Friday, February 26, 2021
Beranda Gagasan Guru Hati Putih Yu Jum

Hati Putih Yu Jum

Anik Rofaida Lestari, M.Pd.
Guru IPA SMPN Takeran, Magetan, Jawa Timur

Suyanto.id–Sore ini hujan masih ngrecih, bunyi geludugnya masih bersahutan meski tidak begitu keras dan tidak berkilat. Kletak-kletik tetesan airnya menimpa setiap atap, menjadikan genting basah, dan membuat barisan air itu meluncur mengalir pada setiap ujung genting dan jatuh pada barisan genting paling bawah, menjadi air terjun mancur kecil menimpa bumi.

Dari balik jendela aku menatap awan berarak putih keabu-abuan. Bagai pulau-pulau kapas yang berjalan menjauh, entah kemana. Hawa dingin menerobos masuk ke kamarku mengibaskan helai kelambu. Badanku rebah terbungkus selimut rapat, memakai kaos kaki tebal menepis dingin.

Anganku pun menerawang pada masa silam masa kecil di desa tanah kelahiranku. Saat itu aku berusia sekitar tujuh tahun tapi sudah kelas 2 SD. Ya… karena saat berusia enam tahun aku sudah dititipkan oleh ibuku di SD Inpres di desaku. Di sekolah itu banyak guru teman ibu, karena ibuku juga guru SD di desa sebelah.

“Pinginmu itu segera sekolah,” cerita ibu beberapa waktu lalu.

Ketika kenaikan kelas oleh guruku aku dinaikkan meski niat awal ibuku menitipkanku. Kata bu guru aku sudah bisa mengikuti bahkan melampaui teman-temanku. Akhirnya ibuku pun menurut saja.

Ketika hujan sore kala itu, aku bersama adikku yang terpaut satu tahun denganku sehabis mandi duduk-duduk di teras rumah. Rambut pendekku setengah basah terguyur air saat mandi tersisir rapi. Dan wajahku “meblok-meblok” kena pupur atau bedak bayi berwarna putih berbau harum. Bedak bayi yang sangat terkenal waktu itu. Berwadah kaleng dari kardus berwarna kecoklatan. Pada tutup bagian atasnya bergambarkan kepala bayi dengan rambut ikal dan bertuliskan merk Rita.

Bibirku membiru agak kaku karena kedinginan. Badanku pun mulai menggigil. Oleh ibu aku bersama adikku dipakaikan sweeter kembar, hanya beda ukuran dan warna saja, punyaku warna merah jambu dan adikku biru karena adikku laki-laki. Ibuku memang sangat modis, jika membelikan baju atau apapun sering kembaran dengan adikku, selain indah dipandang juga agar mudah dikenali bahwa itu saudaranya.

Aku duduk bersandar pada kursi penjalin, sambil menatap hujan yang mengguyur desaku sore itu. Jalan depan rumahku belum beraspal masih berupa tanah dan ada batu-batu kecil berserakan. Air hujan yang mengguyur mengalir seperti sungai kecil berwarna coklat menggerus tanah meliuk liuk di sela sela batu. Daun bunga kenikir di halaman nampak hijau segar, kontras dengan warna bunganya yang orange. Batangnya kokoh berjajar-jajar dan.. oh itu ada boneka singa dari plastik di salah satu pangkalnya, ketinggalan saat aku membereskan setelah main kebun binatang-binatangan dengan temanku siang tadi.

Sesekali ada orang lewat di depan rumahku. Jika orang itu tetanggaku, mereka memakai payung, berjalan pelan-pelan, mengepaskan kakinya agar tidak kejeglong jalan yang berlubang. Paling-paling mereka ke warung Yu Kar membeli gorengan bakpia dan kemplang yang baru dientas dari wajan untuk cemilan sorenya bersama kopi pahit. Tapi jika orang yang lewat itu para pekerja yang berasal dari desa di ujung selatan paling pinggir kecamatan, mereka berjalan cepat, bergegas memburu waktu. Mereka berpacu dengan gelap. Yang mereka gunakan bukan payung namun memakai caping bambu lebar, kebayanya lusuh, dan jarik yang dinaikkan hampir sebatas lutut. Tubuhnya dikerukup dengan plastik bekas wadah pupuk dan memodifikasi sandal jepitnya dengan menambahkan tali dari sisa kain untuk dilingkarkan di atas tumitnya. Maksudnya agar sandal tidak mudah lepas. Mereka adalah wanita-wanita yang berasal dari tiga atau empat desa lebih ke dalam dari desaku dan bekerja ke kota sebagai buruh.

Baca juga:   Calon Bupati Itu

Secara geografis batas antardesa waktu itu sangat berjauhan, dan pagar batas antardesa adalah barisan gerombolan pohon-pohon bambu yang tinggi menjulang. Mereka berjalan kaki menempuh jarak sekitar 8 sampai 10 km. Berangkat sebelum subuh dengan membawa oncor, obor dari bambu atau pelepah daun kates yang diisi minyak tanah dan diberi sumbu pada salah satu ujungnya. Mereka berjalan bersama-sama meski dengan pekerjaan yang berbeda-beda. Ada yang bekerja di pasar sayur sebagai jasa angkut atau manol, ada yang bekerja di sawah sebagai buruh tanam atau matun (mencabuti rumput), ada juga yang berdagang dengan membawa hasil bumi dari desanya atau kulakan dari tetangga kanan kirinya dan dijual ke pasar sayur di kota untuk sekadar mencari laba yang tak seberapa.

Bagi ibu-ibu yang berdagang ini kostumnya ditambah satu lagi, yaitu stagen yg dililitkan di pinggangnya, selain agar perutnya tidak “kèngsèr” atau sakit karena menahan beban yang sangat berat, juga agar senik atau keranjang besar yang digendongnya tidak mudah melorot dair pinggang belakangnya. Salah satu diantara mereka adalah Yu Jum, wanita belia yang berdagang singkong, pisang, talas, daun pisang, sirsat, dan mangga jika musim.

Ketika subuh menjelang Yu Jum dan kawan kawannya sudah beristirahat dengan menurunkan seniknya di bok perempatan sebelah rumahku. Beberapa ibu-ibu tetanggaku yang pulang dari masjid mampir untuk membeli dagangannya. Sekitar 30 menit Yu Jum “ngempos” dan melanjutkan perjalanan. Yu Jum berparas manis sebenarnya, perawakannya tinggi semampai, hidungnya mancung matanya agak sipit dan rambutnya panjang lurus selalu digelung. Orangnya agak pendiam tapi sangat ramah, senyumnya selalu menyungging. Namun karena setiap hari berjuang menembus masa, bermandikan keringat berpeluh-peluh, menguras tenaga demi bocah-bocah kecil yang masih menjadi tanggung jawabnya sebagai ibu, kulit Yu Jum nampak agak legam, tumit kakinya pecah-pecah beradu dengan lumpur dan batu kerikil jalan-jalan desa. Pinggangnya ngapal menahan beban seniknya yang berpuluh kilo. Tetapi sabarnya luar biasa, utamanya dalam menghadapi berbagai macam karakter pembeli. Mulai yang mencela dagangannya, kurang inilah itulah, yang pesen sesutu akhirnya gak jadi dibeli, yang ngutang ketika ditanyakan malah nglabrak memarahi, dan menawar tanpa menggunakan hati. Yu Jum hanya tersenyum atau jika benar-benar menjengkelkan hanya diam. Sungguh meski kulitnya nampak legam tapi hati Yu Jum sangat putih. Terkadang jika pembeli membawa anak kecil, Yu Jum memberinya sedikit barang dagangannya agar anak itu senang, jambu misalnya, mungkin pikirnya dia sendiri punya anak seusianya di rumah. Sebagai pejuang kehidupan Yu Jum sosok wanita sangat luar biasa.

Baca juga:   Cahaya di Atas Cahaya

Tiba-tiba bahuku dipegang lembut dan aku kaget rupanya aku tertidur. Ibuku menyuruhku masuk karena hari hampir gelap. Efek tertidur sore aku menjadi bingung, menyangka pagi sehingga kusampaikan pada ibu

Sik peteng no buk, bukuku wis tak tata (masih gelap gitu lho bu, bukuku sudah aku tata).”

“Hei… iki bengi… magrib.”

Sambil masih agak terkantuk aku masuk rumah, lampu petromak sudah menyala dan azan magrib berkumandang. Segera kuambil mukena, turutan (semacam Al Qur’an tapi lebih tipis untuk belajar ngaji sebelum ada Iqro’) yang di dalamnya ku beri potongan lidi sebagai pembatas sekaligus sebagai penunjuk atau tuding saat belajar mengaji. Bersama ayah dan adikku aku berjalan menuju masjid. (*)

3 KOMENTAR

    • Bisa dikirim ke redaksi@suyanto.id. Tulisan terkait isu terbaru dengan panjang 400-700 kata. Tulisan karya sendiri, belum pernah diterbitkan, dan disertai gambar diri format landscape (lebar, bukan pasfoto). Untuk lebih detailnya, bisa baca-baca dulu tulisan yang sudah dipublikasikan di Suyanto.id. Ditunggu kiriman tulisannya, ya. 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Hari yang Dijanjikan

Menangis adalah Hak

Problematika Terurai

Kilasanmu Ayah

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Menangis adalah Hak

Kilasanmu Ayah

Hatiku Tak ‘Kan Berpaling Darimu

1,158FansLike
46FollowersFollow