Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaCerpenKisah dalam Dompet

Kisah dalam Dompet

Indri Astuti
Fasilitator Literasi Regional Jawa; Guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Bantul dan MTs Ma’arif Dlingo

Suyanto.id–Dalam ruangan sempit itu mereka diam dan saling terhimpit. Sesekali ruangan itu terbuka memberikan sedikit udara segar dan sedikit cahaya. Penghuni ruangan itu pun berganti-ganti. Kadang mereka bisa menetap selama satu minggu, bahkan hanya sebentar saja singgah, mereka sudah harus pergi. Terutama untuk yang bernominal kecil, mungkin hanya beberapa jam saja singgah, lalu dengan cepat sudah berpindah ke tempat lain. Mereka mempunyai harapan yang berbeda-beda dan punya keinginan berada di tangan yang tepat. Tempat sempit itu disebut dompet oleh manusia, tempat khusus untuk menyimpan kami yang berharga.

“Halo, teman-teman, salam kenal,” aku yang baru saja diselipkan ke dalam dompet menyapa seluruh penghuni.

“Dari Bank atau ATM?” tanya Si Hijau dengan ketus.

“Aku baru saja ditarik dari mesin ATM, belum banyak yang memegangku. Jadi, aku masih rapi dan bersih,” jawabnya.

“Ohh, sendirian aja kau Biru?” tanyanya lagi.

“Sebenarnya aku bersama dengan dua orang temanku tadi, tapi mereka buru-buru diserahkan pada orang lain.”

“Diberikan pada siapa? Kau tahu?” tanya Hijau.

“Aku tak tahu,” jawabku.



“Kasihan sekali dua orang temanmu, begitu keluar dari mesin ATM yang dingin dan nyaman, mereka langsung memulai perjalanannya, mungkin mereka diserahkan pada penjual sayur di pasar. Dan pasti dua minggu lagi mereka akan jadi lecek dan dekil,” lanjut Hijau.

“Perjalanan?” aku penasaran.

“Iya, setiap uang mempunyai kisah perjalanannya masing-masing. Dulu aku juga bersih dan rapi sepertimu. Aku diperoleh pemilikku dari hasil dia bekerja. Aku adalah saksi kerja kerasnya membanting tulang. Lalu, aku diserahkan pada istrinya, tentu saja untuk belanja keperluan sehari-hari. Aku sangat bersyukur bisa bermanfaat untuk keluarganya. Setelah digunakan untuk belanja keperluan sehari-hari, sampailah aku di sini sebagai uang kembalian,” si Hijau dengan nominal dua puluh ribu itu mengisahkan perjalanannnya.

“Lalu, bagaimana dengan lembaran dua ribuan yang sudah terlihat kusut itu?” tanyaku melihat uang dua ribuan yang sudah lumayan kusut.

“Aku sudah mengalami banyak hal,” jawab uang dua ribuan, “perjalananku sudah panjang. Awalnya aku juga bersih dan rapi sepertimu. Bagi orang-orang, pecahan kecil sepertiku adalah uang yang paling mudah dikeluarkan dan dibelanjakan. Tapi, aku tetap bahagia. Pernah suatu ketika aku diberikan kepada seorang pengemis di perempatan. Aku merasa bahagia, sebahagia pengemis itu. Di saat orang lain menganggapku kecil, namun pengemis itu begitu mengagungkan aku. Ditukarnya aku dengan uang seribuan dua. Seribu untuk membeli nasi kucing dan seribu dimasukkan dalam kotak amal. Bagaimana aku tak bahagia diperlakukan seperti itu,” jawab uang dua ribuan sambil meneteskan air mata.

Seluruh penghuni dompet itu terdiam sejenak. Memang benar uang tak pernah bisa memilih siapa orang yang memilikinya. Mereka mengalami perjalanan panjang. Dari uang bersih mulus tanpa lipatan, sampai kucel, dekil, bahkan sobek. Mereka tak bisa berbuat apa-apa, mereka menjadi saksi bisu dari si Empunya dalam membelanjakan uang. Dan aku belum membanyangkan bagaimana keseruan perjalananku nanti.

Tiba-tiba selembar uang seratus ribuan yang sudah terlihat kusut angkat bicara. Seluruh penghuni dompet menyebutnya Sang Legenda. Sepertinya dia memang legenda, dilihat dari lipatan-lipatan pada tubuhnya yang sudah banyak. Raut wajahnya suram, tampak beberapa noda menempel padanya. Pastilah perjalanannya sudah sangat panjang.

“Kau sangat beruntung, Saudaraku. Berbeda denganku,” sahut si Merah.

“Ada apa denganmu wahai Uang Merah? Kenapa kau murung? Harusnya kau bahagia menjadi uang dengan nominal tertinggi, banyak orang menginginkanmu!” kata si Kusut, uang dua ribuan.

“Harusnya aku memang bahagia dan berkuasa, namun karena kekuatanku yang begitu besar, manusia sering menjadi gelap mata. Aku sering disalahgunakan,” jawabnya sedih. “Awalnya aku sangat bahagia karena dimiliki oleh seorang ustad, aku berpikir aku akan disedekahkan pada orang yang membutuhkan. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Di tengah jalan aku terjatuh dari dompet Pak Ustad dan ditemukan oleh seorang pengamen jalanan. Baiklah, aku menghibur diri, mungkin pengamen ini lebih membutuhkan. Tapi, betapa kagetnya aku, bukan untuk menghidupi keluarganya, aku malah dijadikan sebagai taruhan. Aku sangat sedih. Aku dipertaruhkan dalam perjudian. Akhirnya, perjudian dimenangkan oleh pengamen lain. Aku berharap semoga aku bermanfaat. Tapi, apa yang terjadi, aku digunakan untuk membeli minuman keras,” Merah mengisahkan perjalanannya.

“Lalu, apa yang terjadi setelah kau digunakan untuk membeli minuman keras?” tanya si Biru.

“Aku tak putus asa, aku tetap berdoa semoga aku bermanfaat dan berada di tangan yang tepat. Setelah dari penjual minuman keras, aku dibelanjakan di pasar untuk membeli perhiasan emas. Aku menetap beberapa hari di mesin kasir toko hingga aku dan beberapa lembar temanku yang lain dijadikan gaji untuk karyawan toko emas. Kemudian, sampailah aku di sini.”

Angin segar kembali masuk dalam ruangan sempit itu. Si Merah yang baru saja mengisahkan perjalannya diambil oleh pemilik kami. Dia hanya bisa pasrah, menanti apa yang akan dihadapinya lagi. Di luar dugaan, Merah dimasukkan ke dalam kotak amal pembangunan masjid. Merah pun merasa bahagia dan lega. Akhirnya dia benar-benar digunakan untuk kebaikan.

Aku masih saja menetap di ruangan sempit itu. Teman-temanku satu persatu sudah memulai perjalannya lagi. Kini tinggal aku senidri ditempat sempit ini. Aku selalu penasaran, bagaimana perjalanan yang akan kulalui. Apakah aku bisa seberuntung uang dua ribuan? Walaupun mereka kusut, namun si pemilik mempergunakannnya dengan sangat baik. Atau, aku akan mengalami perjalanan seperti Merah, menjadi saksi bisu perbuatan tercela si Pemilik? Aku tak pernah tahu itu.

Akhirnya udara segar kembali menyusup ke dalam dompet. Dompet terbuka, tubuhku terasa tertarik keluar. Baiklah, perjalananku akan segera dimulai. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow