Friday, September 17, 2021
spot_img
BerandaTips HiseriGusti Allah sing Ngatur

Gusti Allah sing Ngatur

Pengalaman Menemani Pasien Covid-19

Oleh Prof. Dr. Ali Saukah, M.A.
Guru Besar Universitas Negeri Malang

Suyanto.id–Aku mulai menulis catatan ini pada hari kedua setelah menantuku, Adhi, suami Afia Fitriani (Apik, si kembar yang tinggal di Solo), dinyatakan positif Covid-19 hasil tes Swab Antigen awal bulan Januari 2021. Adhi melakukan swab di sebuah RS dekat kantornya, Bank Jateng, di daerah Solo Baru. Dua hari setelah tes Swab Antigen, Adhi harus tes Swab PCR (polymerase chain reaction) untuk memverifikasi hasil tes Swab Antigen dan hasilnya juga positif.

Mungkin cerita tentang seseorang yang dinyatakan positif Covid-19 tidak lagi menarik karena sudah begitu banyaknya, termasuk para selebritas dan pejabat, bahkan teman dekat. Aku menulis cerita ini bukan semata-mata karena penyintas tersebut adalah menantuku, melainkan karena keberadaanku dan istri pada saat Adhi dinyatakan positif terkena Covid-19 itu. Kami berada satu rumah dengan Adhi dan beberapa hari sebelumnya sempat berinteraksi dengannya. Alhamdulillah, dengan segera aku meyakini rangkaian persitiwanya telah diatur oleh yang Maha Kuasa Mengatur, yang ternyata hikmahnya luar biasa.

Awal Desember 2020, aku dan istriku berencana mengunjungi tiga cucu kami, anak-anak Afia Rifkiani, si kembar Anik yang tinggal di Yogyakarta. Cucu sulung kami, Arka yang berusia sembilan tahun, berencana melaksanakan sunat pada hari libur sekolahnya.

Akhir minggu pertama bulan Desember 2020, menjelang libur panjang sekolah, kami berangkat ke Yogyakarta. Kami berdua merasa tidak terikat lagi dengan jadwal kegiatan yang mengharuskan berada di Malang. Istriku sudah pensiun dua tahun sebelumnya, sementara aku dapat bekerja dari rumah (Work from Home, dari rumah mana saja).

Ternyata Arka, cucu pertama kami tersebut, baru terjadwal sunat menjelang akhir Desember 2020 sehingga kami berdua memutuskan tetap tinggal di Yogya. Beberapa hari setelah sunatan, kami berdua berencana pulang ke Malang dengan singgah beberapa hari di Solo bersama keluarga Apik dan Adhi. Daya tarik tinggal bersama keluarga Apik di Solo memang luar biasa. Kami bisa bermain dan ikut mengasuh (momong) dua cucu cewek, anak-anak Apik. Mereka berusia 3,5 tahun (Adinda) dan usia 4 bulan (Adhiya). Keberangkatan kami dari Yogya ke Solo sempat tertunda karena kami berdua masih perlu menemani dua adik cowok Arka (Kenzie, usia 7 tahun, dan Alarik, usia 3,5 tahun) karena ditinggal ke dokter untuk kontrol pascasunat.

Kami tiba di Solo beberapa hari sebelum pergantian tahun. Kami berencana meneruskan perjalanan ke Malang hari Senin di awal Januari 2021 karena tidak ingin mengalami kesulitan akibat libur panjang Natal dan Tahun Baru. Namun, sehari sebelum rencana pulang, anak laki-laki kami, Aditya Wibisono (Adit), yang selalu mengantar kami naik mobil pribadi akan ada kegiatan di Yogya. Oleh karena itu, kami menjadwal ulang kepulangan menjadi hari Jumat yang ternyata berarti empat hari setelah Adhi dinyatakan positif Covid-19.

Andaikata Adit tidak menunda mengantar kami di hari Senin, kami berdua sudah berada di Malang. Kami berdua tidak akan ambil risiko tertular untuk pergi ke Solo lagi menemani Apik, si Kembar, mengasuh kedua anak balitanya dan melayani kebutuhan makan dan kesehatan suaminya, sambil tetap menunaikan tugas-tugasnya sebagai dosen di Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS).

Pendek kata, beberapa kali penundaan kepergian kami dari Yogya ke Solo dan dari Solo ke Malang, ternyata seperti diatur oleh manajer yang mengatur perjalanan kami agar tetap berada di Solo saat Adhi dinyatakan positif Covid-19. Ada Manajer Yang Maha Kuasa mengatur perjalanan kami. Aku jadi ingat pepatah lama dalam Bahasa Inggris, Men propose it but God disposes it, ‘Kami hanya bisa merencanakan dan Allah Swt. yang Maha Kuasa menentukan apakah rencana kami itu akan baik jika terlaksana atau tidak’.

Aku sampaikan kepada istri dan anak-anak bahwa itu semua Gusti Allah sing ngatur. Allah Swt. telah mengatur agar kami berdua tidak jadi pulang ke Malang sesuai dengan rencana kami agar bisa membantu kesulitan rumah tangga Apik. Ternyata hikmahnya luar biasa.

Andai sudah pulang ke Malang, rumah yang ditempati Adhi sekeluarga tidak akan ada yang menghuni kecuali Apik beserta kedua anak balitanya, Adinda yang masih sangat bermanja-manja kepada kedua orang tuanya, dan Adhiya, yang masih menjalani ASI eksklusif. Tanggung jawab Apik menjadi jauh lebih berat karena Adhi harus mengisolasi diri di kamarnya sendiri sesuai protokol kesehatan pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Apik akan menjalani hidupnya seorang diri, setiap hari mengasuh dua anak balitanya, merawat suaminya yang perlu dilayani dengan pasokan makanan ke dalam kamarnya, dan pengobatan dari dokter, ditambah lagi kegiatan yang masih harus dilakukannya sebagai dosen Prodi Psikologi UNS. Keberadaanku dan istri di rumah bersama mereka tampaknya sangat bermakna dari segi psikologis, membuat Apik merasa tidak sendirian, selalu ada teman (kedua orang tua kandungnya) yang diajak bicara tentang segala hal terkait kehidupan sehari-harinya. Selain itu, aku juga menemukan kepuasan dalam membantu mengasuh kedua anak balitanya dengan berbagai cara: menemani bermain Adinda sehari-hari (membaca buku, main petak-umpet, bersepeda, main bola, jalan-jalan pagi di halaman rumah dan lain-lain), menggendong Adhiya, menemaninya tidur sambil minum ASI yang sudah disiapkan dalam botol, dan pekerjaan lainnya yang lazim dikategorikan sebagai kegiatan rutin momong cucu.

Sebelumnya, beberapa saat setelah kami mendengar berita dinyatakannya Adhi positif Covid-19, kami sempat membahas tindak lanjut berita itu dengan beberapa alternatif rencana untuk kami berdua, aku dan istriku, yang termasuk golongan rentan terhadap Covid-19 karena faktor usia. Beberapa alternatif hasil perundingan kami dengan anak laki-laki kami, Adit, yang waktu itu masih berada di Yogya adalah sebagai berikut.

  1. Kami berdua akan diantar ke Yogya untuk isolasi mandiri di suatu tempat tersendiri agar terhindar dari kemungkinan tertular jika kami tetap berada dalam rumah bersama Adhi yang mengisolasi diri di kamarnya sendiri, atau;
  2. kami akan dicarikan tempat menginap di Solo untuk isolasi mandiri di luar rumah tempat Adhi mengisolasi diri, atau;
  3. kami akan diantar pulang ke Malang segera setelah anak laki-laki kami berada di Solo, atau;
  4. kami berdua tetap berada di rumah tinggal keluarga Adhi sehingga kami bisa ikut membantu mengasuh dua cucu cewek kami yang masih kecil itu.

Alternatif pertama sampai dengan ketiga memiliki implikasi yang sama, yaitu membuat Apik sendirian dalam menghadapi kesulitan ini dengan kondisi seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pertimbangan adanya implikasi seperti itulah yang menjadi paling dominan bagi kami berdua untuk mengambil keputusan memilih alternatif nomor 4, tetap berada di rumah bersama keluarga Apik sehingga kami bisa membantu mengasuh dua cucu cewek yang sangat menggemaskan itu.

Kami berdua merasa keputusan itu sudah sangat tepat setelah diberitahu bahwa jika kami akan dipindahkan untuk tinggal di tempat lain, kami harus melaksanakan tes swab untuk memastikan apakah kami tertular Covid-19 atau tidak, dan juga untuk memastikan bahwa kami tidak akan membahayakan orang lain. Selain itu, kondisi bangunan rumah di Solo, isolasi mandiri yang dilakukan oleh Adhi di kamarnya sendiri juga sangat memungkinkan untuk menjaga keamanan penghuni lain dari penularan Covid-19. Dalam rumah itu ada tiga kamar tidur yang masing-masing dilengkapi dengan kamar mandi sendiri. Selain tiga kamar tidur, juga ada ruang keluarga yang cukup luas untuk melakukan berbagai kegiatan keluarga dalam sebuah ruang terbuka yang ventilasi udaranya memungkinkan untuk pergantian udara setiap saat. Hanya si pasien, Adhi, saja yang geraknya dibatasi, hanya boleh beraktivitas dalam ruang kamarnya sendiri. Semua penghuni rumah sepakat dengan kesadaran penuh untuk mematuhi protokol kesehatan secara maksimal.

Interaksi Apik dengan suaminya dalam melayani kebutuhan makanan dan pengobatan dilakukan melalui pintu kamar yang dibuka sedikit untuk keluar masuknya makanan dan pengobatan. Komunikasinya selalu dilakukan melalui video-call, termasuk komunikasi Adhi dengan kedua anak balitanya.

Baca juga:   Dialog Imajiner Covid-19 dan Anak-Anak Sekolah

Pada hari pertama isolasi mandiri, Adinda anak pertama yang berusia 3,5 tahun menangis terisak-isak ketika dicegah berinteraksi fisik secara langsung seperti lazimnya waktu ayahnya itu masih sehat. Namun, selanjutnya Adinda menjadi sangat paham bahwa ayahnya sedang sakit sehingga tidak boleh keluar dari kamarnya. Adinda bahkan paham untuk mendoakan ayahnya agar segera sembuh dari sakitnya. Beberapa kali ungkapan Adinda disertai dengan kata-kata pengandaian “….nanti kalau bapak sudah sembuh….” Kata-kata tersebut bisa dimaknai sebagai doa seorang anak balita kepada ayahnya yang sedang menderita sakit terkena Covid-19.

Kondisi di rumah Solo menjadi seperti kondisi di rumah sakit. Ada pasien Covid-19 yang diisolasi di kamar, tidak boleh keluar dari kamar sama sekali. Tiap waktunya makan selalu ada petugas setia, istri pasien, yang mengantar makanan ke pasien dengan cara meletakkannya di depan pintu kamar dan meninggalkannya di depan pintu yang kemudian diambil oleh pasien dengan membuka pintu sedikit saja, terkadang sambil melihat dari jauh ada kedua anak balitanya sedang main, makan, atau sedang tidur.

Baca juga:   Pejuang Corona

Kehidupan seperti itu berjalan sekitar dua minggu. Kami penuh harapan, bahwa kondisi kesehatan pasien semakin membaik dari hari ke hari. Kami juga berharap semua anggota keluarga yang lain, termasuk aku, istriku, dan Adit, yang ikut tinggal menemani kami dalam satu rumah, tetap dalam kondisi sehat wal afiat, tidak ikut tertular. Mungkin tawakal kepada Allah Swt., berserah diri kepada Allah setelah kami semua melakukan ikhtiar sesuai dengan protokol kesehatan, yang telah membuat kami menjalani hari-hari panjang itu secara alami. Hal itu telah menjadi bagian hidup rutin yang harus kami jalani dengan perasaan seperti tidak ada masalah, mungkin karena kami tawakkal kepada Allah Swt., atau mungkin juga karena kami tidak punya pilihan lain selain menjalaninya saja.

Alhamdulillah, di sela-sela waktu kegiatanku melaksanakan tugas sebagai dosen UM dan tugas-tugas lain di luar UM, serta kegiatanku berolah raga (jalan pagi dan/atau bersepeda statis di dalam rumah), aku sempat berkomunikasi dengan Adhi melalui WA, berikut kutipannya.

Hari pertama isolasi mandiri:

Ali Saukah: Assalamualaikum ww.

InsyaAllah yakin Allah Swt. akan memberikan kesembuhan kpd Adhi yg disertai ikhtiyar semua nasehat dokter diikuti dan selalu berdoa, tambah rajin solat fardhu maupun solat sunat.

Banyak baca Al Quran utk ketenangan hati sehingga imun menjadi lbh kuat.

Granpa-ma memutuskan utk tetap tinggal di Mangkuyudan menemani Apik & Adinda-Adhiya… ikut isolasi mandiri. InsyaAllah kita semua akan tetap sehat wal afiat setelah kita ikuti protokol kesehatan.

Amiin ya rabbal ‘alamiin.

Adhi Baskoro: Waalaikum salam….. terima kasih grandpa. Yg di luar kamar (grandpa, grandma, apik, dinda, dhiya) mudah2an sehat, tidak tertular.

Ali Saukah: Baca hafalan Al Quran yg sdh dikuasai sdh cukup utk ketenangan hati, sambil berdoa utk diberi kekuatan dan kesembuhan yg tidak menyisakan sakit sama sekali.

Adhi Baskoro: Aamiin… ya grandpa.

Ali Saukah: Amiin ya rabbal ‘alamiin. Pakde akan datang dari Ygy utk bantu yg bs dibantu.

Adhi Baskoro: Aamiin… terima kasih.

Hari ketiga isolasi mandiri:

Ali Saukah: Sy ingin tahu selama 2 hari sejak hasil positif itu apa ada rasa sakit (derita sakit apa) yg dirasakan Adhi? Apa hny asam lambung itu (mual2 dan muntah)?

Adhi Baskoro: Mual muntah, indera penciuman berkurang, tidak bisa merasakan masakan. Kalau sebelum hasil positif demam, badan rasanya pegal2.

Ali Saukah: Kandane Adit kowe wis biso ngrasaake makanan yo? Alhamdulillah itu tanda2 pulih spt semula. Keluhan liyane piye?

Adhi Baskoro: Betul. Sudah bisa merasakan makanan dan membaui minyak kutus kutus.

Adhi Baskoro: Keluhan lain sudah hampir tidak ada. Lambung sudah membaik.

Ali Saukah: Alhamdulillah👍👍

Tetap jalani protokol kesehatan, konsumsi obat dan vitamin spt biasa… semoga jk tes swab lagi nanti hasilnya negatif. Sblm dinyatakan negatif, jalani terus protokol kesehatan dan pengobatannya.

Adhi Baskoro: Ya grandpa. Tadi siang saya juga sudah swab pcr. Hasilnya tiga hari lagi keluar.

Ali Saukah: Apa renc swab pcr mandiri hari senin besok? Semoga hasilnya negatif… alias sembuh.

Ali Saukah: Amiin ya rabbal ‘alamiin.

Adhi Baskoro: Ya grandpa.

Hari keempat isolasi mandiri:

Ali Saukah: Bgm perkemb kondisi kesehatan Adhi skrg? Merasa lebih baik, tetap sama dg sblmnya, atau ada keluhan lain?

Adhi Baskoro: Sudah lebih baik.

Ali Saukah: Alhamdulillah… tetap waspada dan taati protokol kesehatan sd ada hasil yg lbh jelas. Semoga Allah SWT sgr memberikan kesembuhan total kpd Adhi.

Adhi Baskoro: Aamiin… ya grandpa.

Ali Saukah: Bgm perkembnya? Apa sdh merasa lebih baik drpd sblmny?

Adhi Baskoro: Aamiin… ini alhamdulillah semakin membaik. Kmrn hasil swab pcr masih positif. Rencana pcr lagi minggu depan.

Ali Saukah: Bukan jarak 14 hari ya? Bukan minggu depannya lagi?

Adhi Baskoro: Nanti kalau minggu depan masih positif, minggu depannya pcr lagi.

Ali Saukah: Sebaiknya konsultasi dokter atau kantor Adhi.

Adhi Baskoro: Ya grandpa.

Ali Saukah: Apa msh ada keluhan-keluhan?

Adhi Baskoro: Sudah tidak ada keluhan.

Ali Saukah: Alhamdulillah… jadi skrg manfaatkan prokes utk pemulihan kondisi fisik…termasuk olahraga ringan dan makan dg asupan gizi maksimal sambil nunggu swab PCR berikutnya.

Adhi Baskoro: Ya, Grandpa.

***

Pada hari ke-12 isolasi mandiri, Adhi menjalani tes Swab Antigen dari Kimia Farma Solo dan hasilnya langsung bisa diperoleh: NEGATIF. Hasil itu sesuai dengan dugaan berdasarkan apa yang dirasakan oleh Adhi beberapa hari sebelumnya: tidak ada keluhan apa pun seperti yang dialami pada awal terpapar Covid-19. Untuk konfirmasinya, hasil tes Swab PCR juga dilakukan saat itu. Namun, hasilnya masih perlu ditunggu tiga hari kemudian. Protokol kesehatan ketat tetap dipatuhi hingga hasil Swab PCR diperoleh.

Akan tetapi, ternyata tiga hari kemudian hasil konfirmasi dengan Swab PCR menunjukkan bahwa Adhi masih positif dengan angka CT (Cycle Threshold) 35, beda dengan hasil Swab Antigen sebelumnya. Dengan demikian, kami kembali menjalani kehidupan isolasi mandiri, khususnya Adhi yang kembali mengurung diri di kamarnya.

Tes ulang baru bisa dilakukan setelah menjalani perawatan mandiri kira-kira sepuluh hari lagi. Jumat,  22 Januari 2021, Adhi menjalani tes Swab PCR lagi yang hasilnya baru diketahui Senin 25 Januari 2021. Walaupun hasilnya masih positif, angka CT-nya sudah menunjukkan perbaikan yang signifikan: angkanya menjadi 38,8 (batas minimal untuk dinyatakan negatif adalah angka CT 42).

Atas pertimbangan kondisi kesehatan Adhi, lebih dari sepuluh hari merasa sudah sehat wal afiat, akhirnya Adhi melakukan tes Swab PCR lagi (tes ketiga pascaperawatan/isolasi mandiri). Rabu, 27 Januari 2021,  yang hasilnya keluar Kamis 28 Januari 2021 dalam status NEGATIF. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin…!!

Alhamdulillah, kami sekeluarga memperoleh kekuatan dari Allah Swt. menjalani kehidupan yang tidak mudah selama kira-kira tiga minggu lebih dari sejak Adhi dinyatakan positif Covid-19 sampai dengan dinyatakan negatif dari hasil Swab PCR. Kehidupan kami selama  dua minggu itu tidak mudah juga karena kami harus menjalaninya di tengah-tengah berita meningkatnya jumlah penderita Covid-19, termasuk berita meninggalnya salah satu keponakan istri. Ia menjadi andalan finansial di pondok pesantren peninggalan orang tuanya di tanah kelahiran, di daerah Boyolali. Selain itu, kami juga merasa sedih atas meninggalnya mbakyu kandung istri di Semarang, 21 Januari 2021.

Kami sekeluarga seperti diuji untuk mempraktikkan tawakkal kepada Allah Swt. Ketawakalan kami dalam menunggu selama dua minggu, selang waktu menunggu hasil tiga kali tes dalam suasana hati yang tidak mudah digambarkan.

Alhamdulillah, dengan ikhtiar berobat dan mematuhi protokol kesehatan serta keyakinan bahwa semua itu telah diatur oleh Yang Maha Mengatur, doa kami dan rekan-rekan serta kerabat dikabulkan oleh Allah Swt. Akhirnya, Adhi benar-benar sembuh dari Covid-19 berdasarkan hasil test Swab PCR tanggal 28 Januari 2021, tanggal cerita ini diakhiri.

Solo, 28 Januari 2021

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pak Senam yang Saya Kenal

Growth Mindset dalam Pembelajaran Daring

Wanita Kebaya

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Growth Mindset dalam Pembelajaran Daring

Wanita Kebaya

Pak Senam yang Saya Kenal

1,166FansLike
57FollowersFollow