Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerKarakter Kunci Sukses Hadapi Revolusi Industri 4.0

Karakter Kunci Sukses Hadapi Revolusi Industri 4.0

Prof. Dr. Anak Agung Gede Agung, M.Pd.
Dosen Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Bali

Suyanto.id–Riset Thomas J. Stanley (2019) terhadap 733 millioner di Amerika Serikat memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang. Hasilnya, IQ yang tinggi/superior dan sekolah di sekolah favorit atau perguruan tinggi bergengsi tidak termasuk 10 faktor utama. Temuan ini mengingatkan pada teori Daniel Goleman (1995 dan 198) sekaligus semakin meyakinkan kita bahwa kecerdasan intelektual (IQ) tidak lebih unggul daripada kecerdasan emosional (EQ) untuk kesuksesan seseorang. Penelitian Goleman (1995 dan 1998) menemukan, kecerdasan intelektual (IQ) hanya berkontribusi 20 persen terhadap kesuksesan seseorang. Sementara itu, 80 persen lainnya bergantung pada kecerdasan emosi, sosial, dan spiritual.

Berdasarkan temuan kedua pakar tersebut, maka tidak adil dan tidak bijaksana jika terlalu mengagung-agungkan kecerdasan intelektual tanpa mamandang pentingnya kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual yang banyak berkontribusi membentuk soft skill seseorang. Hasil penelitian Stanley (Agus, 2019) menunjukkan bahwa nilai yang baik (NEM, IPK, dan rangking) hanyalah faktor sukses urutan ke-30. Sementara itu, faktor IQ pada urutan ke-21 dan bersekolah di universitas/sekolah favorit di urutan ke-23. Agus (2019) menyatakan secara sederhana, bahwa nilai rapor anak rendah tidak masalah. Jika NEM anak tidak begitu besar, paling banter akibatnya tidak bisa masuk sekolah favorit, yang menurut hasil riset, tidak terlalu pengaruh terhadap kesuksesan.

Lalu, apa faktor yang paling berpengaruh teradap keberhasilan anak? Menurut riset Stanley, sepuluh faktor teratas yang mempengaruhi kesuksesan seseorang, yaitu:

  1. Kejujuran (being honest with all people)
  2. Disiplin kuat (being well-disciplined)
  3. Mudah bergaul (getting along with people)
  4. Dukungan pendamping (having a supportive spouse)
  5. Kerja keras (working harder than most people)
  6. Kecintaan pada yang dikerjakan (loving my career/business)
  7. Kepemimpinan (having strong leadership qualities)
  8. Kepribadian kompetitif (having a very competitive spirit/personality)
  9. Hidup teratur (being very well-organized)
  10. Kemampuan menjual ide (having an ability to sell my ideas/products)

Kesepuluh faktor ini tidak terjangkau dengan NEM dan IPK. Dalam kurikulum, semua ini ditegorikan softskill (karakter). Biasanya peserta didik memperolehnya dari kegiatan ekstra-kurikuler, seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah  (OSIS), Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di kampus, organisasi sosial, Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) yang nonafiliasi politik, dan lain-lain. Agus (2019) menyatakan bahwa mengejar kecerdasan akademik semata, hanya akan menjerumuskan diri sendiri secara nyata. Oleh karena itu, perlu dikejar juga kecerdasan emosional, sosial, dan spiritual agar kesuksesan ada di depan mata.

Baca juga:   Cooperative Learning Model: Solusi Peningkatan Kualitas Hasil Belajar dan Pembentukan Karakter Siswa

Selanjutnya, bagaimana para orang tua (pendidik informal), guru (pendidik formal), dan tutor/fasilitator (pendidik nonformal) menyikapi pentingnya pendidikan soft skill dan karakter dalam sistem pembelajaran (pedagogik dan andragogik) sehingga mampu menghasilkan luaran dan manfaat (output dan outcome)? Jawabannya, segera lakukan perubahan paradigma berpikir, bersikap, dan berperilaku para pendidik dengan mamandang bahwa pengembangan soft skill dan karakter adalah amat penting sesuai potensi anak didik/peserta didik/warga belajar. Dengan bemikian, potensi sukses dalam menghadapi tantangan era RI 4.0 dan mewujudkan cita-cita hidupnya semakin besar. (*)

spot_img

2 KOMENTAR

  1. Ysh. Bapak Thomas Sukardi.
    Terima kasih banget dan saya sangat senang atas pengkritisan dan sharingnya.
    Saya setuju bawa memang benar hasil penelitian Stanley tersebut tidak terlepas dari konteks sosial budaya. Kita juga tahu bahwa sangat benyak teori-teori atau hasil-hasil penelitian Barat yang tidak relevan diimplementasikan di Negara Timur. Hal ini disebabkan karena faktor sosial budaya masyarakat yang jauh berbeda. Secara umum literasinya mereka (Barat) berbeda signifikan dengan kita.

    Namun, dalam konteks penelitian Stanley tersebut bukanlah berarti bahwa 10 faktor tersebut ansih atau mutlak hanya karena soft skill, namun tentu ada peran faktor kecerdasan intelektual (IQ). Ketika memasuki karir tahap awal, fakror IQ seeseorang amat menentukan.
    Akan tetapi ketika telah memasuki tahapan berikutnya, terutama dalam menghadapi lingkungan sosial dunia kerja, yang pasti akan menghadapi banyak personal dengan berbagai karakteristiknya. Di sinilah faktor kecerdasan emosional (EQ) berperan penting seperti sikap jujur, disiplin, empati, ramah, toleransi, melayani, bijak, dst. Intinya bahwa untuk dapat bersosialisasi atau beradapsi dan atau dapat menguasai lingkungan sosial: orang yang dipimpin (pengikut), klien, pelanggan (customer) maka dibutuhkan kecerdasan emosional.

    Dapat saya interpretasikan bahwa untuk bisa sukses menguasai Iptek maka dibutuhkan IQ yang tinggi, sedangkan jika ingin sukses menguasai lingkungan sosial masyarakat dibutuhkan EQ yang tinggi.

    Terima kasih dan mohon maaf jika kurang berkenan.
    Salam kompak
    selalu

  2. Bagi negara yg sdh mapan/ maju ke 10 faktor it mungkin yg dibutuhkan, tp untk negara yg blm mapan/ maju IQ mungkin masih diperlukan. Lagi pula ke 10 faktor itu juga tidak lepas sama sekali dengan IQ, misal kepemimpinan (7), kepribadian kompetitif (8) , dan kemampuan menjual ide (10), ketiganya tsb tidak mungkin lepas dengan kecerdasan intelektual, karena ke3 hal tsb butuh strategi, butuh perhitungan yg matang dan menguntungkan. Apalagi dikaitkan dengan era RI 4.0, jika sudah betul2 diimplementasikan kesemua lingkungan pekerjaan tentu dituntut menguasai teknologi, dan teknologi butuh kecerdasan intelektual ( menguasai bidang keahliannya).
    Hasil riset ini memang memberikan informasi yang penting bagi para pimpinan, pendidik, atau yang lainnya. Namun tidak semua negara akan menghasilkan rangking seperti itu, apalagi Indonesia ( yang masih mengandalakan IQ).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow