Sunday, February 5, 2023
spot_img
BerandaBudayaKetika Perempuan Suku Yali Haid Pertama Kali

Ketika Perempuan Suku Yali Haid Pertama Kali

Edison Kabak, S.Kep., Ners., M.Kep.
Staf Politeknik Kesehatan Kemenkes Jayapura Program Pendidikan D-III Keperawatan Wamena

Suyanto.id–Pada saatnya, setiap wanita remaja akan mengalami haid atau menstruasi (dalam bahasa Yali disebut hintal atau umalik monggion wilip aha). Saat itu terjadi, di rumah orang tua atau di rumah keluarga lain, anak-anak, remaja laki-laki, dan orang tua laki-laki disuruh keluar rumah hingga haid selesai. Anggota keluarga yang diizinkan masuk hanya perempuan dewasa yang bertugas mengurus si remaja.

Hal lain yang terjadi di rumah, semua makanan, seperti daging babi, daging ayam, ubi, keladi, pisang, dan lain-lain dilarang dimakan. Larangan ini terutama bagi anak-anak, remaja, dan orang tua laki-laki. Jika dilanggar, akan menyebabkan giginya rubuh, patah, tidak utuh, pertumbuhan lambat, badan lemah, loyo, bisa jadi mono (bahasa Yali: sohuon, sohuatsi, sohuatfag), dan sebagainya.

Selain itu, barang-barang penting juga dikeluarkan dari rumah, harus disimpan di rumah tetangga atau dibawa ke rumah honai laki-laki. Barang-barang yang diamankan, seperti panah (sehen), busur (suap, mingking, lun), kulit kukus pohon (pag ahap), kulit rotan (sabiap), parang, kampak, dan barang-barang penting lain milik laki-laki. Alasannya, agar para lelaki tidak mengalami kesialan, seperti tidak mendapatkan hewan buruan dan digigit babi, saat perang suku tidak bisa membidik musuh, malah kena tembak, serta pengaruh lain atas kehidupan sosial-ekonomi.

Untuk perempuan yang sedang mengalami haid diminta tinggal di rumah sampai haidnya berhenti. Selain itu, dia juga dilarang mandi serta tidak bisa makan buah merah dengan tujuan agar haidnya segera berhenti.

Apabila aturan adat ini tidak dijaga dengan baik, pihak yang terdampak adalah anak-anak, remaja, laki-laki muda, orang tua laki-laki, serta anak perempuan yang bersangkutan. Ibu si anak tidak akan mengalami masalah atas pelanggaran yang terjadi.

Kebiasaan ini diajarkan secara turun-temurun oleh mama kepada anak perempuan yang sudah mulai nona-nona atau remaja. Di Suku Yali, peran seorang ibu dalam mendidik anak perempuan sangat penting.

Perihal haid ini merupakan kepercayaan atau kebiasaan suku Yali yang masih berlaku hingga saat ini. Kebiasaan ini perlu dipertahankan dari generasi ke generasi Yali sebagai warisan kebudayaan setempat. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow