Saturday, April 24, 2021
BerandaGagasan Ilmiah PopulerHarga Sebuah Kebebasan dalam Mengatasi Pandemi Covid-19

Harga Sebuah Kebebasan dalam Mengatasi Pandemi Covid-19

Prof. Dr. Marsigit, M.A.
Direktur Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Pendahuluan

Jika kebebasan adalah hak manusia, maka hal ini disebabkan karena eksistensi manusia berusaha menyadari pemaknaan esensi dirinya secara subjektif pada hubungannya dengan orang lain secara objektif.

Kesadaran manusia inilah yang membedakan eksistensi dan esensi manusia dibanding yang bukan manusia, benda misalnya atau bahkan Covid-19 itu sendiri.

Eksistensi manusia pada zaman modern (abad 18), oleh Rene Descartes didefinisikan sebagai cogito ergosum yang artinya ‘saya berpikir maka saya ada’. Pikiran manusia yang berpikir, oleh Rene Descartes dijadikan bukti yang tidak terbantahkan akan keberadaan manusia.

Transisi dunia, perubahan zaman, mampu membalikkan logika filsafat di mana Satre dengan filsafat eksistensialismenya menolak definisi eksistensi manusia dari Rene Descartes. Menurut Satre, manusia harus eksis dulu, baru kemudian berpikir untuk memaknai hidupnya. Dalam rangka untuk memaknai hidupnya secara esensial itulah, menurut Satre, manusia memerlukan kebebasan.

Dari perspektif spiritualitas, sikap dan pandangan Satre dianggap berbahaya karena kebebasan yang dipikirkan adalah kebebasan manusia sentris, yang kemudian dapat bermakna dipinggirkannya spiritualisme. Konsep kebebasan manusia berasal dari konsep ada pada dirinya dan ada untuk dirinya.

Untuk mengisi ruang antara “ada pada dirinya” dan “ada untuk dirinya” itulah kemudian lahir gagasan adanya tanggung jawab untuk memaknai realita di luar dirinya, termasuk benda-benda dan manusia selain dirinya. Rasa tanggung jawab untuk memaknai diri sendiri akhirnya berbenturan dengan kepentingan orang lain sehingga muncul konsep orang lain sebagai pengganggu atau pembuat dosa.

Berbekal konsep-konsep eksistensi dan esensi manusia dan jika dikaitkan dengan konsep lanjutan tentang ada, mengada, dan pengada, maka dapat dilakukan sintesis kaitanya dengan peran dan kedudukan manusia dalam pandemi Covid-19.

Sintesis Kebebasan Manusia Menghadapi Pandemi Covid-19

Kebebasan individual maupun komunal ternyata bersifat kontekstual. Maka, dalam konteks seperti apa kita mampu memikirkan kebebasan manusia menghadapi pandemi Covid-19? Kemudian makna dan tanggungjawab seperti apa individu dan komunal bebas berpendulum dengan Covid-19?

Secara geografis, dari data statistik urutan 10 (sepuluh pertama) korban terbanyak: Amerika, Spanyol, Italia, Perancis, Inggris, Jerman, Turki, Rusia, Iran, dan Cina. Disusul 10 (sepuluh kedua): Brazil, Kanada, Belgia, Belanda, India, Peru, Swis, Portugal, Ekuador, dan Arab Saudi. Penulis tidak berani menarik kesimpulan bahwa negara-negara tersebut adalah negara yang lebih bebas secara komunal dibanding dengan negara-negara yang belum disebut.

Tidak dipungkiri bahwa terdapat 8 (delapan) negara maju yang mempunyai kebebasan individual dan komunal yang lebih tinggi. Terdapat 1 (satu) negara yaitu Amerika Serikat yang penulis anggap spektakuler sebagai negara dengan kebebasan individual dan komunal tertinggi, tetapi dengan jumlah korban dan meninggal spektakuler juga tertinggi, yaitu sepertiga jumlah seluruh korban di dunia.

