Friday, February 26, 2021
Beranda Kesehatan Kisah Nyata Pasien Sembuh dari Jeratan Covid-19

Kisah Nyata Pasien Sembuh dari Jeratan Covid-19

Raya (Nama Samaran)
Mantan Pasien Coronavirus Disease 2019

Suyanto.id–Siapa pun, tak ada yang menginginkannya. Manusia hanya bisa berupaya maksimal, berikhtiar, tetapi takdir akan menemui jalannya. Skenario Allah yang berjalan dan itu yang terbaik. Berawal dari kabar membahagiakan dengan dinyatakan lolos seleksi suatu bimtek tingkat nasional di ibukota negara, hingga berakhir terdampar di rumah sakit khusus Covid.

Sebagai persyaratan mengikuti bimtek dan terkait transportasi, saya melakukan rapid test secara mandiri. Jadi, bukan karena sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan saya reaktif dan secara otomatis dikembalikan ke daerah asal sesuai KTP untuk tindakan lebih lanjut, yaitu swab

Mendapatkan jadwal swab perlu menunggu, tidak secepat membuat mi instan. Begitu pun proses menunggu hasil swab, tidak bisa satu atau dua jam saja, perlu beberapa hari. Itulah malam-malam berat yang saya lalui, hampir tidak bisa tidur nyenyak, kalau toh tidur, dihantui mimpi buruk. Hanya doa yang kembali menenteramkan.

Tibalah hari yang mendebarkan itu, mimpi menjadi nyata. Swab pertama hasilnya negatif, tetapi oh tidak, swab kedua positif. Itu artinya, saya dinyatakan positif Covid-19. Meski skenario terburuk sudah dipersiapkan, tetap saja down.



Oya, sebagai bagian dari skenario terburuk, saya sudah berpesan kepada keluarga. Jika saya meninggal, misalnya, saya sudah menyiapkan semacam surat wasiat, terutama terkait persoalan dengan sesama yang belum tuntas. Semuanya saya tulis dengan rapi.

Hari karantina di rumah sakit

Kendati dilepas keluarga dengan penuh dukungan, tak ayal air mata kami keluar juga. Saya menabahkan hati, menuju rumah sakit khusus Covid. Saya sengaja tidak mau dijemput ambulans dengan tim ber-APD lengkap. Jika itu terjadi, saya tak bisa membayangkan rasa hati anak-anak saya.

Sesampai di rumah sakit, dimulailah berbagai prosedur pemeriksaan kondisi tubuh, mulai rontgen hingga cek darah. Tak berapa lama, saya pun mendapatkan kamar rawat inap, sebuah  ruangan lebar, dengan empat pasien baru termasuk saya.

Suasana rumah sakit baik, ber-AC, bersih, steril, penerangan memadai, ada televisi, serta tersedia wifi. Saya pun mulai menikmati rutinitas di sana. Kapan jadwal pemeriksaan, pembagian baju ganti, pembagian konsumsi olah raga, jadwal membersihkan diri, tak lupa saya mencatat kebiasaan tiap pagi, distelkan musik atau lagu untuk memperbaiki suasana hati. 

Tentang konsumsi, harus saya ceritakan, saya sudah berprasangka buruk, trauma masa lalu sewaktu opname zaman remaja. Ternyata beda dengan bayangan saya. Konsumsi yang disediakan tak hanya memenuhi gizi, tetapi cita rasanya juga terjaga.

Stigma lebih horor dari pada Covid itu sendiri

Mungkin benar, masih perlu edukasi pada masyarakat agar tidak memandang buruk pasien covid. Seolah Covid itu suatu aib, padahal kenyataannya bukan. Ia penyakit baru yang karena itu menjadikan parno.

Semestinya pasien mendapat dukungan, bukan sebaliknya. Dengan status pandemi, pemberitaan yang luar biasa, dan sikap masyarakat yang parno, pasien Covid-19 menjadi sangat sensitif sehingga perkataan dan tindakan apapun bisa membuat pasien merasa diserang.

Hal yang tidak bisa dihindari adalah berondongan pertanyaan dari orang yang kita kenal. Oleh karena tidak bertemu muka, otomatis menggunakan media, dalam hal ini WhatsApp. Sempat ragu membuka WA karena saya tahu pasti akan banyak serbuan pertanyaan. Bukan saya tidak mau, bukan menghindar, saya perlu waktu untuk menata hati. Padahal, mau tak mau pasti membuka WA untuk komunikasi dengan keluarga. Membalas, jujur itu menyedot energi karena saking banyaknya, belum hati juga berdebar-debar. Tidak membalas, kok rasanya kurang baik juga. Bukankah banyak yang WA untuk memberi dukungan?

Saya memilih tetap membalas secara bertahap. Saya memilih mana-mana yang lebih dulu harus saya tanggapi. Berdasarkan pengalaman tersebut, saya jadi tahu. Bagaimana cara menanyakan kondisi seseorang yang kena Covid. Menurut saya sebagai berikut.

Percaya atau tidak dari sekian banyak WA yang masuk, malah ada yang bilang, “Saya sudah rapid dan hasilnya nonreaktif”. Saya hanya geleng-geleng kepala, maksud orang ini apa, saya juga hampir tidak pernah bertemu dengannya. Apa maksudnya, mengapa harus dikirimkan ke saya?

Padahal, rapid nonreaktif itu tidak sama dengan bebas Covid. Tidak perlu jauh-jauh, teman saya opname misalnya, sewaktu rapid nonreaktif, begitu swab hasilnya positif. Ada teman saya yang seorang dokter mengatakan bahwa akurasi rapid hanya 30 persen. Intinya, jangan terlalu nggleleng jika rapid nonreaktif.

Pertama, pertanyaannya hendaknya to the point, jangan memancing-mancing karena melelahkan bagi pasien. Kedua, langsung beri dukungan pada chat pertama. Ketiga, jika pasien merasa nyaman, bisa dilanjutkan dengan pertanyaan lain yang bernada empati bukan memojokkan. Keempat, jangan menanyakan pertanyaan yang membuat pasien kesulitan menjawab. Ada WA bertanya, “Opname lama, kenapa?” Bingung, kan saya menjawabnya, mau pakai perasaan atau ilmu pengetahuan? Hehehe.

Rumah sakit ini “penjara” yang baik

Banyak yang bertanya tentang aktivitas di rumkit Covid. Secara umum, seperti saya jabarkan di awal tentang rutinitasnya. Secara khusus, tentu masing-masing pasien memiliki aktivitas yang berbeda-beda. Saya katakan penjara baik karena mengajari bersabar. Otomatis memperbanyak ibadah, mengingat Allah. 

Ada pasien yang tetap bekerja dengan intensitas minimal, ada yang menekuni hobi, misalnya membuat video tentang perawat yang menggunakan APD level 3 untuk diupload di aplikasi snack video, ada yang hobi mencari video lucu-lucu untuk dibagikan, nonton film melalui YouTube, baca buku, bahkan percaya atau tidak, ada yang nonton sinetron mulu. Mungkin kalau di rumah enggak sempat kali, ya. Hahaha. Bahkan, ada yang secara terbuka dan ringan hati sharing pengalamannya selama di sini, selalu update status WA, tanpa tedheng aling-aling. Merdeka sekali dia, tanpa beban.

Aktivitas di sini diawasi, oleh CCTV. Sesekali ditelepon dokter/perawat, ditanyai soal makanan, dihabiskan tidak, obatnya apa diminum atau belum. Oleh karena itu, kami jadi bertanya-tanya, apakah perawat ngecek kami melalui CCTV, ya? 

Pemeriksaan ada tiga kali, yaitu pagi, siang, dan sore. Yang jelas, nakes dan tenaga kebersihan, jadwal masuknya terbatas, tetapi dimaksimalkan. Sekalinya datang memeriksa, membagi makanan dan pakaian ganti. 

Saya jadi ingin menyampaikan apresiasi pada tenaga medis. Mereka kerja keras, baik, hangat, dan suka bercanda, tak jarang gokil. Itu sangat menghibur hati kami.

Pernah perawat datang sambil bertanya, “Mbak Eri mana ini? Dapat kiriman dari pacar!” Sontak teman seruangan ketawa. Yang dimaksdunkan pacar itu suami Mbak Eri yang dirawat di bangsal sebelah. Tahukah apa kirimannya? Minyak angin!

Perawat juga menyampaikan barang-barang kiriman yang ditujukan kepada kami. Saya sendiri beberapa kali dapat paket yang membuat saya tersentuh dan bahagia. Jauh-jauh dari Batam dan Bekasi, mengirimi saya buku. Benarlah seperti niatnya, menjadi teman baik. Saya sendiri membawa buku, tetapi sudah habis dibaca. Akhirnya buku saya pinjamkan juga pada pasien lain. 

Selalu ada sisi positif dari segala sesuatu. Kami yang ada di sini malah sudah tahu keadaan kami yang sebenarnya. Sementara itu, orang di luar sana, tidak tahu apakah mereka benar-benar negatif atau tidak. Soalnya mereka tidak periksa. Setelah terbebas dari Covid, semoga menjadi imun. 

Pasien Covid memang harus belajar menebalkan hati. Oiya, jangan dibayangkan kondisi di rumah sakit itu hanya sedih-sedih melulu. Ada pasein Covid ada yang produktif. 

“Sibuk terus, Bu Raya?” sapa perawat ramah.

“Hehe, saya penulis, Mbak,” jawab saya sambil tersipu.

“Mbak suka banget, baca ya?” tanya dokter pada pasien samping saya.

“Iya, dipinjamin buku sama Bu Raya,” jawabnya sambil nunjuk ranjang saya.

Kata dokter rasa bahagia baik untuk penyembuhan. Ada sesi konsultasi dengan psikolog juga. Ya, siapa tidak bosen hanya berada di ruangan selama 14 hari?

Tidak semua pasien down, ada juga yang orangnya lucu habis, grapyak, dan easy going. Meski diam-diam saya tahu, kadang-kadang ia pun menangis sesenggukan di balik bantal. Itulah sisi manusiawi yang utuh. Bohong banget kalau di sini happy terus atau sebaliknya. Naik turunlah, apalagi dalam rentang waktu cukup lama tidak ketemu keluarga; hanya bisa video call, biasanya tiap habis magrib.

Karena netizen maha tahu dan benar

Sampai detik ini saya sendiri belum tahu dan belum menemukan jawaban, saya kena di mana, kenapa saya tak merasakan apa-apa dari sebelum rapid, dinyatakan reaktif, hasil swab positif, hingga dinyatakan bebas Covid. Saya terkena Covid bisa jadi ketika kerja atau ketika di perjalanan, sewaktu belanja, atau lainnya. Masih banyak masyarakat yang sembarangan, abai dalam menjaga diri, apatah lagi menjaga orang lain. Sungguh miris. Saya sendiri merasa sudah selalu pakai masker, rajin cuci tangan, dan tentu saja jaga jarak. 

Gosip yang lebih kejam dari fitnah, kata teman, lawan tandingnya hanya Bu Tejo

Entah bagaimana sebenarnya gosip yang beredar di luar sana. Beberapa saya ketahui dari cerita teman, ada yang secara sengaja ataupun tak sengaja bercerita. Seorang teman dari luar provinsi bertanya mengenai kondisi saya. Saat saya tanya balik tahu dari siapa, dia jawab tahu dari temannya yang satu provinsi dengan saya yang merasa kasihan.

“Kalau kasihan, mengapa malah disebarkan?” batin saya.

Gosip lain yang mengatakan bahwa saya cipika-cipiki. Alamak, tentu saja saya heran, lha wong salaman saja tidak pernah.

Ada pula gosip yang mengatakan kalau saya tertular dari suami yang pulang dari Jakarta. Padahal, suami saya tidak pergi ke luar kota sama sekali. Hal yang lebih mengejutkan, ada yang mengatakan mengatakan kalau swab suami saya sudah keluar dan hasilnya positif. Bagaimana bisa dia lebih tahu? Padahal, tenaga medis yang melakukan swab saja belum mendapatkan hasilnya.

Mungkinkah dia satrawan yang menyamar kali, ya? Cerita yang dibuat itu, lho, soo inspiratif. Mereka pintar membuat cerita. Atau aslinya memang pada perhatian ke saya, ya? Ya, memang, resiko jadi artis mah begini, banyak haters. Wkwkwkwk.

Stigma lebih mematikan dari Covid itu sendiri 

Saya sempat bertanya kepada pasien yang lebih dulu pulang. Separah apa stigma negatif itu walaupun sudah dinyatakan bebas Covid?

“Nggak ada yang main ke rumah, Mbak. Mungkin masih pada takut, kakak-kakak saya saja nggak berani ke sini, dilarang sama tetangganya juga untuk nggak ke sini sementara waktu. Kami pun tidak keluar rumah, nggak belanja di daerah desa biasanya, malah yang jauh sekalian yang nggak kenal sama kita.”

Itu sekelumit stigma masyarakat. Betapa stigma masyarakat itu horor. Tolong jangan hakimi pasien Covid dengan stigma negatif.

Namun percayalah, tidak semua masyarakat begitu. Saya bersyukur tinggal di masyarakat yang smart, santuy, dan tulus. Sedikit banyak berpengaruh pada masyarakat luas. Masyarakat di sekitar saya, bahkan yang beda RT malah memberikan dukungan baik morel maupun material. Sehingga saya pun bisa tetap berdiri gagah.

Ketika kita dianugerahi Covid, tetaplah kuat. Tak ada pilihan lain selain bersabar. Semua sudah suratan takdir. Apa yang menimpa kita telah menjadi bagian dari takdir. Memang jalannya harus begini.

Dijalani saja, dengan dukungan keluarga dan teman yang tulus, semua akan terlampaui. Abaikan teman yang kurang baik, masih banyak yang baik. Fokus ke sana saja. Pada akhirnya, berlaku nasihat lama, kita akan menemukan siapa teman yang tulus ketika kita sedang terpuruk. 

Sebagai penutup, tetaplah menjaga kesehatan, mengikuti protokol Covid yang telah disosialisasikan; panik jangan, waspada harus. (*)

2 KOMENTAR

  1. Tulisan yang mengedukasi dan mencerahkan pak. Betul sekali….. Saya aja yg kmrn isolasi krn kasih privat di rumah yg positif corona udah dapat hujanan pertanyaan dr WA. padahal saya nggak berinteraksi dg beliau. Tapi demi keamanan, saya isolasi 10 hari.
    Nah, pas isolasi itu saya dapat kabar yg ga bertanggungjawab. Katanya beliau dapat dr suaminya, pdhl enggak.
    Pas udah sembuh dan saya kembali les lagi,barulah dapat kabar tg bagaimana masyarakat mengabarkan yg berlebihan.
    Jadi, ada yg mengabarkan kalau suami dan anak-anaknya kritis. Padahal mereka ceria dan sehat2 saja.
    Tulisan bapak ini harus dibaca masyarakat luas biar mereka lebih bisa berempati pada saudara kita yg positif kena covid-19.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Hari yang Dijanjikan

0

Menangis adalah Hak

0

Problematika Terurai

0

Kilasanmu Ayah

0

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Menangis adalah Hak

Kilasanmu Ayah

Hatiku Tak ‘Kan Berpaling Darimu

1,158FansLike
46FollowersFollow