Sunday, October 25, 2020
Beranda Pendidikan Flipped Classroom Model: Solusi bagi Pembelajaran Darurat Covid-19

Flipped Classroom Model: Solusi bagi Pembelajaran Darurat Covid-19

Didik Suhardi, Ph.D.
Direktur PSMP Kemdiknas (2008–2015) dan Sekretaris Jenderal Kemdikbud (2015–2019)

Suyanto.id–Dampak Covid-19 masih berkepanjangan dan sangat dirasakan dunia pendidikan. Diperkirakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah pada tahun ajaran baru nanti (sekitar pertengahan Juli 2020) belum berjalan normal. Masih banyak daerah tergolong zona merah. Tentu saja, kepala sekolah dan guru sedang berpikir keras apa yang harus dilakukan agar layanan pendidikan tetap berjalan dengan baik.

Dengan kondisi tersebut, sangat mungkin kedatangan siswa ke sekolah akan dibatasi, baik jumlah hari maupun jumlah siswa per kelas. Bisa jadi, siswa hanya belajar 2 atau 3 hari di sekolah, selebihnya belajar di rumah. Begitu juga agar physical distancing bisa dilakukan, setiap kelas diisi separuh siswa saja, separuh lagi masuk hari berikutnya. Dengan kondisi seperti ini, para kepala sekolah dan guru terus mencari model pembelajaran efektif dan efisien digunakan pada kondisi di tersebut.



Salah satu model yang bisa digunakan adalah flipped classroom (pembelajaran terbalik). Flipped classroom adalah model pembelajaran di mana siswa sebelum belajar di kelas mempelajari materi lebih dahulu di rumah sesuai dengan tugas yang diberikan oleh guru. Metode ini juga digunakan oleh guru ketika ada siswa yang tidak hadir di kelas karena sesuatu hal. Guru bisa membuat video apa yang diajarkannya dan diberikan kepada yang tidak masuk kelas tersebut.

Jon Bergmann dan Aaron Sams, yaitu guru kimia SMA Woodland Park di Colorado, Amerika Serikat, menggunakan metode ini untuk membantu para siswanya yang tidak masuk kelas dengan membuat video pembelajaran apa yang sudah mereka ajarkan. Hasilnya sangat bagus, siswa bisa mengikuti pelajaran dan tidak ketinggalan. Model ini akhirnya dipakai juga oleh siswa yang sudah belajar di kelas sebagai bahan memperdalam materi yang sudah dipelajarinya.

Guru sebelum membahas materi yang akan di ajarkan memberikan tugas terlebih dahulu kepada siswa untuk mempelajari materi yang ada dalam media pembelajaran. Model belajar seperti ini membuat siswa dituntut untuk lebih mandiri karena mereka mempelajari bahan terlebih dahulu sebelum ada pertemuan di kelas. Model ini juga membuat siswa  lebih aktif karena dorongan keingintahuan mereka juga lebih tinggi.

Model ini juga cocok sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Era Industri 4.0. Perubahan model belajar ini tentu membutuhkan pelatihan dan kesiapan guru, tenaga kependidikan, dan para pejabat pendidikan dalam merancang rencana pelaksanaan pembelajaran dan media pembelajaran yang compatible dengan perkembangan teknologi saat ini.

Baca juga:   TKI Malaysia dan Pendidikan Putra-Putrinya

Guru bisa dengan mudah mengunduh materi yang akan dipelajari siswa dari berbagai learning management system (LMS) yang sudah tersedia, baik dari Kemdikbud, yaitu Rumah Belajar dan TV Edukasi, maupun menggunakan LMS dari swasta yang dapat diunduh secara gratis. Materi diserahkan kepada siswa dengan diberi penjelasan apa yang harus dikerjakan dan akan dibahas pada pertemuan berikutnya.

Pada saat siswa datang ke sekolah, guru tinggal membahas dengan mereka, misalnya siswa diminta mempresentasikan apa yang telah dipelajari. Dengan demikian, siswa terlatih mengomunikasikan apa yang dipelajari kepada teman sejawat. Untuk memperdalam materi yang dipelajari, guru juga bisa mengajak siswa berdiskusi dalam kelompok kecil. Guru berperan sebagai fasilitator dan berkeliling kelas untuk memotivasi sekaligus memantau keaktifan siswa dalam berdiskusi.

Dengan model ini, siswa tidak perlu hadir ke sekolah tiap hari. Jadi, seandainya tahun ajaran baru nanti siswa harus masuk sekolah di selang-seling, metode ini sangat bagus. Siswa akan mengerjakan tugas pada saat di rumah selama tiga hari dan masuk ke sekolah belajar di kelas selama tiga hari. Model ini cocok untuk mengoptimalkan waktu di kelas yang terbatas dan juga akan melatih siswa untuk mengelola waktu dengan baik.

Apakah hasil belajar siswa yang menggunakan metode flipped classroom lebih baik?

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Amerika dan juga beberapa sekolah di Indonesia yang sudah mempraktikkan flipped classroom, hasilnya sangat menggembirakan dan kualitasnya lebih baik. Para siswa yang mempraktikkan metode ini motivasi belajarnya sangat tinggi, kreativitasnya meningkat, tanggungjawab meningkat, siswa lebih aktif dalam PBM di kelas, dan nilai akademiknya lebih baik jika dibandingkan cara belajar tradisional. Begitu juga para guru juga merasa punya waktu lebih untuk berinteraksi dengan siswa.

Dengan model ini, tujuan kita untuk membekali kemampuan siswa untuk berpikir kritis (critical thinking), bekerjasama (collaborative), kemampuan berkomunikasi (comunication skills), dan berpikir kreatif dan inovatif (creative/innovative) dapat kita laksanakan dengan baik. Guru tidak mendominasi waktu di kelas. Interaksi guru dan siswa semakin baik dan semakin menyenangkan.

Semoga flipped classroom bisa menjadi salah satu alternatif model pembelajaran saat pandemi Covid-19 masih menghantui kita semua. Semoga Anak-anak kita tetap bisa belajar dengan nyaman. (*)

24 KOMENTAR

  1. Sangat menarik artikelnya Pak Didik… bikin TEACH LESS, LEARN MOORE. Flipped classroom memberi ruang kebebasan bagi peserta didik untuk mempelajari secara mendalam di rumah. Tida masalah jika siswa mencoba dan salah. Metode Productive Failure (belajar dari kesalahan kemudian dibetulkan oleh guru) akan membuat siswa menemukan makna. German, Singapore, Australia sudah banyak menerapkan metode Productive Failure sebagai penyerta Flipped Classroom. Kami tunggu ide2 tulisan berikutnya…

    • Alhandulillah Mas Abi, kondisi pandemi para guru kita harus dibantu dengan menawarkan model2 pembelajaran yang workable dan tidak memberatkan orang tua dan siswa. Sehat dan sukses selalu

  2. Majasih bpk materinya yg telah memberikan pencerahan antara kecemasan menunggu model pembelajaran Yg akan dihulirkan oleh kemdikbud, sekslipun sebenarnya kita seharusnya tdk terlalu tergantung dari model KBM kemdikbud, dimana kreativitas dan inovasi KBM sdh wajib kita kembangkan dg tidak melenceng dari tujuan pendidikan nadional, virtual bukan alasan Untuk tdk tercapainya tujuan pendidikan nadional, banyak pembelajatan virtual telah sukses mencapai sasaran, Contohnya banyak pendakwah terkenal berkat google. Banyak memiliki pengikut yg militan. Sekalipun kadang kurang sesuai oleh krn tdk matangnya pemahaman materi secara utuh.

    • Nggih pak Imam, model ini sebagai alternatif agarvpara guru banyak pilihan model pembelajaran. Seandainya betul terjadi sekolah hanya masuk bergiliran krn mengikutibprotokol kesehatan (tidak full) maka model ini cocok digunakan. Semoga bermanfaat

      • Hebat pak didik, sederhana sebenarnya dan mudah dilakukan oleh para guru, itu juga sering kita lakukan waktu mengejar ketertinggalan materi dalam satu sem disaat mendekati akhir sem dan mau ujian, kita minta siswa belajar dulu, agar bisa cepat belajarnya ketika ada pertemuan tatap muka, yg mestinya butuh 4x tatap muka akhirnya bisa dilaksanakan 2x saja. dan hasilnya cukup menggembirakan.

  3. Terima kasih, Pak Didik. Saya juga terapkan ke mahasiswa S1 (dulunya hanya ke mahassiwa S2), hasilnya mereka lebih bertanggungjawab dan berhasil. Saya juga menyarankan hal yang sama (flip learning) untuk ide PJJ, ke PSMP.

    • Betul mas wahono, sudah banyak sekolah yang menggunakan model ini dan hasilnya sangat memuaskan baik afektif, kognitif dan psikomotoriknya. Semoga bapak ibu semakin banyak pilihan utk mencerdaskan anak bangsa. Salam sehat dan sukses selalu

  4. Terimakasih pencerahannya pak Didik.. bukan hanya classroom yg di flipped ya pak tapi mindset guru dan murid juga harus di flipped. Corona membelajarkan banyak hal.
    Ditunggu share inspiratifnya bapak

    • Tentang jumlah siswa saya kira bisa dipecah menjadi 2 kelompok mbak. Sehingga bisa tetap mengikuti protokol kesehatan. Sehat dan sukses selalu

  5. Alhamdulillah. Matur nuwun Pak Didik sangat inspiratif untuk pembelajaran di SMPN 2 Lamongan dg jml rombel 33 akan segera kami bagikan materi dr buku paket biar siswa lebih siap dan punya kesempatan mengembangkan materi dan kita coba FLIPPED CLASSROOM.

  6. Saya sangat setuju dgn model ini, menumbuhkan rasa ingin tahu, belajar berkolaborasi & mengkomunikasikan apa yg telah dipelajarinya sehingga siswa belajar bertanggung jawab dlm belajarnya.

  7. MasyaaAllah mantap sekali bapak solusinya. Saya kira ini bisa menjadi solusi yang sangat efektif jika nantinya pembelajaran di sekolah terpaksa harus ‘selang-seling’. Terimakasih atas inspirasinya, bapak. Kemudian saya ingin bertanya, bapak.. Karena saya tertarik dengan model flipped classroom ini, kira-kira referensi apa yang harus saya baca untuk dapat memepelajari tentang flipped classrom secara lebih dalam nggih, bapak?

    • Referenai di rumah belajar.kemdikbud banyak sekali materi dan contoh-contoh model pembelajaran flipped classroom mbak, kemudian mbak rlvana juga bisa membaca beberapa riset penggunaan flipped classroom di indonesia. Supaya lebih mantab. Selamat berkarya dan sukses selalu

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Gurit Ati

Lanskap Ibukota

1,044FansLike
43FollowersFollow
Baca juga:   Corona dan Belajar