Sunday, February 5, 2023
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerHardiknas: Peluang Penerapan Penjaminan Mutu Sekolah di Masa Covid-19

Hardiknas: Peluang Penerapan Penjaminan Mutu Sekolah di Masa Covid-19

Junaidin
Mahasiswa Doktoral Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta dan Widyaiswara LPMP Kalimantan Tengah

Suyanto.id–Perhelatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2020 tercatat sebagai salah satu sejarah peringatan yang paling unik dan berbeda dalam riwayat penyelenggaraan pendidikan abad 21 ini. Tidak biasanya acara ini dilakukan dalam suasana hening tanpa perkumpulan dan persiapan sarana pendukung upacara sebagaimana lazimnya tata tertib yang berlaku pada beberapa tahun sebelumnya. Namun, tidak akan mengurangi makna dan bahkan akan lebih hidmat.

Hingga hari ini, jumlah kasus positif Covid-19 kurang lebih sepuluh ribu orang di 34 provinsi Indonesia. Korban meninggal dunia dari berbagai kalangan, tidak terkecuali guru. Ya, guru. Pada mereka negeri ini berharap masa depan akan selalu cerah. Pada hati dan seluruh potensi diri guru kejayaan tanah air ini akan diletakkan dan diimpikan. Seluruh komponen pendidikan, menempatkan peran strategis dan profesional gurulah yang mampu mengubah kondisi bangsa ini masa depan. Jepang bangkit setelah perang dunia kedua karena sangat percaya pada kekuatan dan kompetensi guru.

Selain itu, sekolah sebagai sebuah sistem sosial dengan segala atributnya juga merupakan variabel penting yang membentuk mutu lulusan. Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) mencatat terdapat 62.365 sekolah di tanah air yang perlu dijamin mutunya. Meskipun masih terdapat 2,27% (1,416) sekolah yang Tidak Terakreditasi (TT). Terdapat 18,15% terakreditasi C, dan 54,24% terakreditasi B, lainnya terakreditasi A. Artinya, jumlah sekolah yang belum memenuhi Standar Nasional Pendidikan (SNP) masih jauh lebih banyak daripada jumlah sekolah yang memenuhi SNP.

Mengapa kondisinya demikian? Tentu saja jawabannya sangatlah kompleks dan kita perlu menarik napas panjang disertai kesabaran tingkat tinggi sambil berdoa semoga Tuhan senantiasa menguatkan komitmen pada para hamba-Nya yang sedang mengelola dan menyelenggarakan proses pendidikan ini tetap kuat dan dilimpahkan kesejahteraan. Urusan pendidikan itu berkaitan dengan banyak aspek, ada kurikulum yang di dalamnya mensyaratkan pentingnya menguasai tujuannya secara tajam, muatannya yang mesti diartikulasi secara tepat, prosesnya harus efektif dan bermakna, dan evaluasinya pun harus edukatif.

Selain itu, anggaran besar harus tersedia disertai mutu belanjanya yang tepat sasaran, prasarana dan sarana pendukung yang mutlak siapkan dengan memperhatikan tingkat keragaman wilayah dan kebutuhan yang variatif, juga harus menjamin mutu pendidik dan tenaga kependidikan agar semua potensi sekolah dapat menjamin terselenggaranya proses pendidikan yang menghasilkan lulusan bermutu. Semuanya harus dikelola secara efektif dan efisien dalam masa normal dan darurat seperti saat ini.

Jika kita merenunginya terlalu dalam, hanya akan menjadi beban psikologi. Jika hanya dipahami saja, hanya akan menjadi pengetahuan. Jika hanya mengarapkan akan ada perbaikan dan peningkatan, hanya menjadi sebuah harapan saja. Namun demikian, tidak berarti tidak boleh berharap, justeru kita harus terus berharap, yaitu berharap pada apa yang dikerjakan, bukan berharap pada apa yang hanya diharapkan. Negara-negara Skadinavia mampu berdiri di puncaknya setelah mereka jatuh bangun kurang lebih dua abad, hingga Finlandia berada di bawah sorotan cahaya.

Baca juga:   Implementasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Beragam pendekatan yang dapat dilakukan, beragam cara yang dapat ditempuh, bahkan seribu jalan inovasi sangat mungkin dilakukan untuk mengisi ruang-ruang kosong secara terus-menerus. Sebab, berhenti berinovasi adalah sinyal awal kebangrutan peradaban. Memperbaiki yang salah sedikit-demi sedikit dan menyempurnakan yang sudah ada adalah ruang-ruang efektif yang mesti ditempuh. Negara maju yang kita saksikan saat ini adalah negara-negara yang telah bekerja siang malam mencari cara dan jalan keluar hingga dapat senyum di atas mimbar kemakmuran. Tuhan hanya menyuruh kita berusaha.

Setidaknya Finlandia telah berhasil menyedot perhatian dunia. Mereka meretas jalan menuju puncak dengan menjadikan lulusan terbaik sekolah menengah untuk dididik sebagai guru di beberapa perguruan tinggi terbaiknya. Siapa pun yang berminat memelih profesi ini diberikan kesempatan dan pelayanan yang sangat tinggi. Mewawancarai apa motivasinya menjadi guru dan meminta calon guru untuk membuat esai mengapa mereka ingin menjadi guru. Hati nurani bekerja tuntas untuk mencerdaskan setiap anak manusia tanpa diskriminasi. Mereka sukses memanusiakan manusia sebagaimana harapan filsuf Drijarkara. Semua sudut bekerja saling bahu membahu seperti mimpinya Ki Hajar Dewantara. Hingga guru sekolah dasar Amerika yang bermigrasi ke Finlandia merasa heran mengapa tanpa ada kompetisi dalam ruang-ruang kelas belajar anak-anak di negeri berpenduduk lima juta itu.

Pemimpin sekolah yang heroik pun belum tentu dapat menjamin mutu sekolah dan lulusannya segera menjadi unggul dalam waktu singkat. Karenanya, James Spillane menawarkan kepemimpinan terdistribusi sebagai alternatif terobosan perbaikan mutu internal sekolah. Malaysia telah mempraktikkannya di beberapa sekolah dan sejumlah artikel melaporkan hasil yang menggembirakan. Bahwa semua warga sekolah adalah pemimpin. Pemimpin-pengikut-dan situasi telah sukses berakselerasi dalam lingkungan sekolah-sekolah Amerika dimana uji coba dilakukan dan adopsi serta adaptasi yang tepat pun sukses dicapai oleh sekolah-sekolah Malaysia. Kita pasti bisa karena kita telah mengerjakannya.

Covid-19 telah hadir, tetapi guru tidak boleh absen dalam kelas maya. Kehadiran guru dan interaksi efektifnya dengan peserta didik secara online merupakan intervensi sekaligus investasi terbaik dalam pembelajaran masa Covid-19 dengan menggunakan berbagai platform teknologi yang tersedia. Para pemerhati masa depan anak manusia Wuhan telah melaporkan dalam beberapa artikel di jurnal internasional bahwa guru harus hadir secara online, tugasnya tidak hanya mentransmisikan pengetahuan, tetapi dapat “memimpin” dan “mendampingi” anak melalui bimbingan dan komunikasi secara efektif. Saya kira kita juga bisa. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow