Saturday, December 4, 2021
spot_img
BerandaGagasan GuruFlipped Classroom Model: Solusi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Flipped Classroom Model: Solusi Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Oleh Deti Prasetyaningrum
Guru MTsN 3 Sleman

Suyanto.id–Dampak pandemi Coronavirus Disease 2019 masih belum berakhir dan sangat dirasakan oleh dunia pendidikan. Dua tahun sudah para guru dan siswa melaksanakan pembelajaran jarak jauh. Tak heran jika para siswa saat ini sedang mengalami learning loss, sebuah istilah yang sering digunakan untuk menyebutkan hilangnya pengetahuan dan ketrampilan baik secara umum ataupun spesifik.

Pada April 2021, pemerintah telah memberikan izin pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTM) dengan syarat dan ketentuan yang tercantum dalam SKB Empat Menteri. Terbitnya SKB Empat Menteri ini disambut baik oleh para orang tua, siswa, dan guru.

Namun, dengan ketentuan PTM yang hanya mengajar 50% dari jumlah siswa di kelas, maka hal ini menimbulkan permasalahan baru bagi para guru. Guru harus membagi siswa menjadi dua kelompok, yaitu satu kelompok pembelajaran online dan satu kelompok pembelajaran face to face (tatap muka). Beban guru bertambah dua kali lipat. Dalam waktu yang hampir bersamaan, guru harus mampu mengelola kelas online dan kelas tatap muka secara simultan.

Beberapa instansi pendidikan telah menyosialisasikan Blended Learning sebagai salah satu alternatif model pada PTM. Sayangnya, guru hanya sebatas dipahamkan bahwa Blended Learning adalah pembelajaran campuran antara pembelajaran online dan pembelajaran tatap muka saja. Alhasil, banyak guru yang kebingungan mengaplikasikan Blended Learning di dalam kelas mereka.

Masih banyak guru yang belum mengetahui, bahwa blended learning memiliki banyak model. Dalam laman teachthought.com, ada 12 jenis model Blended Learning, yaitu Station Rotation, Lab Rotation, Remote, Flex, The “Flipped Classroom”, Individual Rotation, Project-Based, Self-Directed, Inside-Out, Outside – In, Supplemental, dan Mastery Based.

Dari 12 jenis model Blended Learning tersebut, The “Flipped Classroom” adalah model yang paling mudah untuk diaplikasikan oleh guru dan sesuai dengan konsep PTM. Flipped Classroom atau kelas terbalik adalah model pembelajaran di mana siswa mempelajari terlebih dahulu materi pembelajaran, kemudian diikuti dengan tatap muka secara langsung untuk membahas materi yang telah dipelajari, diskusi, praktik, bahkan pendampingan.

Bagaimana penerapan model Flipped Classroom pada Pembelajaran Tatap Muka Terbatas?

Pertama, guru membagikan materi pembelajaran, biasanya berupa video dan handout yang dilengkapi dengan latihan soal untuk mengukur tingkat pemahaman siswa. Materi ini dibagikan kepada siswa sebelum pertemuan tatap muka atau pada saat siswa mendapatkan jadwal kelas online di rumah. Materi pembelajaran dibagikan oleh guru melalui sebuah Learning Management System (LMS) yang tersedia secara berbayar atau gratis dan melalui berbagai media sosial yang tentu saja harus dapat diakses oleh siswa secara merata. Dengan demikian,  siswa memiliki keleluasaan untuk mempelajari materi dengan gaya belajar masing-masing dan waktu yang tersedia. Dalam tahap pertama ini, diharapkan siswa dapat mencapai dua tahap pembelajaran, yaitu “mengingat” (remembering) dan “memahami” (understanding) materi yang telah mereka pelajari.

Baca juga:   Flipped Classroom Model: Solusi bagi Pembelajaran Darurat Covid-19

Kedua, pada saat pertemuan tatap muka guru dan siswa membahas jawaban soal latihan yang telah dikerjakan para siswa sebelumnya. Saat pembahasan tersebut, guru lebih memperhatikan dan mendampingi siswa yang belum menguasai materi. Siswa yang sudah menguasai materi dapat diarahkan untuk membantu temannya memahamkan materi dengan baik (peer teaching). Kegiatan lainnya saat tatap muka adalah, berdiskusi secara berkelompok untuk menganalisis kasus terkait materi, praktik, presentasi, atau kegiatan interaktif lainnya. Dalam tahap ini, para siswa diharapkan mampu mencapai tahap pembelajaran berikutnya, yaitu menerapkan (applying) dan menelaah (analyzing).

Ketiga, setelah kelas tatap muka berakhir maka kegiatan dilanjutkan dengan pemberian penilaian harian (ulangan) atau tugas berbasis proyek di rumah. Dalam tahap ini, siswa diharapkan mencapai tahap pembelajaran tertinggi, yaitu menilai (evaluating) dan mencipta (creating).

Dari tiga rangkaian proses pembelajaran dapat disimpulkan bahwa; model pembelajaran Flipped Classroom adalah pembelajaran yang berpusat pada siswa, guru  dapat memanfaatkan waktu dengan lebih efisien ketika melaksanakan pembelajaran tatap muka dan siswa dapat mempelajari materi sesuai dengan gaya belajar yang mereka sukai. Siswa lebih aktif, mandiri, dan bertanggungjawab atas pembelajaran mereka sendiri

Namun demikian, Flipped Classroom juga memiliki beberapa kelemahan. Siswa yang memiliki motivasi belajar rendah belum tentu mengikuti perintah guru, misalnya menonton dan memperhatikan video materi yang dibagikan oleh guru. Sehingga saat kelas tatap muka, mereka sama sekali belum memiliki bekal pengetahuan yang cukup dan mengalami kesulitan memahami materi pembelajaran hari itu.

Di sinilah, orang tua memiliki peran yang sangat besar dalam kemajuan pembelajaran anak. Komunikasi yang baik antara orang tua, anak, dan wali kelas sangat membantu kemajuan belajar anak. Orang tua harus mengetahui bahwa anak akan mendapatkan materi pembelajaran beberapa hari sebelum kelas tatap muka (pada saat kelas online) pada setiap mata pelajarannya. Tugas orang tua adalah memastikan bahwa anak-anak mereka sudah melihat dan memahami materi pembelajaran yang dibagikan. Dan setelah pertemuan tatap muka dilaksanakan, orang tua harus bertanya kepada anak mereka apakah ada kegiatan tindak lanjut seperti ulangan harian ataupun penugasan.

Melihat pentingnya pengawasan dan pendampingan dari orang tua, maka pihak madrasah/sekolah perlu memasukkan orang tua/wali ke dalam LMS yang digunakan oleh madrasah/sekolah dan untuk itu perlu diadakan sosialisasi kepada mereka. Dengan bergabungnya orang tua/wali ke LMS tersebut maka mereka akan dengan mudah memantau kemajuan pembelajaran putra-putri mereka. Kerjasama yang baik antara pihak sekolah, orang tua dan siswa akan menyukseskan pelaksanaan Flipped Classroom. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Kapuas

0

Makrifat Kematian

0

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Pengantar Kepemimpinan

Makrifat Kematian

Kapuas

1,166FansLike
59FollowersFollow