Sunday, December 5, 2021
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerKeep Calm, Stay Positive, Respect to Others, and Be Peaceful!

Keep Calm, Stay Positive, Respect to Others, and Be Peaceful!

Oleh P. Priyambodo
Kandidat Doktor Pendidikan Biologi Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Masyarakat Indonesia menunjukkan perilaku yang semakin kritis dan kreatif. Salah satu indikasinya adalah dari kemampuan dalam mengolah atau merespons berbagai situasi, keadaan, maupun beragam informasi dengan cara-cara baru yang inovatif dan cukup berbeda dari sebelum-sebelumnya.

Perkembangan teknologi informasi nampaknya telah memainkan peranan penting dalam mendukung interaksi antarindividu, terutama melalui berbagai platform media sosial yang sudah dikenal luas oleh masyarakat. Tak dapat dipungkiri bahwa kini media sosial telah menjadi jalur utama dari serangkaian proses penyaluran pendapat, aspirasi, ekspresi, dan sekaligus lalu lintas komunikasi di antara warga negara. Dengan demikian, media sosial berposisi sebagai salah satu rujukan penting dalam menganalisis pola-pola interaksi di antarawarga masyarakat di tengah-tengah dinamika sosial yang terus berkembang.

Keberadaan berbagai portal berita dan media sosial telah memudahkan masyarakat dalam mengikuti perkembangan informasi sehari-hari. Masyarakat kini juga memiliki akses yang luas untuk berekspresi dan saling berbagi informasi dengan berbagai cara yang unik dan kreatif. Namun demikian, berbagai kemudahan fasilitas tersebut tampaknya belum diimbangi dengan kedewasaan dan kematangan dalam berdemokrasi. Kita seringkali masih gagap dalam merespons perbedaan bahkan hingga menimbulkan konflik atau gesekan sosial. Terdapat kecenderungan untuk merasa paling benar lalu kemudian “menyerang” pihak lain yang dinilai berbeda atau berseberangan.

Benturan pemikiran ataupun gesekan seringkali mewarnai media sosial dan bahkan sampai terbawa ke ranah sosial konkret sehari-hari. Masing-masing pihak saling mengklaim kebenarannya di atas akal atau pemikiran yang sehat. Tentu hal ini sah-sah saja. Namun cara pengungkapan atau penyampaian yang kurang bijak sering memicu ketersinggungan dari pihak atau kelompok lainnya.

Fenomena ini sejatinya dapat memberi dampak positif, di mana tiap-tiap warga negara kini mulai “dipaksa” untuk lebih peka dan kritis. Namun, juga harus diakui bahwa di sisi lain, realita ini juga berpotensi dapat memicu terjadinya bibit-bibit disintegrasi. Sebuah situasi dapat semakin memanas ketika suatu perdebatan telah dibumbui dengan cacian, umpatan, hinaan, hingga bully-an. Oleh karenanya, trend perkembangan kemampuan berpikir yang telah cukup baik ini seharusnya juga diimbangi dengan kedewasaan dalam berdemokrasi dalam rangka mengupayakan terciptanya iklim sosial yang lebih kondusif. Emosi negatif, prasangka buruk, analisis dangkal, atau ketergesa-gesaan dalam merespons berbagai kejadian hanya akan membuat kita semakin terpecah.

Kebebasan berpendapat tidak berarti harus mengesampingkan adab dan kesantunan. Diksi menjadi sangat penting untuk menghasilkan pernyataan atau kritik yang positif dan membangun. Kita semua tidak ingin jika bangsa ini terus-menerus terjebak dalam pertentangan penuh kebencian hanya karena isu-isu rasial ataupun perbedaan pendapat. Kita tentu masih ingat tentang bagaimana situasi Indonesia menjelang pilpres yang lalu. Berbagai gesekan yang dibumbui kebencian serta prasangka buruk telah mewarnai jalannya proses demokrasi kita. Akankah kondisi itu akan terus berulang di pilpres-pilpres mendatang?

Perbedaan pendapat dan pemikiran akan selalu menyertai kehidupan kita. Cara pandang yang objektif dan terukur akan sangat diperlukan untuk menciptakan kedamaian di tengah-tengah masyarakat yang heterogen. Terdapat peribahasa “gajah di pelupuk mata tak tampak, namun semut di seberang lautan tampak”. Jangan sampai kita hanya terfokus dalam menilai keburukan, kekurangan, kelemahan, dan kesalahan orang atau pihak lain tapi luput untuk mengevaluasi kelemahan diri sendiri. Jangan sampai juga kita hanya sibuk mengkampanyekan toleransi dan kebhinekaan namun tanpa sadar justru kita sendirilah yang sebenarnya kurang toleran. Sejatinya, Pancasila telah menggariskan nilai-nilai dasar, nilai-nilai instrumental, serta nilai-nilai praksis yang dapat diterapkan dalam kehidupan. Perbedaan adalah sesuatu yang lumrah dan justru berguna selama tidak bertentangan dengan konstitusi serta norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Baca juga:   Memahami Rumput Tetangga dan Memupuk Rumput Sendiri

Fenomena penyampaian pendapat dan kritik dewasa ini juga acapkali terkesan subjektif. Kritikan seringkali dilayangkan kepada pihak-pihak yang tidak disukai, sedangkan pembelaan cenderung ditujukan untuk pihak-pihak yang didukung dan disukai. Seakan debat kita menjadi kurang konstruktif dan hanya mencari menangnya sendiri. Kekhawatiran akan sebuah kritik yang tidak akan didengar jika hanya menggunakan diksi yang santun dan elegan telah mempengaruhi emosi dan batin kita untuk saling menyerang atau bahkan menjatuhkan satu sama lain.

Pendidikan memegang peranan penting dalam menyambut era ini. Ki Hadjar Dewantara telah berpesan bahwa tujuan pendidikan adalah mengantarkan manusia dari alam nature ke alam culture. Para pendidik harus memahami dinamika perkembangan situasi yang ada dan sekaligus bertanggung jawab terhadap pembentukan moral, karakter, intelektualitas, serta sikap dan perilaku para lulusan agar dapat menjawab tuntutan serta kebutuhan di era modern.

Warga negara yang baik adalah yang mampu berkontribusi terhadap penanganan berbagai krisis sesuai latar belakang profesi, kemampuan, fungsi, dan perannya masing-masing. Penulis berpandangan bahwa terdapat beberapa cara yang dapat kita upayakan bersama dalam rangka mewujudkan kedewasaan dalam berdemokrasi.

Pertama, membiasakan diri untuk bijak dalam berpendapat. Sebagai makhluk yang berketuhanan, kita harus selalu ingat bahwa setiap tindakan dan ucapan akan dimintai pertanggungjawaban. Berbagai pernyataan yang telah kita abadikan di media sosial juga akan dihisab sebagai bentuk amal jariyah ataupun dosa jariyah.

Kedua, analisis kritis dan komprehensif terhadap permasalahan dari berbagai sudut pandang agar mendapatkan kesimpulan yang obyektif, solutif, dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan.

Ketiga, kesiapan ilmu dalam beropini. Jangan sampai kita menjadi orang yang gemar bernarasi tanpa didukung dengan kapasitas maupun penguasaan ilmu yang memadahi. Kesalahan penafsiran seringkali akan melahirkan berbagai bentuk narasi yang tak selalu sejalan dengan fakta maupun kenyataan yang sesungguhnya.

Keempat, kebebasan untuk berpendapat atau berkomentar harus diimbangi dengan kesadaran akan keterbatasan diri. Maknanya, tidak semua hal telah kita ketahui dengan baik, tidak semua masalah telah kita pahami secara mendalam, dan bahkan memberi komentar akan selalu lebih mudah dibanding ketika harus menjalani sendiri di situasi nyata. Pemahaman kita tentang sesuatu hal juga belum tentu lebih baik dari pemahaman yang dimiliki orang lain.

Kelima, menghargai perbedaan dengan tidak memaksakan perspektif kita kepada orang lain.

Keterampilan komunikasi sejatinya merupakan bagian dari interpersonal skills (Stevens & Campion, 1994). Perkataan yang menjadi dasar dari komunikasi haruslah perkataan yang pantas, yaitu bentuk-bentuk perkataan yang tidak merendahkan martabat, menghina, terlebih menghancurkan kemuliaan orang lain (Mubarok & Andjani, 2014).

Penulis menyadari bahwa untuk mewujudkan suatu perubahan dibutuhkan kesadaran kolektif, proses, serta usaha bersama. Namun, hal-hal kecil dan mendasar yang dimulai dari tiap-tiap individu akan mampu memberikan warna tersendiri bagi lingkungan terdekatnya. Akhirnya, penulis mengajak kepada diri pribadi dan semua pihak untuk tetap keep calm, stay positive, respect to others, and be peaceful!. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Kapuas

0

Makrifat Kematian

0

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Pengantar Kepemimpinan

Makrifat Kematian

Kapuas

1,166FansLike
59FollowersFollow