Sunday, February 5, 2023
spot_img
BerandaPendidikanKecerdasan Orang Tua Mengelola Emosi di Puncak Pandemi

Kecerdasan Orang Tua Mengelola Emosi di Puncak Pandemi

Ainun Mahfuzah, M.Pd.
Kandidat Doktor Pendidikan Dasar Universitas Negeri Yogyakarta

“Sesungguhnya berbuat baik dan bersungguh-sungguh dalam memberikan pendidikan kepada anak adalah bentuk pelaksaan amanah dari Allah Swt.”

Layanan pendidikan di Indonesia mengalami perubahan setelah dikeluarkannya Surat Edaran Mendikbud RI Nomor 36962/MPK.A/HK/2020. Sejak saat itu, sekolah dan perguruan tinggi melaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

PJJ bukanlah konsep baru di Indonesia. UU Sisdiknas sudah mengatur hal ini, konsepnya adalah untuk melayani masyarakat yang tidak bisa mengikuti pendidikan secara reguler atau tatap muka (Pasal 31). Permasalahannya, perpindahan dari pembelajaran tatap muka ke PJJ–lebih sering dengan model daring–ini mengejutkan. Pandemi Covid-19 tidak memberi kesempatan semua pihak untuk bersiap.



Transformasi pembelajaran

Selama pembelajaran tatap muka, setiap pagi siswa sudah terbiasa berangkat sekolah, bertemu dengan teman-teman sebaya mereka, mengikuti  proses pembelajaran di dalam kelas, bertanya dan berinteraksi secara langsung kepada guru maupun teman sebayanya, serta sepenuhnya berada dalam pengawasan dan perhatian guru. Hal ini menjadi sangat berbeda ketika pembelajaran daring dilakukan; siswa belajar dari rumah, mereka tidak dapat bertemu langsung dengan teman-teman dan guru yang biasanya membimbing.

Dalam menyelenggarakan pembelajaran daring, beragam media dapat digunakan guru, bergantung kebijakan sekolah masing-masing. Sebagian sekolah menggunakan media sosial dan video conference, sebagian yang lain menggunkan LMS (learning management system), ada pula yang menggunakan aplikasi yang direkomendasikan Kemendikbud.

Pada awalnya, pembelajaran daring ini mungkin menyenangkan, baik bagi siswa, guru, maupun orang tua. Akan tetapi, setelah berjalan beberapa bulan, timbul permasalahan, sebagian guru hanya fokus kepada tugas-tugas, waktu yang diperlukan orang tua untuk mendampingi anaknya menjadi lebih banyak, anak-anak pun mulai merasakan kejenuhan. Akibatnya, terjadi penurunan keaktifan anak-anak mengikuti pembelajaran daring; anak-anak menjadi tidak fokus belajar sehingga menyebabkan orang tua semakin kewalahan. Tidak jarang hal ini sampai menyebabkan orang tua “emosi”.

Peran orang tua pada pembelajaran daring

Transformasi yang terjadi pada anak memerlukan komunikasi aktif antara anak, orang tua, dan guru. Hal ini terjadi pula dalam pembelajaran. Pada pembelajaran jarak jauh, peran orang tua menjadi lebih strategis dibandingkan model tatap muka. Keterlibatan orang tua terhadap pendidikan anak dapat mencakup beberapa tindakan yang mendukung, seperti:

  1. penyesuaian waktu antara kegiatan belajar di rumah dan waktu orang tua (khususnya bagi orang tua yang bekerja);
  2. memantau kehadiran anak pada kelas daring;
  3. mendampingi ketika waktu belajar di rumah, seperti menjelaskan materi dan hal-hal yang belum dipahami oleh anak.
Baca juga:   Covid-19: Pesantren Agung Masyarakat Dunia

Cerdas mengelola emosi di masa pandemi

Orang tua perlu menjaga kestabilan emosi ketika mendampingi anak belajar. Pengendalian emosi dapat dilakukan dengan tidak memarahi atau bersikap acuh terhadap anak ketika mereka mengalami kejenuhan belajar. Orang tua dapat memberikan motivasi sehingga mereka kembali bersemangat.

Ketika anak “membandel” dan orang tua marah, hal tersebut sah-sah saja. Akan tetapi, kemarahan yang dimunculkan bukan kemarahan tanpa tujuan, melainkan kemarahan karena rasa sayang dan untuk kebaikan anaknya.

Hal yang sering terjadi, ekspresi emosi yang diluapkan orang tua terkadang kurang tepat. Berdasarkan survei KPAI yang dilakukan pada masa pandemi Covid-19 (8–14 Juni 2020), terhadap 25.146 anak dan 14.169 orang tua di 34 provinsi Indonesia, anak mengaku kerap kali mengalami kekerasan fisik dari kedua orang tuanya. Di antara kekerasan yang diterima ialah dicubit (39,8%), dijewer (19,5%), dipukul (10,6%), ditarik (7,7%). Anak menyebut pelaku kekerasan fisik adalah ibu (60,4%), kakak atau adik (36,5%), dan ayah (27,4%). Sementara dari sisi orang tua, sebanyak 42,5% ibu dan 32,3% ayah mengakui melakukan kekerasan fisik. Selain kekerasan fisik, kekerasan psikis juga sering diterima oleh anak. Kekerasan psikis yang dilakukan adalah dimarahi (56%), dibandingkan dengan anak yang lain (34%), dibentak (23%), dan dipelototi (13%).

Kekerasan fisik dan psikis terhadap anak hendaknya dihindari karena memiliki dampak negatif. Hal yang wajar jika anak merasa bosan atau jenuh belajar. Terkadang anak merasa materi dan tugas yang didapatkan terlalu banyak. Menghadapi hal ini, orang tua perlu cerdas meredam emosi. Hal yang dapat dilakukan di antaranya (bagi yang beragama Islam) membaca doa istiadzah dan mengucap istigfar, berwudhu, berdzikir, introspeksi diri, serta berpikir positif. Setelah berhasil mengendalikan emosi, orang tua dapat melakukan hal berikut.

  1. Mengenali dan memahami penyebab mengapa anak jenuh/bosan/sulit dalam belajar dengan mengajak anak berkomunikasi;
  2. memberikan motivasi kepada anak;
  3. memberikan nasihat kepada anak secara lembut dan halus disertai penjelasan yang dapat diterima;
  4. menjelaskan kembali materi pembelajaran yang belum dipahami oleh anak;
  5. meminta umpan balik dari sekolah terkait apa yang telah diusahakan orang tua selama belajar di rumah.
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow