Wednesday, January 20, 2021
Beranda Kesehatan Kisah Penemuan Vaksin dan Herd Immunity

Kisah Penemuan Vaksin dan Herd Immunity

Dr. Heru Nurcahyo, M.Kes.
Dosen Jurdik Biologi FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Pertama kali, ide vaksinasi digagas oleh seorang dokter berkebangsaan Inggris yang bernama Edward Jenner. Inspirasi itu perolehnya setelah memperhatikan dan mengamati gadis-gadis cantik yang bekerja di sebuah peternakan sapi perah di kota London.

Pak dokter mengamati gadis-gadis pemerah susu sapi memiliki kulit mulus tanpa bekas koreng karena penyakit cacar. Kemudian, dirinya mengaitkan kulit mulus gadis-gadis pemerah sapi dengan suatu penyakit yang sering menjangkiti sapi perah, yaitu cacar sapi (cowpox). Pada akhirnya, pak dokter mendapatkan suatu hipotesis, bahwa “kekebalan terhadap suatu penyakit dapat terbentuk karena sering terpapar oleh bibit penyakit”.




Tahun 1786, di Kota London terjadi wabah cacar manusia (variola) yang menyerang hampir seluruh warga Inggris dan banyak menimbulkan kecacatan dan kematian. Akan tetapi, para gadis-gadis pemerah susu sapi, kulitnya tetap mulus, tidak terkena wabah cacar. Artinya, gadis-gadis tesebut kebal terhadap penyakit variola.

Kejadian itu menginspirasi dokter Jenner untuk membuat percobaan dengan menggoreskan keropeng cacar sapi pada luka yang dibuatnya pada kulit naracoba (volunteer). Ternyata hasilnya sangat menggembirakan, naracoba kemudian menjadi kebal terhadap infeksi virus cacar variola. Dari hasil percobaan ini, dapat diambil kesimpulan bahwa “vaksin yang dibuat dari cacar sapi (cowpox) ternyata dapat menimbulkan kekebalan silang yang dapat melindungi terhadap cacar manusia (variola)”.

Penemuan metode pencegahan penyakit cacar dengan pemanfaatan vaksin cacar ini telah banyak menyelamatkan nyawa manusia dari serangan penyakit menular yang dapat menimbulkan kecacatan ataupun kematian. Sejak penemuan vaksin tersebut, kini terus berkembang teknologi pembuatan vaksin modern. Misalnya, vaksin rekombinan yang merupakan gabungan beberapa vaksin, jika diberikan untuk vaksinasi dapat merangsang zat kebal terhadap beberapa penyakit sekaligus.

Dalam kehidupan sehari-hari, kekebalan seseorang dapat terbentuk secara disengaja atau tidak disengaja (secara alami). Secara sengaja, dilakukan melalui mekanisme imunisasai atau vaksinasi. Secara alami, dilakukan melalui mekanisme sakit atau tidak sengaja. Jika seseorang menderita sakit Covid-19, maka secara otomatis orang yang kuat bertahan dan sembuh dari penyakit, di dalam plasma darahnya akan banyak dijumpai zat kebal.

Ada sebagian orang yang terinfeksi virus Covid-19 memiliki kondisi tubuh yang sehat lagi kuat sehingga tidak menampakkan gejala sakit sama sekali (asymptomatic). Pada tubuhnya telah terbentuk kekebalan. Sebagai contoh, tenaga medis, karena mereka sering kontak langsung dengan bibit penyakit virus Covid-19 tetapi tubuhnya sehat lagi kuat, maka mereka tidak menunjukkan gejala sakit tetapi justru di tubuhnya terbentuk zat kebal terhadap virus Covid-19.

Baca juga:   GpAP Peduli Korban Covid-19

Selain itu, pada kejadian wabah Covid-19 saat ini, terdapat kemungkinan sebagian warga menjadi kebal karena terpapar virus Covid-19 yang telah lemah, mati, atau rusak. Terdapat kemungkinan virus-virus yang berada di lingkungan kita telah mengalami kematian atau kerusakan karena terkena sengatan sinar matahari atau bahan kimia lainnya seperti disinfektan. Bibit penyakit, dalam hal ini virus Covid-19 telah mengalami pelemahan atau bahkan kerusakan struktur. Ketika bibit penyakit tersebut masuk ke paru-paru dalam kondisi keletihan sehingga tidak mampu menimbulkan penyakit, tetapi malah sebaliknya merangsang terbentuknya reaksi kekebalan (respons immune). Jikalau kekebalan ini meliputi suatu kelompok masyarakat, maka dapat dikatakan telah terbentuk kekebalan kelompok atau istilahnya herd imunity.

Fenomena lainnya, jika kita perhatikan dari sejarah wabah penyakit menular yang pernah terjadi di dunia, pasti tidak semua warga meninggal karena ganasnya wabah. Warga yang tersisa tersebut merupakan kelompok yang kebal terhadap penyebab wabah penyakit. Hal tersebut sekaligus membuktikan bahwa terjadi proses seleksi alam, yakni yang kuat yang menang dan yang lemah yang kalah. Terbentuknya kekebalan secara alami dapat kita pelajari dari kehidupan kelompok satwa liar yang hidup di padang rumput Afrika. Ketika terjadi wabah, yang menyelamatkan mereka dari kematian hanya kekebalan yang dibentuk secara alami.

Baca juga:   Membangun Resiliensi Diri di Masa Wabah Covid-19

Metode yang dapat digunakan untuk mengetahui dan menilai apakah pada kelompok masyarakat telah terbentuk kekebalan atau apakah suatu program vaksinasi telah efektif membentuk kekebalan, dapat dilakukan dengan dua cara, yakni uji cepat (rapid test) yang bersifat kualitatif atau menggunakan metode ELIZA yang bersifat kuantitatif. Metode uji cepat dapat digunakan secara cepat dan akurat untuk menentukan bahwa seseorang telah memiliki zat kebal. Metode ELIZA dapat digunakan untuk mengetahui berapa jumlah zat kebal (antibody) yang terbentuk di dalam tubuh seseorang. Dengan menerapkan kedua metode tes ini secara acak dan besar-besaran, kita bisa mengetahui berapa persen penduduk yang sudah terinfeksi dan kebal terhadap virus Covid-19 atau apakah telah terbentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Alhamdulillah, saat ini telah ditemukan vaksin untuk mencegah penyakit karena infeksi virus Covid-19. Perkembangan bioteknologi dan penguasaan teknik laboratorium yang supercanggih, membuat para ahli dapat dengan cermat memetakan bagian-bagian mana dari virus Covid-19 yang berperan sebagai penentu antigensitas dalam pembentukan zat kebal terhadap virus ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Mamuju

Tresna Tanpa Syarat

Tepuk Dada

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,145FansLike
46FollowersFollow