Saturday, April 24, 2021
BerandaGagasan Ilmiah PopulerKebudayaan dan Ekologi Manusia

Kebudayaan dan Ekologi Manusia

Prof. Dr. Bambang Subali, M.S.
Guru Besar FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Budaya adalah semua hasil reka daya/akal budi manusia sehingga budaya merupakan kultur yang spesifik yang dimiliki oleh kelompok orang/suku pada suatu daerah maupun oleh suatu bangsa. Budaya berkembang sejalan dengan daya nalar dan karakter manusia. Dalam ekologi manusia, budaya merupakan faktor yang tidak dapat dipisahkan dari kelompok/suku/bangsa yang ada di tempat di mana mereka tinggal sebagai habitatnya. Dengan akalnya, relung ekologi manusia dapat amat jauh berada di luar habitatnya. Beberapa faktor yang mempengaruhi budaya dan akhirnya berpengaruh kepada ekologi manusia yang perlu ditambahkan dalam kajian buku Ekologi Manusia karangan Prof. Oekan S. Abdoellah, Ph.D. yang diselenggarakan oleh Yayasan Ar Baswedan antara lain: 

I. Kompetensi Manusia (diambil dari tulisan saya pada masukan draf Arah Kompetensi 1945, BSNP, November 2019)

A. Kompetensi Dasar (Basic Competence)

Kompetensi dasar merupakan kompetensi mendasar yang dimiliki oleh seorang manusia untuk menopang kehidupannya. Kompetensi dasar akan berkembang melalui usaha dan proses belajar, yakni belajar untuk mengetahui (learning to know), belajar untuk mengerjakan (learning to do), belajar untuk menjadi diri sendiri (learning to be), dan untuk hidup bersama (learning to live together). Untuk dapat belajar, seseorang harus menguasai ilmu pengetahuan dan memiliki kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, diperlukan tiga kompetensi untuk mendukung kompetensi dasar, yakni kompetensi spiritual, kompetensi ilmu pengetahuan, dan kompetensi belajar untuk belajar.

  1. Kompetensi Spiritual

Bagi masyarakat/bangsa yang religius, kompetensi spiritual adalah kemampuan untuk melakukan atau mendemonstrasikan sesuatu yang bukan hanya mengandalkan usaha diri, namun juga mengandalkan kepada kekuasaan dan berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan Tuhan Yang Maha Kuasa yang diekspresikan antara lain dengan:

  • Menerima, menjalankan, dan menghargai ajaran agama yang dianutnya, pada saat yang sama mampu menghomati, menerima dan menghargai keberagaman sebagai warga bangsa serta bersedia bekerja sama dengan pemeluk agama yang lain.
  • Menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan mengakui persamaan derajat, persamaan kewajiban dan hak asasi manusia, bersedia menghormati, dan menghargai keberhasilan orang lain, serta jujur, sabar, kerja keras, tenggang rasa, dan pemaaf.
  • Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan serta cinta bangsa dan tanah air sehingga senang bergotong royong dan suka tolong-menolong, bekerja sama, bernegosiasi, komunikatif, serta berperan aktif di masyarakat.
  • Menghargai hak, kedudukan, dan kewajiban serta menjunjung tinggi martabat, nilai-nilai kebenaran, mampu mengambil keputusan bersama dengan penuh pertimbangan yang didasarkan pada nilai moral yang dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, serta mampu mendahulukan kepentingan kemajuan bangsa yang berkeadilan di atas kepentingan pribadi atau golongan tanpa melepaskan diri dari kepentingan sebagai warga dunia.

2. Kompetensi Berbasis Literasi Ilmu Pengetahuan

Kompetensi berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) dalam abad 21 tidak lepas dari literasi data dan STEM. STEM merupakan integrasi dari berbagai disiplin ilmu (interdisiplin) yang menggabungkan Science, Technology, Engineering, dan Mathematics. STEM berkembang dengan berbagai akronim antara lain STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics), e-STEM (Environment, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics), STEMIE (Science, Technology, Engineering, Mathematics, Invention and Entrepreneurship), STEMAL (Science, Technology, Engineering, Mathematics, Art, Language), dan lain-lain. Pada konteks ini terfokus pada STEMAL. Literasi data menyangkut kemampuan individu dan warga bangsa untuk membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital. Literasi STEM-AL menyangkut hal-hal berikut.

  • Literasi sains (science) melalui penemuan fakta, konsep, prinsip, teori, dan prosedur baru dalam bidang sains baik dalam sains alami (natural science) maupun sains sosial (social science).
  • Literasi teknologi (technology) melalui kemampuan memahami, mengembangkan, menggunakan, mengatur, dan menilai inovasi bidang teknologi yang dikembangkan guna menemukan terobosan baru yang kreatif dalam bentuk penemuan aplikasi pemrograman dan digital.
  • Literasi engineering melalui kemampuan memahami, mengembangkan, menggunakan, mengatur, dan  menilai cara kerja mesin guna menemukan terobosan baru yang kreatif sehingga sebagai individu dan warga bangsa dalam bidang engineering dapat tampil sejajar dengan bangsa-bangsa lain.
  • Literasi seni (art) melalui kemampuan mengapresiasi dan mengembangkan serta mengaktualisasi seni sebagai ciri khas, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa sehingga melahirkan kekhasan seni sebagai budaya bangsa.
  • Literasi bahasa (language) melalui kemampuan menguasai bahasa internasional sebagai alat/sarana komunikasi global.

3. Kompetensi Belajar untuk Belajar

Kemampuan manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk berbudaya ditandai dengan semangat atau kemauan belajar untuk belajar agar kebutuhan dasar manusia sebagai manusia dapat terpenuhi. Dengan belajar untuk belajar mengetahui, belajar berbuat, belajar menjadi diri sendiri, dan belajar hidup bersama, maka eksistensi manusia sebagai makhluk sosial dan makhluk berbudaya akan dapat diaktualisasikan. Belajar untuk mengetahui diperlukan untuk menguasai ilmu pengetahuan (knowledge), belajar berbuat diperlukan untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang didasari dengan sikap (attitude), belajar untuk menjadi diri sendiri dan belajar untuk hidup bersama diperlukan nilai-nilai (values) yang tidak dapat lepas dari keyakinannya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Belajar untuk belajar tidak dapat lepas dari semangat belajar sepanjang hayat karena selama hidup manusia baik sebagai individu, warga bangsa, dan warga dunia akan selalu berhadapan dengan berbagai permasalahan akibat adanya ketidakpastian (uncertainty). Belajar untuk belajar juga belajar kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, dan pada situasi yang apa saja. Belajar untuk belajar juga dapat belajar dari sesama manusia dan belajar dari alam semesta.

B. Kompetensi Terintegrasi (Integrated Competence)

Kompetensi dasar oleh setiap individu atau sebagai warga bangsa akan dipadukan/diintegrasikan sebagai kompetensi yang membentuk suatu kesatuan (unity) yang melibatkan domain kognitif, domain afektif, domain sensorimotor, dan domain sosial yang ada dalam diri seseorang. Kompetensi yang terintegrasi tersebut diperlukan untuk mendukung 1) kompetensi untuk hidup (kompetensi biologis), 2) kompetensi untuk kehidupan (kompetensi sosial-budaya), dan 3) kompetensi untuk penghidupan baik untuk penghidupan di dunia maupun untuk penghidupan di akhirat.

  1. Kompetensi untuk Hidup

Kompetensi untuk hidup merupakan kemampuan manusia untuk bisa melangsungkan kehidupannya di dunia. Kemampuan tersebut berupa kemampuan untuk memenuhi kesejahteraan/kecukupan kebutuhan fisiologis (physiological needs), kebutuhan rasa aman dan keselamatan (safety and security needs), serta kebutuhan psikis atau kebahagiaan (psychological needs).

a. Kebutuhan Fisiologis (Physiological Needs)

Kebutuhan ini berhubungan dengan fisik tubuh manusia. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, seseorang tidak dapat bertahan untuk dapat hidup dengan baik. Kebutuhan fisiologis  meliputi:

  • Kebutuhan untuk mendukung proses metabolisme dan proses tumbuh kembangnya sel, jaringan, organ dan sistem organ penyusun tubuh manusia supaya berlangsung secara baik dan terbebas dari ancaman stunting, misalnya: oksigenasi, cairan, dan nutrisi.
  • Kebutuhan eleminasi yakni kebutuhan yang berhubungan dengan proses pengeluaran zat-zat sisa makanan yang telah diproses oleh tubuh melalui eleminasi urin atau buang air kecil dan pengeluaran keringat dan eleminasi alvi atau buang air besar.
  • Kebutuhan istirahat yakni kebutuhan yang dibutuhkan untuk merelaksasikan semua organ dan sistem organ tubuh yang sudah digunakan untuk beraktivitas seharian penuh agar terhindar tekanan secara emosional dan tubuh kembali bugar.
  • Kebutuhan suhu lingkungan yang kondusif untuk beraktivitas secara optimal.
  • Kebutuhan sandang dan papan tempat tinggal yakni kebetuhan terhadap pakaian penutup tubuh dan tempat untuk tinggal yang mampu memberikan perlindungan bagi diri seseorang.
  • Kebutuhan bereproduksi, sebuah kebutuhan yang harus dipenuhi karena pada dasarnya insting dan sifat dasar manusia adalah ingin mendapatkan keturunan. Dalam hal pemenuhan kebutuhan ini disesuaikan dengan umur, latar belakang seseorang, sosial budaya, etika dan nilai-nilai hidup, harga diri, dan tingkat kesejahteraan yang dimilikinya.

b. Kebutuhan Rasa Aman dan Keselamatan (Safety and Security Needs)

Kebutuhan selanjutnya adalah kebutuhan yang berhubungan dengan keselamatan dan keamanan manusia. Dalam hal ini kebutuhan akan keselamatan dan keamanan dibagi menjadi dua, yakni keselamatan fisik dan keselamatan fisiologis. Pertama, keselamatan fisik melibatkan situasi di mana mengurangi atau mengeluarkan ancaman yang ada dalam tubuh atau kehidupan kita. Ancaman tersebut meliputi penyakit, kecelakaan, kerusakan lingkungan, bencana, dan lain sebagainya. Kedua, keselamatan fisiologis berhubungan dengan keadaan psikis seseorang. Keadaan psikis tidak kalah pentingnya dengan keadaan fisik, jika psikis kita merasa terkena ancaman, aktivitas sehari-hari akan terganggu.

c. Kebutuhan Psikologis (Psychological Needs)

Kebutuhan psikologis merupakan kebutuhan yang berkenaan dengan jiwa yang terpenuhi dalam hal rasa tenang, nyaman, dan terbebas dari tekanan sehingga memiliki mental yang sehat dan hidup bahagia. Oleh karena itu, kebutuhan psikologis ditopang kebutuhan fisiologis atau dengan kata lain di balik badan yang kuat terdapat mental yang sehat.

Kompetensi untuk hidup akan dimiliki seseorang jika terpenuhi kebutuhannya baik berupa kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan keselamatan, serta kebutuhan psikologisnya. Semua itu tidak dapat terlepas dari integrasi kompetensi dasar. Dengan demikian, dalam memenuhi kompetensi untuk hidup, seseorang tetap berpegang teguh kepada kompetensi spiritual, kompetensi berbasis literasi ilmu pengetahuan, dan kompetensi belajar untuk belajar. Secara nyata seseorang harus menjaga lingkungan alam sekitar milik Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat lestari menyediakan kebutuhan fisiologis dengan menggunakan kompetensi yang berdasarkan literasi ilmu pengetahuan yang dikuasainya dan terus belajar untuk belajar memelihara lingkungan alam.

 2. Kompetensi untuk Kehidupan

Kompetensi untuk kehidupan berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan untuk hidup bermasyarakat serta kehidupan berbangsa dan bernegara.

a. Kebutuhan untuk Hidup Bermasyarakat

      Kebutuhan hidup bermasyarakat merupakan kebutuhan yang harus terpenuhi setiap manusia sebagai makhluk sosial yang religius. Supaya bisa memenuhi kebutuhan hidup bermasyarakat, seseorang harus mampu memahami perilaku keteraturan hidup sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat yang berpegang teguh kepada nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Untuk hidup di lingkungan masyarakat, diperlukan pemahaman terhadap karakteristik dan budaya masyarakat yang religius. Kesadaran akan adanya keberagaman suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) menjadi modal untuk hidup bermasyarakat.

b. Kebutuhan untuk Hidup Berbangsa dan Bernegara

Hidup berbangsa dan bernegara memerlukan modal utama berupa kejujuran. Dengan kejujuran, seseorang akan terhindar dari bujuk rayu untuk bertindak tidak adil atau merugikan orang lain. Bagi bangsa Indonesia, Pancasila dasar negara yang merupakan rujukan bagi setiap warga negara untuk hidup berbangsa dan bernegara dalam bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan berpegang teguh terhadap sila-sila dalam Pancasila, diharapkan bangsa Indonesia akan mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang berbeda ideologi.

3. Kompetensi untuk Penghidupan

Kompetensi untuk penghidupan berupa kapasitas diri untuk memiliki keahlian dalam memenuhi kebutuhan untuk penghidupan (livelihood) yang didasarkan pada nilai spiritual, literasi berdasarkan ilmu pengetahuan yang mendukung kehidupannya dan kemampuan untuk terus belajar guna mengembangkan diri untuk penghidupannya dan penghidupan yang berkelanjutan (sustainable livelihood) baik sebagai diri maupun sebagai warga bangsa. Untuk mendukung penghidupan dan kehidupan yang berkelanjutan, harus ditinjau dari aspek human capital, natural capital, dan finansial capital.

a. Kompetensi Human Capital

Kompetensi human capital, yaitu kemampuan berbasis modal intelektual religius baik dalam hal kemampuan menguasai pengetahuan, kemampuan bersikap, dan kemampuan melakukan keterampilan. Kompetensi ini diperlukan untuk menemukan penemuan-penemuan inovatif yang kreatif yang bersifat out of the box dalam upaya menghadapi ketidakpastian tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar kehidupan sebagai manusia yang religius. Human capital tidak dapat terlepas dari kemampuan individual, motivasi individual, kemampuan memimpin, kemampuan berorganisasi, dan kemampuan bekerja dalam kelompok dengan dasar berkehidupan yang religius.

b. Kompetensi Natural Capital

Kompetensi natural capital merupakan kemampuan untuk menguasai dan memberdayakan sumber daya alam, meliputi geologi, tanah, air, udara, dan semua organisme yang ada di lingkungan. Dengan memiliki kompetensi natural capital, seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidup dan penghidupan yang layak dan berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian alam sebagai amanah dari Tuhan Semesta Alam. Dengan demikian, pemanfaatan sumber daya alam justru mendasarkan pada pengelolaan yang mendasarkan pada kebutuhan ekonomi dan kebutuhan kelestarian ekologis.

Baca juga:   Mendekonstruksi “Mangan Ora Mangan” Sing Penting Ngumpul

c. Kompetensi Financial Capital

Kompetensi financial capital merupakan kemampuan untuk menguasai sumber daya ekonomi yang diukur dalam bentuk uang yang digunakan untuk berbisnis, untuk memenuhi apa yang dibutuhkan, untuk menghasilkan produk yang dibutuhkan, untuk memberikan layanan/jasa keuangan bagi ritel, perusahaan, investasi perbankan dan lain-lain. Kendati demikian, dalam menguasai sumber daya ekonomi tetap pada kerangka sistem ekonomi kerakyatan bukan sistem ekonomi hegonomi liberal kapitalistik.

Penguasaan kompetensi financial capital oleh seseorang, bangsa, atau negara akan mampu memenuhi kehidupan dan penghidupan yang berkelanjutan bagi bangsanya. Sejalan dengan Pancasila sebagai Dasar Negara Indonesia, maka poliltik ekonomi Indonesia diarahkan kepada penguasaan strategi pengembangan sistem ekonomi kerakyatan yang bertujuan untuk menyejahterakan seluruh rakyat Indonesia secara berkeadilan dan berkeadaban.

Baca juga:   Bagaimana Guru dan Siswa Bisa Kreatif?

II. Revolusi Industri (disarikan dari Mengenal Revolusi Industri dari 1.0 sampai 4.0 https://wartaekonomi.co.id)

Kebudayaan tidak terlepas dari perkembangan ilmu dan teknologi. Perkembangan teknologi di dunia dikenal dengan istilah revolusi industri. Istilah Revolusi Industri merujuk pada perubahan yang terjadi pada manusia dalam melakukan prose produksinya. Pertama kali muncul di tahun 1750 an, inilah yang biasa disebut Revolusi Industri 1.0.

Revolusi Industri 1.0 (mechanical production, equipment powered by steam and water)  melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin bertenaga uap dan tenaga air. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.

Revolusi Industri 1.0 berlangsung antara tahun 1750-1850. Saat itu terjadi perubahan secara besar-besaran di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi serta memiliki dampak yang mendalam terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan budaya di dunia. Bagaimana perbedaan ekologi manusia sebelum ada mesin dan sesudah ada kereta api tampak sangat nyata.

Revolusi Industri 2.0, juga dikenal sebagai Revolusi Teknologi adalah sebuah fase pesatnya industrialisasi di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Revolusi Industri 1.0 yang berakhir pertengahan tahun 1800-an, diselingi oleh perlambatan dalam penemuan makro sebelum Revolusi Industri 2.0 muncul tahun 1870.

Meskipun sejumlah karakteristik kejadiannya dapat ditelusuri melalui inovasi di bidang manufaktur, seperti pembuatan alat mesin industri, pengembangan metode untuk pembuatan bagian suku cadang, dan penemuan Proses Bessemer untuk menghasilkan baja, Revolusi Industri 2.0 umumnya dimulai tahun 1870 hingga 1914, awal Perang Dunia I.

Revolusi Industri 2.0 (mass production assembly lines requiring labor and electrical energy) ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dan lain-lain yang mengubah wajah dunia secara signifikan.

Revolusi Industri 3.0, yakni revolusi digital (automated production using electronic and IT). Kemunculan teknologi digital dan internet menandai dimulainya Revolusi Indusri 3.0. Proses revolusi industri ini kalau dikaji dari cara pandang sosiolog Inggris David Harvey sebagai proses pemampatan ruang dan waktu. Ruang dan waktu semakin terkompresi. Waktu dan ruang tidak lagi berjarak. Revolusi kedua dengan hadirnya mobil membuat waktu dan jarak makin dekat. Revolusi 3.0 menyatukan keduanya. Sebab itu, era digital sekarang mengusung sisi kekinian (real time).

Selain mengusung kekinian, Revolusi Industri 3.0 mengubah pola relasi dan komunikasi masyarakat kontemporer. Praktik bisnis pun mau tidak mau harus berubah agar tidak tertelan zaman. Akan tetapi, revolusi industri ketiga juga memiliki sisi yang layak diwaspadai. Teknologi otomatisasi membuat pabrik-pabrik dan mesin industri lebih memilih mesin ketimbang manusia. Apalagi mesin canggih memiliki kemampuan berproduksi lebih berlipat. Konsekuensinya, pengurangan tenaga kerja manusia tidak terelakkan. Selain itu, reproduksi pun mempunyai kekuatan luar biasa. Hanya dalam hitungan jam, banyak produk dihasilkan, jauh sekali bila dilakukan oleh tenaga manusia.

Revolusi Industri 4.0 (intelligent productionin corporeated with Intelligent o think (IoT), cloud technology, and big data), maka manusia telah menemukan inteligensi pola baru berupa mega teknologi dan data raksasa maka era disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa.

Disebut era disruptif merupakan inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada dan akhirnya menggantikan teknologi yang sudah ada. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak terduga oleh pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen baru sehingga menurunkan harga pada pasar yang lama.

Lebih dari itu, pada era industri generasi 4.0 ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Uber yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi di seluruh dunia atau Airbnb (layanan online yang menyediakan jasa sewa rumah atau apartemen/home stay) juga layanan travel yang mengancam pemain-pemain utama di industri jasa pariwisata yang selama ini dilayani dengan jaringan travel baik jasa transportasi dan hotelnya. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.

Kalau kita perhatikan tahap revolusi dari masa ke masa timbul akibat dari manusia yang terus mencari cara termudah untuk beraktivitas. Setiap tahap menimbulkan konsekuensi pergerakan yang semakin cepat. Perubahan adalah keniscayaan dalam kehidupan umat manusia

III. Kasus-Kasus yang Ada

  • Di daerah tengah kota maupun pinggiran, sudah berkembang home stay juga konversi lahan pekarangan yang diubah menjadi rumah sewa atau kamar sewa. Sementara itu, ada juga di daerah pinggiran kota yang sudah mengubah atau menjual sawahnya untuk membangun rumah sewa atau kamar sewa di tanah pekarangan. Hal ini dilakukan karena penghasilan dengan menyewakan rumah atau kamar jauh lebih besar dibandingkan mengolah lahan untuk pertanian. Rumah sewa atau kamar sewa harganya juga semakin membaik jika dibandingkan tetap dalam bentuk lahan sawah.
  • Di daerah pedesaan lahan pekarangan juga semakin sempit karena umumnya sudah diwariskan ke anak-anaknya. Sebagai kaum muda rata-rata jika tidak mengolah lahan di pedesaan mereka, lebih baik pergi sebagai tenaga kerja buruh di perkotaan. Akibatnya saat sekarang sangat sulit memperoleh tenaga untuk bekerja di sawah.
  • Di kawasan Klaten banyak petani yang semula hanya bekerja sebagai petani kemudian juga bekerja sebagai penarik becak ketika tidak bekerja di sawah karena sawahnya sudah selesai ditanami dan belum memerlukan penanganan lanjut seperti menyiangi gulma atau ketika pagi belum siap panen. Kendati demikian, dengan berkembangnya Armada Go-jek di wilayah perkotaan maka kehidupan penarik becak juga menjadi terbatas operasionalnya.
  • Berbicara tenaga Armada Go-jek dan Go-car banyak di antara mereka yang berasal dari lulusan sarjana yang belum memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya. Akibat distruptif armada ini, taksi argo menjadi kalah bersaing, kecuali taksi bandara yang sudah punya pangsa pasar tersendiri.
  • Di wilayah tertentu misalnya di Desa Kalialang, Wonosobo, Jawa Tengah banyak penduduk yang bekerja sebagai tenaga penderes getah pinus di Dinas Kehutanan dengan diupah sesuai banyaknya sadapan yang diperoleh, sekaligus diizinkan menanami lantai hutan dengan kopi, yang karena terjadi perusakan masal saat awal era reformasi dan kemudian karena tuntutan pasar, maka tanaman bawah yang semula berupa kopi diganti dengan kapulogo (Rp30.000/kg) dan bisa panen tiap 40 hari dengan panen raya 3 kali/tahun.
  • Di wilayah tertentu berkembang desa wisata dengan tanaman tertentu sebagai penghasil buah, di mana wisatawan dapat memetik buah bahkan dapat memperoleh informasi bagaimana untuk bercocok tanamnya. Ada buah naga dan salak (di Sleman dan Kulonprogo), belimbing dan jambu air (di Purwodadi), serta apel dan kurma (di Jatim).
  • Kawasan gua juga dijadikan objek wisata seperti, Gua Watugong. Ada juga sebagai tempat produksi walet secara alam seperti di Gua Rongkop di daerah Gunungkidul juga gua-gua lain sampai kawasan Kebumen.
  • Wisata religius juga banyak berkembang dengan mobilitas yang relatif cukup tinggi sepanjang tahun sehingga memakmurkan daerah di mana tempat wisata religius berada.
  • Di daerah tertentu, Dinas Kehutanan menanam kayu jati dengan memanfaatkan tenaga masyarakat setempat. Bahkan, ada yang hidupnya selalu berada di kawasan hutan jati, seperti di Pati.
  • Di desa tertentu, baik di Jawa maupun di Sumatra, banyak anak muda yang menjadi TKI di LN dan sangat menarik bagi anak-anak warga setempat untuk segera selesai sekolah SMP/SMA kemudian ikut pergi bersama TKI yang sudah terlebih dahulu bekerja di LN. Lain halnya jika TKI merupakan tenaga terampil yang menguasai hitech.
  • Nelayan Cilacap berada di Pantai Depok menangkap ikan dengan perahu jingking bertenaga motor tempel, sementara armada kapal ikan asing menggunakan kapal besar.
  • Dalam skala nasional, banyaknya bencana tanah longsor, banjir, kebakaran hutan, terus melanda Indoneia, meskipun negara seperti Australia tidak terbebas dari kebakaran hutan.

IV. Peran Hukum

Kepastian hukum menata manusia masuk ke budaya hukum di mana setiap orang atau warga negara sama kedudukannya di dalam hukum. Namun demikian, praktik-praktik penyimpangan terus terjadi sehingga berdampak pada ekosistem, seperti (a) reklamasi pantai, pembangunan kawasan pemukiman modern yang dipermasalahkan AMDAL dan perizinannya, (b) penggunaan alat transportasi yang kedaluwarsa Surat Layak Operasinya, (c) pembangunan rumah di sempadan dan palung sungai, (d) penggunaan bom untuk penangkapan ikan, (e) penanganan kebakaran hutan (walau Australia sebagai negara maju juga langganan dalam hal kebakaran hutan), (f) penanganan illegal logging, (g) kontrol terhadap kegiatan penebangan hutan oleh Hak Pengelola Hutan akibat terlalu sedikitnya tenaga lapangan.

V. Peran Pendidikan

Pada masyarakat tradisional, manusia belajar dengan trial and error melalui pengalaman hidup, dan akhirnya dijadikan sesuatu yang agar tidak dilanggar, dibuat larangan-larangan bahkan dihubungkan dengan keberadaan makhluk halus. Di era modern, masyarakat banyak belajar, namun kenyataannya dengan keterampilannya masyarakat mengekploitasi sumber daya alam sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan yang sangat masif. Sementara dalam ekologi tidak diajarkan pada seluruh program studi, padahal baik aspek IPOLEKSOSBUDHANKAM semuanya sebagai budaya sangat erat dan tidak terpisahkan dari ekosistemnya. Dengan penguasaan pasarnya, Singapura menjadi pemasok terbesar minyak ke Indonesia dan negara-negara lain, padahal Singapura bukan negara penghasil minyak.

VI. Politik Pemerintah

Pengambilan keputusan pemerintah dalam politik dan penegakan hukum menjadi kunci kualitas ekologi, seperti politik dalam mengelola hutan yang menjadi paru-paru dunia. Berapa banyak konversi hutan alam menjadi perkebunan sawit? The Guardian terbitan Inggris masih menilai Indonesia sebagai negara yang paling mampu melakukan pencegahan deforestasi hutan tropis dibandingkan dengan Ghana, Pantai Gading, Papua Nugini, Suriname, Liberia, dan Kolombia. Kebijakan pemerintah berkait dengan otonomi daerah juga berdampak kepada kebijakan dalam pengelolaan kawasan hutan di mana semula ditangani oleh pusat kemudian ditangani oleh daerah.

Indonesia sebagai negara pemilik hutan tropis terluas secara politik mestinya harus memiliki nilai tawar yang tinggi jika berbicara pelestarian hutan agar terjadi pelestarian paru-paru dunia. Ketika di kawasan subtropis dan kawasan kutub berada pada musim dingin, produksi oksigen dunia terletak pada keberadaan hutan tropis. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

PP 57/2021

Fajar Pertama Bulan Ramadan

Elegi Lembah Pujian

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow