Sunday, November 1, 2020
Beranda Cerpen Jendela Biru

Jendela Biru

Pipit Fitria
Guru SMK PUI Cirebon

Suyanto.id–Satu tahun kepulanganku ke tanah kelahiran sudah menuai bekas di dada. Waktu itu pula telah mengubah semua misteri dan kejanggalan demi kejanggalan yang ada. Tahun 2017, tepatnya aku dipersunting oleh seorang anak juragan galon dengan mahar sebesar tujuh juta rupiah itu ternyata tidaklah nyata menjadi milikku. Ia menagih kembali apa yang sudah diberikannya saat itu untuk membeli sisa kekurangan motor bututnya yang dibeli dari Pak Toto, Kades Plaosan.

“Uang ini milikku, jadi aku berhak mengambilnya kembali. Kamu jangan harap bisa menikmati apa yang kuberikan, itu tak lain hanya memenuhi syarat saja,” ujar Mas Fadil menarik uang itu dari tanganku dengan kasar.

Batinku bagai tertusuk belati. Menyayat terlalu dalam hingga sampai ke hati. Pedih, perih hingga menetes darah kecewa.

“Bukannya kau mencintaiku? Mengapa kau berubah?”

“Makan itu cinta. Buat apa aku mencintai seorang penipu!” tatapannya berang melirikku dengan tajam.

“Apa maksudmu penipu?”

“Kamu lupa ya, enam tahun yang lalu?”

Aku menerka dengan sangat dalam ingatanku. Rasanya harus membuka kembali luka lama yang sudah kututup rapat-rapat.

“Apakah kamu ingat? Enam tahun yang lalu keluargamu melakukan sengketa tanah? Hingga pada akhirnya pamanku turun tangan untuk mendatangkan keadilan?!” ucapannya mulai menyalakan api.

“Apakah kamu ingat, saat itu juga aku yang masih menempuh bangku perkuliahan hingga tak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya, yang dengan itu keluargamu telah mengambil semua hasil kerja sama itu?!”

“Apakah kamu ingat, kalau hari itu adalah hari yang sangat aku benci?!”

“Apakah kamu ingat kalau saat itu aku harus dengan rela menggendong ibuku yang sedang sakit keluar rumah akibat kalian usir?”

“Apakah kamu ingat, kalau….”

“Cukup, Mas. Cukup!”

“Bukannya perkara itu sudah selesai, mengapa kau ungkit lagi, Mas? Kau juga sudah tahu bahwa saat itu hanya salah paham. Keluargaku dijebak. Kami tak tahu apa-apa soal itu,” aku mencoba menyeimbangkan irama jantung yang sudah berdegup kencang. Nafasku memburu bercampur luka yang harus kubuka kembali.

“Aku tidak percaya!” tukas Mas Fadil berang.

“Mau ke mana, Mas?” aku dibuat penasaran dengan apa yang ada di sampingnya. Tas yang terlihat terisi penuh seperti ingin bepergian jauh.

“Jangan cari aku. Rasanya aku sudah muak dengan ini semua!” tukasnya. Ia mengaitkan tas ke lengan kanannya lalu pergi meninggalkanku yang tengah menahan sesak di dada.

“Kita bisa bicarakan baik-baik, Mas,” ucapanku yang memelas sudah ia abaikan. Bahkan saat aku terjatuh mengejarnya yang beranjak pergi, tetap ia tak peduli dengan luka di lututku.

Sudut mataku membuat anak sungai yang cukup panjang. Pernikahanku dengannya baru seumur jagung, aku menikahinya bukan tanpa alasan. Ia selalu ada ketika keluargaku tertimpa musibah. Bahkan saat aku hampir kehilangan nyawa, ia hadir memberikan sekantung darah. Kecelakaan yang membuatku harus berhutang budi padanya, akhirnya aku membulatkan tekad untuk menjadi masa depannya.

Baca juga:   Dendam Tujuh Turunan

Saat pertama mengenal, rasanya dunia begitu berwarna. Sosoknya yang lembut dan penyayang mampu menaklukanku yang cuek dan pendiam dengan orang asing. Inilah yang kukira masa depan tercerahkan dengan kehadiran seorang penggenap agamaku, Mas Fadil.

Kerjaan ayahnya yang sebagai juragan galon kerap sekali mengirimkanku tiga galon yang sudah terisi. Pada bulan berikutnya, ia mengutus karyawan untuk mengambil galonku yang sudah habis lalu diisi kembali. Hampir saat itu aku tak pernah merasakan kehausan bahkan ketika musim kekeringan melanda. Tanaman di depan rumahku juga tak lupa selalu kecipratan mineralnya. Air dari tangki yang meresap ke tanah hingga membanjiri kawasan tanamanku. Sungguh orang yang dermawan menurutku saat itu.

“Neng, sebaiknya makan dulu. Bibi liat makanan di meja masih utuh. Mas Fadil juga sedari sore tak menyentuhnya,” tukas bibi membuyarkanku.

“Biarin, Bi. Neneng sedang tidak nafsu makan,” aku memilih beranjak ke kamar dengan langkah gontai. Goncangan rumah tangga membuat pikiranku keriting.

Baca juga:   Bunga Matahariku

Mas Fadil sudah bosan berbicara denganku, sudah dua hari ini ia mendiamkanku tanpa sepatah kata pun. Kemarahannya adalah luka lama yang harusnya sudah ia lupakan. Ini murni jebakan, aku tak setega itu menyengsarakan keluarganya dan aku tak menyangka kejadiannya akan seperti ini.

Rasanya ingin kuterjunkan diri ke tebing yang tinggi, lalu mati dengan tenang tanpa beban. Sudah, kusudahi semua masalah dengannya. Sikapnya yang terkadang tak selalu stabil, membuatku takut berada di sisinya. Lihatlah, luka lama itu ia buka lagi. Sengketa berdarah sudah kukubur dalam-dalam. Ia membuka kembali dengan seenaknya saat bertengkar denganku.

Haruskah kuterlarut dalam amarahnya? Tetap, aku tak bisa. Anak-anaku yang telah mencegahnya. Apa yang terjadi jika kusudahi kekalutan ini dengan langkah pesimis. Saat itu aku teringat sebuah syair karangan Joko Pinurbo,

Perjalanan mungkin akan panjang berliku
Dan nasib baik tidak selalu menghampiriku
Tapi insyaAllah suatu saat
Bisa kutemukan sebuah kiblat
Di ufuk barat tubuhmu.”

Aku terhenyak. Suara ketukan pintu sukses membuyarkan lamunanku bahwa mentari telah bersinar terang. Siap menyambut siang dengan penuh kebahagiaan. Syafaq telah menghilang bersama duka yang kelam. Mas Fadil tersenyum mengembang dalam semburat bayangan. Wajah tampannya menuntunku agar menyudahi amarah. Sampai kapan pun, aku akan bersabar sampai pintu hatinya terbuka ribuan maaf dan ampunan untukku.

“Mah, aku sayang mamah. Mamah jangan sedih lagi ya,” Dea berlarian memelukku yang tengah menatap temaran di balik jendela biru itu. Senyumnya mampu menyihir hatiku yang kusut.

Aku akan selalu menantimu kembali, Mas. Gumamku mengelus kepala mungilnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Pendidikan yang Memerdekakan

Puisi Pemuda

Udan Sore

3

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,044FansLike
44FollowersFollow