Sunday, February 5, 2023
spot_img
BerandaPuisi dan LaguKetika Hujan Sore

Ketika Hujan Sore

Sore tadi hujan numpang berteduh di teras rumah.
Waktu itu aku sedang menyeduh secangkir sepi
Lalu kami ngobrol sambil makan kwaci.
Hujan bercerita perjuangannya mengubah diri,
dari gejolak ombak samudra,
menguap terbang melawan angin, membeku dalam dingin awan kelabu, rela terbakar kilatan guntur bermega watt halilintar, sampai luruh menggerujuk bumi.
Hening sejenak, nafas tersedak.
Setelah mengibaskan jaketnya yang basah, hujan lanjut mengguyurkan kisah.
Dia heran mengapa selalu disalahkan,
sebagai penyebab banjir, pemicu longsor, penghambat mobilitas, dan alasan para pemalas.
Sabar ya, kataku menghibur.
Datangmu selalu dirindukan banyak orang ketika terik kerontang kemarau.
Bahkan Tuhan pun bilang, kau diturunkan untuk menghidupkan kematian bumi,
menumbuhkan berbagai biji, sayur dan buah-buahan.
Hujan, kau pahlawan tanpa tanda jasa.
Ah, kau pura-pura saja, keluhnya. Aku tersenyum pahit.
Hujan pun pamit.
Wah…

Sore pun berganti langit cerah merah jingga
Mengantar matahari tenggelam.
Eh, salah. Sun never sets.
Matahari istikomah di pusat galaksi, terus menyinarkan karomah energi.
Bumi saja yang ingin hidangan bervariasi,
Memutar diri menikmati giliran siang dan malam.
Dan aku tetap ingin bisa menikmati romantisme sunset.
Ingin mengajak sisa hujan bersama menggambar pelangi.
Sayang, hujan telah pergi.

Bantul, awal April 2020.

Dr.rer.nat. Totok Eka Suharto, dosen kimia yang juga penggemar puisi dan sastra.

Baca juga:   Cinta-Benci yang Bikin Ambyar Corona
spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow