Monday, October 25, 2021
spot_img
BerandaBudayaIn Memoriam: Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

In Memoriam: Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono

Nizamuddin Sadiq
Ph.D. Candidate University of Southampton UK, Ketua Senat Mahasiswa FPBS IKIP Negeri Yogyakarta 1998-1999, dan Sekretaris Jenderal BEM UNY 1999-2000

Suyanto.id–Kabar duka menyelimuti dunia kesusastraan Indonesia. Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, seorang sastrawan dan pujangga sekaligus akademisi yang mumpuni, berpulang ke rahmatullah pada tanggal 19 Juli 2020 dalam usia 80 tahun. Innalillahi wainnailaihi rojiun.

Dua puluh dua tahun yang lalu, tepatnya bulan Oktober 1998, Pengurus Senat Mahasiswa (SM), FPSB IKIP Negeri Yogyakarta, memiliki hajat yang super istimewa, yakni seminar nasional kesusastraan. Kegiatan seminarnya biasa saja, namun kehadiran narasumber, yakni Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, NH Dini, Ahmad Thohari, Putu Widjaya, Dr. Suminto A. Sayuti, dan Dr. Faruq HT yang membuatnya menjadi istimewa. Selain itu, lokasi seminar yang diselenggarakan di Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, semakin mempertegas keistimewaan seminar ini. Bukan apa-apa karena saat itu tidak banyak seminar yang diinisiasi oleh lembaga kemahasiswaan di lingkungan IKIP Negeri Yogyakarta yang diselengarakan di hotel bintang empat. Alasan utama tentu saja karena tidak cukup dana untuk kegiatan itu.



Kepastian dan kesediaan Prof. Sapardi untuk hadir ke Yogyakarta tentu saja membuat panitia sangat senang, juga sekaligus harap-harap cemas. Senang karena dengan kehadiran Beliau akan “menaikkan gengsi” seminar tersebut dan menjadi magnet tersendiri untuk mendatangkan peserta. Harap-harap cemas jika Prof. Sapardi meminta sesuatu di luar kemampuan panitia.

Beliau datang naik kereta bisnis Jakarta-Yogyakarta, dijemput di Stasiun Tugu dengan mobil Toyota Kijang milik fakultas. Wajahnya berseri seolah berjumpa dengan anak-anaknya sendiri. Satu lagi, tampaknya Beliau sangat menikmati “layanan” ala mahasiswa yang kami lakukan. Sudah sampai tahap ini saja kami sudah sangat kagum dengan sikap Beliau.

Belum lenyap rasa kagum itu, kejutan lain sungguh di luar dugaan. Ketika akan menuju hotel, Prof. Sapardi bersikeras untuk diantarkan ke rumah koleganya, dosen UGM. Malam itu, Beliau akan bermalam di sana. Katanya dia sudah menghubungi koleganya tersebut. Perasaan kami tentu saja bercampur baur. Di satu sisi kami bergembira, itu artinya panitia tidak harus mengeluarkan biaya untuk menginap di hotel. Di sisi lain, kekaguman dan rasa hormat kami semakin mendalam. Dengan nama besar yang disandangnya ternyata Beliau sangat sederhana dan empati dengan panitia.

Baca juga:   Spirit Pendidikan: Dilahirkan UII, Diasuh UGM, Dikibarkan UNY

Setelah acara selesai, Prof. Sapardi hanya minta diantar ke Stasiun Lempuyangan karena akan mampir dulu ke kerabat di Solo, naik kereta Prameks. Beliau tidak mau menerima tawaran kami untuk mengantar sampai ke Solo karena tidak mau merepotkan panitia. Sungguh teladan yang tidak bisa dilupakan. Biasanya orang-orang dengan nama besar akan minta dilayani, bila perlu dengan menggelar karpet merah. Saya lupa apakah honorarium disediakan oleh panitia, yang jumlahnya tidak seberapa itu, diambilnya atau tidak.

Dua hari bersama Beliau, kami belajar banyak hal tentang kesederhanaan, empati, dan rendah hati. Kurang apa Beliau, seorang begawan sastra, profesor pula. Namun, semua itu tidak menjadikan Beliau mentang-mentang. Dari pengakuan Beliau pula saya tahu bahwa sudah diundang mahasiswa saja itu lebih dari cukup. Tidak perlu membebani mahasiswa dengan permintaan yang neko-neko dan berlebihan. Duh, Prof., ucapanmu menyejukkan kami.

Hal lain yang tidak pernah saya lupakan adalah pernyataan Beliau saat seminar berlangsung. Prof. Sapardi mengatakan bahwa, “Dunia sastra adalah dunia jinjingan”. Mengapa dunia jinjingan? Beliau menjelaskan bahwa dunia sastra lewat karya-karya sastra yang dijilid dalam bentuk buku pada saat itu dijinjing oleh para mahasiswa dan penikmat karya sastra dalam setiap kesempatan apapun.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jinjing artinya ‘membawa sesuatu dengan posisi tangan ke bawah dan tidak terlalu erat memegangnya’. Begitulah dulu para mahasiswa dan penikmat karya sastra, menjinjing novel atau karya sastra lain dalam kesehariannya. Sesuatu yang teramat langka untuk zaman sekarang.

Akhirnya, selamat jalan Prof. Sapardi Djoko Damono,
Namamu abadi dalam setiap huruf,
Yang engkau goreskan pada larik sajakmu.

Teladan sederhana dan empatimu abadi dalam hati,
Yang memantulkan cahaya ilahi.
Dari hati kembali juga ke hati.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana” menjadi prasasti,
Yang senantiasa menginspirasi.
Memantik imajinasi.
Dan melukis jejak api keabadianmu.

Selamat jalan sang Begawan!
Doa kami mengiringi kepulanganmu.

Elegi akhir pekan
Southampton, 19 Juli 2020.

spot_img

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
59FollowersFollow