Monday, November 30, 2020
Beranda Pendidikan Hari Santri: Mementum untuk Refleksi Diri

Hari Santri: Mementum untuk Refleksi Diri

Ainun Mahfuzah, M.Pd.
Kandidat Doktor Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta

“Bangga-membanggakan, momentum peringatan hari santri hendaknya dibarengi dengan refleksi peningkatan kualitas dan kuantitas diri.”

Suyanto.id–Hari Santri Nasional (disebut juga Hari Santri atau HSN) tahun ini diperingati masyarakat muslim di Indonesia pada Kamis, 22 Oktober 2020. Hari Santri ditetapkan Presiden Jokowi melalui Keppres Nomor 22 Tahun 2015. Tanggal 22 Oktober dipilih lantaran bertepatan dengan peristiwa bersejarah, yakni seruan Pahlawan Nasional K.H. Hasyim Asy’ari kepada seluruh umat Islam untuk berjihad melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali Indonesia pascaproklamasi.

Hari Santri untuk pertama kalinya digelar tahun 2016 dengan mengusung tema “Dari Pesantren untuk Indonesia”, dilanjutkan “Wajah Pesantren Wajah Indonesia” (2017), “Bersama Santri Damailah Negeri” (2018), dan “Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia” (2019). Tahun 2020 ini perayaan Hari Santri berbeda dengan tahun sebelumnya karena akan diselenggarakan secara virtual. Tema yang diangkat adalah “Santri Sehat Indonesia Kuat”. Isu kesehatan diangkat berdasar fakta bahwa dunia internasional saat ini tengah dilanda pandemi global Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).



Santri dan Pesantren

Kata santri tidak terlepas dari seseorang yang sedang menuntut ilmu di pesantren. Berdasarkan UU Nomor 18 Tahun 2019 Pasal 5 Ayat 1 dan 2, syarat minimal sebuah lembaga bisa disebut pesantren adalah keberadaan kiai, santri yang bermukim, pondok atau asrama, masjid atau mushala, serta kajian kitab kuning atau dirasah islamiah.

Pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung tinggi dan melestarikan tradisi, budaya, tatanan kehidupan islami dalam proses pendidikan kepada santrinya. Dengan demikian, pesantren memiliki pola pendidikan yang berbeda dengan sekolah maupun madrasah. Berdasarkan PPDP (Pangkalan Data Pondok Pesantren) tahun 2020, jumlah pesantren di Indonesia sebanyak 26.967, yang terdiri atas 12.661 pesantren salafiyah dan 14.306 pesantren kombinasi.

Pada awalnya pesantren dikenal sebagai pendidikan salaf. Pola pendidikannya dinamakan sorogan atau bandongan. Metode ini menguji sejauh mana santri memahami bacaan kitab kuning. Seiring kemajuan zaman, pesantren berbenah, kemudian dikenal istilah pesantren modern. Pesantren pun kemudian memiliki sekolah formal berupa sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi. Selain itu, ada pula program cepat membaca kitab kuning, tahfidzul Quran, menulis indah (kaligrafi), penghafal hadis-hadis nabi, serta pengembangan kemampuan bahasa asing–umumnya bahasa Arab dan bahasa Inggris.

Kehidupan Santri di Pesantren

Ada berbagai macam ciri khas santri di pesantren, di antaranya sebagai berikut.

1. Kehidupan sederhana

Sarung, baju muslim, dan kopiah merupakan pakaian yang wajib dikenakan pada kegiatan atau program pondok. Hanya ketika sekolah dengan kurikulum nasional atau saat bermain, santri boleh menggunakan celana dengan aturan celana kain dan di bawah lutut.
Berbeda dengan santri (laki-laki), santriwati (perempuan) memakai daster/jubbah/kerudung.

2. Kitab kuning

Pada kurikulum pondok pesantren buku/kitab yang digunakan santri/santriwati lebih dikenal dengan sebutan kitab kuning, yaitu kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran fikih, akidah, akhlak/tasawuf, tata bahasa Arab atau nahwu dan sharf, hadis, tafsir, ulumul Qur’aan, hingga ilmu sosial dan kemasyarakatan (muamalah). Kitab ini dikenal pula dengan istilah kitab gundul karena tidak memiliki harakat. Untuk dapat membacanya, dibutuhkan waktu belajar yang relatif lama.

3. Antre

Kegiatan antre bagi yang tidak terbiasa adalah hal yang sangat membosankan. Namun, bagi santri merupakan kebiasaan setiap harinya, mulai antre ketika mau ke WC, ke kamar mandi, berwudhu, hingga mengambil makan. Budaya mengantre di pesantren mengajarkan santri sabar menunggu giliran hingga sampai tujuan, menghormati dan menghargai hak orang lain, dan lebih mampu memanajemen waktu. Jika ingin mengantre paling depan, mereka harus persiapan dan datang lebih awal.

4. Mandiri

Ketika telah menyandang status sebagai seorang santri/santriwati, maka mereka dituntut untuk mandiri, seperti membagi waktu dengan berbagai jadwal dan kegiatan yang padat. Kemampuan membagi waktu ini semakin diperlukan ketika para santri sekaligus menempuh pendidikan formal.

5. Terbiasa saling berbagi

Perbedaan ekonomi, sosial, dan budaya para santri melebur atas nama belajar bersama. Seringkali ketika seorang santri mendapatkan kiriman makanan dari orang tua atau keluarga, langsung dibagi kepada teman-teman. Bahkan, dapat dikatakan bahwa kebersamaan para santri tidak bisa diukur dengan banyak atau sedikitnya makanan, melainkan diukur dari banyaknya yang berebut makanan itu.

6. Terbiasa dengan hafalan

Hafalan adalah suatu kegiatan yang sangat lekat dengan kehidupan para santri/santriwati, terlebih pada program-program tambahan, seperti tahfidzul Quran, program khusus bahasa, program penghafal hadis, dan lainnya. Tidak mengherankan apabila satu bulan mau mendekati ulangan dengan kurikulum pesantren, akan banyak santri/santriwati yang ditemui membawa buku hafalannya ke mana pun pergi. Bahkan, terkadang ketika sore/malam hari terdapat santri/santriwati yang berjalan-jalan sambil menghafal, ada juga yang sampai mengasingkan diri agar dapat mudah menghafal.

7. Kesetiakawanan yang tinggi

Kesetiakawanan di antara para santri sering ditemui, hal ini mungkin dilatarbelakangi karena santri di pesantren sama-sama terpisah dengan orang tua. Tak jarang terlihat santri/santriwati yang setia menunggu teman yang belum siap berangkat untuk salat berjamaah, pergi ke ruang makan, dan ke sekolah bersama-sama.

Kultur kehidupan santri/santriwati di pesantren hendaknya dapat dijadikan refleksi pada peringatan hari santri. Seorang santri hendaknya terus meningkatkan kualitas dan kuantitas diri. Santri seharusnya tidak hanya dikenal pintar mengaji, tetapi juga berpengetahuan luas untuk kesuksesannya serta dapat mengambil peran untuk kemajuan bangsa Indonesia.(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Indonesia Tanah Air Beta

0

Ibuku, Guruku

0

Catatan Seorang Guru

4

Fragmen Pohon dan Rimba

0

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Catatan Seorang Guru

Fragmen Pohon dan Rimba

Pendidikan pun Butuh Sentuhan

1,071FansLike
45FollowersFollow