Kebebasan individu menentukan kapan, di mana,  bagaimana, dengan cara apa dan dengan siapa, terkoridor oleh batasan komunalnya. Di mana pun manusia berada, sadar maupun tidak sadar, lepas dari batasan komunalnya, pada saat ini, kebebasannya akan dibatasi oleh Covid-19.

Baca juga:   Perbedaan antara Covid-19 dengan Bakteri

Dari perspektif spiritualitas, seperti yang diyakini penulis, setinggi-tinggi Penentu, Pemberi dan Penghukum (determine) adalah Penentu, Pemberi, dan Penghukum Absolut, yaitu Allah Swt. Penulis meyakini berbagai cara Tuhan menegur dan mendekati umat atau ciptaan-Nya, salah satunya menguji dengan pandemi Covid-19. Penulis masih yakin, barang siapa didekati oleh Tuhannya, maka hadiah dan hukuman bersifat langsung, salah satunya diberikan bagaimana bersikap terhadap Covid-19.

Orang menjadi bertanya dan berefleksi tentang kasus Covid 19 di Amerika, dengan kebebasan individual dan  komunal tertinggi, dengan korban spektakuler tertinggi pula.

Orang awam bisa mengikuti pendekatan, cara, dan metode tiap bangsa mengatasi Covid-19. Dengan kebebasan individual dan komunal tertinggi, Amerika Serikat mempertontonkan demokratisasi liberal sebagai cara untuk mengatasi Covid -19.

Baca juga:   Inovasi Kepala Sekolah Mengefektifkan PJJ di Masa Pandemi

Penulis berpendapat, bukan masalah demokrasinya, tetapi masalah liberalnya yang mungkin berbanding lurus dengan semakin merajalelanya Covid-19 di sana. Di dalam term “liberal” tersembunyi kebebasan mutlak, bebas bagi warga negara dan negara bagian di sana untuk menentukan sikap terhadap pandemi Covid-19.

Penulis melihat dampak dari kombinasi faktor psikologis dan budaya kebebasan, kapital industri, perdagangan, ekonomi, dan bisnis menyebabkan terjadinya kegamangan pimpinan dalam menentukan kebijakan yang solid yang diperlukan untuk menanggulangi pandemi Covid-19.

Di tempat lain, seperti di Indonesia dari penataran P4 Pancasila dan dari 4 (empat) pilar kebangsaan, secara implisit terkandung bahwa kebebasan yang dikehendaki adalah kebebasan yang bertanggung jawab, yaitu kemerdekaan. Terkandung makna bahwa jika “hak” adalah azasi bagi manusia, makan harus dibarengi secara komprehensif (dibaca: manusia seutuhnya) azasi-azasi yang lain: kewajiban azasi, tanggung jawab azasi, kebutuhan azasi, pergaulan azasi, ibadah azasi, pekerjaan azasi, kehormatan azasi, pelayanan azasi, keadilan azasi, bicara azasi, dan seterusnya.

Kesimpulan

Dengan komunal berbangsa dan bernegara Pancasila terkandung spiritualitas, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan, lahirlah di Indonesia semangat Gotong Royong.

Gotong Royong di Indonesia telah dan sedang dibuktikan keampuhannya untuk menanggulangi pandemi Covid-19. Tidak perlu bukti lagi bagaimana peran serta segenap masyarakat dan komponen bangsa dalam bahu membahu mengatasi wabah Covid-19.

Mari bersama kita buktikan bahwa kebebasan yang bertanggung jawab ala Indonesia mampu mengatasi pandemi Covid-19.

Itulah sebuah harga kebebasan yang mestinya patut kita perjuangkan.

Referensi

Descartes, R., 1637,  Discourse on the Method and Principles of Philosophy

Roylab Stat, 2020, (LIVE) Coronavirus Pandemic: Real Time Counter, Worl Map, News

Sartre, 1943,  Being and Nothingness / L’être et le néant.

Sartre, 1946, Existentialism Is a Humanism /  L’existentialisme est un humanisme

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

PP 57/2021

Fajar Pertama Bulan Ramadan

Elegi Lembah Pujian

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow