Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaPendidikanHasil PISA dan Mutu Pendidikan: Bagaimana Solusinya?

Hasil PISA dan Mutu Pendidikan: Bagaimana Solusinya?

Oleh Amal Maliki
Kepala SMAN 01 Bombana dan Mahasiswa Magister Fisika/Geofisika UHO

Suyanto.id–Tahun 2020, pendidikan di Indonesia telah memasuki usia ¾ abad (75 tahun). Pada usia yang terbilang cukup matang ini, semestinya mutu pendidikan sudah beranjak dari ketertinggalan ke arah yang lebih maju (setidaknya mampu bersaing dengan negara-negara tetangga). Faktanya, harapan tersebut belum mampu diwujudkan.

Rilis terbaru PISA (Programme International Student Asessment) hasil tes 2018, skor membaca anak-anak Indonesia menduduki peringkat 72 dari 77 negara. Skor matematika berada pada peringkat 72 dari 78 negara. Sementara itu, skor sains bertengger di peringkat 70 dari 78 negara. Data demikian dikomentari oleh Kepala Balitbang Kemendikbud (Kompas, Desember 2019) sebagai suatu alarm dini untuk melakukan perubahan paradigma pendidikan di Indonesia. Hasil itu sekaligus menunjukkan masih tingginya disparitas mutu pendidikan antardaerah.



PISA merupakan penilaian pelajar internasional yang diselenggarakan tiga tahunan. Program ini diselenggarakan oleh OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development), yaitu Organisasi untuk kerjasama dan pengembangan ekonomi. Terdapat tiga indikator yang diukur melalui PISA, yaitu (1) kemampuan membaca (literasi), (2) kemampuan matematika (numerasi), dan (3) kemampuan sains.

Ketiga kemampuan itu dinilai secara acak menggunakan sampel beberapa anak yang prestasinya cukup mumpuni. Anak-anak yang menjadi sampel berasal dari setiap negara yang tergabung dalam OECD (Organisation for Economic Co-operation and Development).

Merujuk pada hasil PISA yang telah diuraikan, ada baiknya melakukan refleksi terhadap kinerja pendidikan yang selama ini sudah berjalan. Kinerja pendidikan adalah perilaku, aktivitas, dan etos kerja yang dimiliki oleh setiap pelaku pendidikan dalam mengelola pendidikan.

Salah satu indikator yang menunjukkan baiknya kinerja pendidikan adalah meratanya akses pendidikan yang dirasakan oleh para peserta didik di setiap wilayah/daerah. Saat ini akses layanan pendidikan masih belum merata. Hal ini merupakan tantangan yang harus dihadapi dengan serius melibatkan seluruh pemangku kepentingan pendidikan dan dijalankan dengan sehati (mengenyampingkan ego masing-masing sektor). Ada pun hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja pendidikan adalah sebagai berikut.

  1. Tiga kemampuan yang menjadi ukuran PISA harus ditularkan secara maksimal kepada anak-anak didik.
  2. Paradigma kinerja pendidikan harus diubah dari pola konvensional (menekankan pada proses) ke pola dinamis yang menekankan pada output dan outcome.
  3. Para pelaksana serta stakeholders pendidikan lainnya secara bahu membahu menangani masalah kinerja pendidikan kita secara bergotong royong.
  4. Anak-anak didik sebagai user atau pengguna pendidikan harus dijadikan sebagai subjek dalam proses penyelenggaraan pendidikan.
  5. Akses layanan pendidikan harus dipenuhi secara merata tanpa adanya diskriminasi (inklusif).
  6. Regulasi yang menghambat kemerdekaan berinovasi dan berkreasi dalam pengolahan pendidikan harus dipangkas secara proporsional.
  7. Strategi pembelajaran dan penilaian harus ditekankan pada pengukuran kemampuan ril anak.
  8. Kemampuan riil anak dikembangkan pada aspek literasi memahami bacaan/teks, matematis, dan literasi sains.
  9. Hasil belajar harus merujuk pada kemampuan anak yang sifatnya luas (tidak terbatas untuk keperluan akademik).
  10. Kemampuan anak mencerminkan apa yang seharusnya diperoleh dalam proses pendidikan, bukan sekadar angka-angka numerik yang tertulis di rapor dan ijazah.
  11. Kemampuan anak ditekankan pada output dan outcome pendidikan yang bermakna dalam kehidupan.
  12. Kebermaknaan pendidikan akan dibuktikan melalui kemampuan anak dalam menghadapi sekaligus memecahkan berbagai permasalahan hidup yang dihadapi serta penguasaan Iptek.
  13. Peran orang tua/keluarga, masyarakat, dan sekolah sebagai penyokong kuat pilar utama pendidikan harus terus diberdayakan.
  14. Pemanfaatan teknologi dan penguatan karakter semakin dioptimalkan.

Dengan melakukan hal-hal demikian, tantangan kinerja pendidikan yang cukup berat untuk menghadapi survei PISA berikutnya diharapkan teratasi dengan baik. Hal ini akan berdampak positif bagi pengembangan potensi diri anak didik sehingga anak-anak Indonesia akan mampu berkompetisi secara nasional, regional, maupun internasional di era globalisasi yang selalu disertai perubahan dinamis. (*)

spot_img
Sebelumnya
Berikutnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow