragam diskon akan menarik dan memicu pembelian. Misalnya, dengan menjual barang secara paket/bundling seperti menjual baju dengan bonus masker yang serasi, pembelian tiket pesawat sudah termasuk layanan baju hazmat, dan berbagai manfaat yang bisa menarik minat pelanggan.

  1. Menjaga interaksi dan empati kepada pelanggan

Dalam bisnis, tidak ada penjualan tanpa interaksi. Menjalin interaksi dan kepedulian dengan pelanggan adalah hal penting dalam bisnis. Komunikasi tidak hanya soal tawar-menawar produk, namun juga perhatian tentang kesehatan, bahkan peluang kerjasama bisnis, seperti saling menjadi reseller atau dropshiper.

Dalam kondisi seperti saat ini, mencari pelanggan baru akan lebih sulit. Untuk itu, kita harus membangun data pelanggan dan mengelola hubungan interaksi dengan para pelanggan, misalnya dengan membentuk grup-grup dalam jejaring social media, WhatsApp, dan Telegram sebagai sarana informasi dan interaksi yang positif. Menerapkan protokol kesehatan dengan baik juga salah satu cara untuk membangun kepercayaan dan rasa aman dari pelanggan.

Pada era New Normal ini, semua memiliki tantangan besar untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan serta menghidupkan roda ekonomi. Semoga kita semua selalu dikarunia kesehatan, kelancaran pekerjaan dan usaha, serta keberkahan sehinga semua mampu melewati masa-masa sulit ini. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

PP 57/2021

Fajar Pertama Bulan Ramadan

Elegi Lembah Pujian

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow