Sunday, November 1, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Implementasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Implementasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Paryanta, S.Pd., S.I.P., M.Si.
Kadin Perpustakaan dan Kearsipan Kab. Belitung

Suyanto.id–Merujuk hasil Rapat Kerja Perpustakaan pada awal tahun (Rakerpus 2020), ada empat kegiatan bidang perpustakaan yang menjadi prioritas. Keempat kegiatan tersebut meliputi peningkatan akses dan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial, pengembangan budaya kegemaran membaca, pengembangan perbukuan, dan penguatan konten literasi serta pengembangan.

Dari keempat bidang kegiatan tersebut, fokus dan prioritas yang harus segera mendapat perhatian adalah pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Hal ini bukan tanpa alasan, perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya dengan melihat keragaman budaya, kemauan untuk menerima perubahan, serta menawarkan kesempatan berusaha, melindungi, dan memperjuangkan budaya dan hak azazi manusia.

Program ke depan, perpustakaan bukan lagi sekadar tumpukan buku dan tempat berkumpul membaca buku atau hanya sekadar tempat mencari bahan-bahan referensi, tetapi perpustakan berbasis inklusi ini menjadi tempat berlatih dan mengembangkan diri, menjadi tempat berinteraksi dengan komunitas sosial, serta working space tumbuhnya inovasi baru, bahkan pemustaka akan mampu menghasilkan produk maupun jasa tertentu yang akhirnya mampu mengembangkan nilai-nilai entrepreneurship (kewirausahaan).

Program unggulan

Program tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial ini sangat penting mengingat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2019 menempati peringkat ke 111 dari 188 negara. Salah satu unsur penunjang tinggi rendahnya IPM tersebut adalah unsur pendidikan (education) yang di dalamnya terdapat penilaian terhadap kinerja/kesadaran membaca (reading performance) suatu negara (Sudjono, 2020).

Pada sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2017 menunjukan, dari 27,7 juta penduduk miskin di Indonesia, 62% di antaranya tinggal di pedesaan. Kondisi ini menyebabkan pembangunan tidak merata di beberapa wilayah Indonesia, khususnya pedesaan, kepulauan, daerah terpencil, dan perbatasan. Keadaan ini mendorong meningkatnya arus urbanisasi dan kriminalisasi.

Dalam konteks inilah, program unggulan perpustakaan nasional berupa transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial menjadi sangat penting. Program ini diharapkan akan memberikan pengaruh (impact) langsung bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidupnya.

Baca juga:   Merawat Wajah Tampak Muda di Masa Covid-19

Di samping itu, transformasi perpustakaan juga mengarah pada upaya dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang mengedepankan teknologi. Pada Revolusi Industri 4.0, dibutuhkan penguasaan literasi yang tinggi. Dunia saat ini menghadapi Revolusi Industri 4.0 dengan sistem digitalisasi informasi serta pemanfaatan big data yang selalu memainkan peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Perpustakaan pun mau tak mau harus beradaptasi serta berevolusi sehingga tidak terlindas perubahan zaman.

Implementasi di daerah

Dalam program perpustakaan berbasis inklusi sosial tersebut, hendaknya perpustakaan dibuat lebih nyaman, diberi koneksi internet cepat, dan disediakan koleksi buku-buku yang tepat guna. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa transformasi perpustakaan telah berhasil mengubah wajah perpustakaan yang selama ini terkesan “pasif”. Dalam implementasinya hingga 2019, terdapat 334 perpustakaan desa dan kelurahan yang merasakan dampak positif paradigma baru ini. Bahkan di banyak daerah, perpustakaan telah menjadi motor penggerak ragam aktivitas masyarakat. Hal tersebut terwujud karena komitmen, sinergitas, dan kolaborasi banyak pihak dari stakeholder yang ada.

Program unggulan kegiatan perpustakaan yang saat ini telah berjalan di enam desa/kelurahan di Kabupaten Belitung dan kemungkinan besar akan terus bertambah. Perlu diketahui, masing-masing desa/kelurahan tersebut mendapat bantuan empat unit komputer, modem, server, smart TV, dan buku-buku referensi. Dengan dimilikinya fasilitas tersebut, maka perpustakaan daerah telah melakukan pelatihan/pendampingan dalam membuat kebijakan, penyusunan program kerja, sampai pada tahap pelaksanaan kegiatan. Saat ini perpustakaan desa telah banyak melakukan inovasi, di antaranya, membimbing masyarakat (pemustaka) dalam pembuatan pupuk kompos, budidaya jamur tiram, pembuatan aneka kue, les bahasa Inggris, dan lain-lain.

Baca juga:   Pendidikan di Maluku pada Masa Pandemi

Pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial ini merupakan jawaban atas upaya kita meningkatkan kecerdasan literasi masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat untuk pengembangan diri dan hal ini sangat relevan untuk membangkitkan masyarakat yang sedang terpuruk akibat pandemi Covid-19 saat ini. Masyarakat yang memiliki tingkat literasi yang mumpunilah yang akan mampu dan sanggup menghadapi kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pendidikan yang Memerdekakan

Puisi Pemuda

Udan Sore

3

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,044FansLike
44FollowersFollow