Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaKomunikasiKonstruksi Tubuh Perempuan (Ideal)

Konstruksi Tubuh Perempuan (Ideal)

Awanis Akalili, S.I.P., M.A.
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta

“Gendut sekali kau, tak ada niatan diet, nanti tak laku, loh!”
“Makan terus, seperti orang tak punya beban saja. Jaga timbanganmu!”
“Mengapa kau tidak berkulit putih seperti dia?”
“Kok jerawatan sih, pasti tidak perawatan, ya? Kucel amat.”

Menyakitkan, menyebalkan, dan menjengkelkan narasi yang menggelitik setiap kali figur-figur perempuan yang (kurang) ideal hadir di antara perempuan ideal.

Ideal adalah relatif, semua bergantung bagaimana perspektif orang melihat dan mendefinisikan. Namun, perlu diingat bahwa kultur dan stigma turut menyuburkan konstruksi perempuan ideal, baik sifat perempuan hingga tubuh perempuan. Pertanyaan yang kemudian muncul, sejak kapan ada korelasi antara figur tubuh perempuan dengan logika “laku-tidak laku?” Nyatanya, ada banyak perempuan yang memperoleh cintanya tanpa perlu mengubah dirinya demi orang yang ia cintai.




Perempuan kerap dianggap sebagai kelompok subordinat yang selalu disandingkan dengan figur-figur kecantikan ideal dan sesuai narasi mayoritas perempuan. Konstruksi cantik menjadi isu yang tidak pernah ada habisnya jika dibahas dalam kajian-kajian gender. Sosok perempuan feminim yang bersikap lemah lembut, penyayang, merawat diri ialah hal-hal yang kerap disematkan dalam bahasa-bahasa keseharian, misalnya, “Ya ampun, badan kau kok begitu. Terlalu sibuk sih, sampai lupa mengurus badan”.

Fakta ini menjadi tidak lagi relevan ketika urusan merawat badan tidak selalu menjadi “tugas” perempuan, melainkan juga laki-laki. Lihat saja ada berapa banyak produk perawatan yang mulai menyasar pasar laki-laki.

Kurus, langsing, tinggi, rambut terurai, berkulit putih, menjadi kata-kata kunci seorang perempuan dikatakan sebagai “ideal” (dalam sudut pandang dominan). Mengutip pemikiran Tri Hastuti Nur Rochimah (2018:12), bahwa tubuh perempuan berada dalam konstruksi sebagai objek oleh kelompok kepentingan yang ada di masyarakat dan berada dalam relasi kekuasaan, termasuk media massa. Media turut mengambil peran dalam hal ini, baik melalui iklan, film, dan sarana-sarana media lainnya.

Dalam film Imperfect misalnya, cukup menyindir beberapa orang dengan pola pikir bahwa berbadan besar dan kurang menjaga penampilan tidak berhak memperoleh cinta laki-laki dambaannya. “Ini urusan orang jelek, kamu nggak akan ngerti” adalah kalimat yang dirasa dapat merepresentasikan suara hati perempuan, seakan-akan perempuan “cantik” tidak akan mengerti masalah perempuan “tidak cantik”. Usaha untuk memperbaiki diri demi dilihat sebagai “perempuan”, dilakukan. Namun, kecantikan justru membuatnya dijauhi beberapa rekan dan kekasihnya. Film ini menarik dan cukup relate dengan kondisi kultur yang terlanjur menelan konstruksi perempuan ideal, meskipun di akhir cerita, figur perempuan dominan tersebut yang akhirnya dapat bersanding dengan laki-laki (yang dalam pandangan subjektif, diistilahkan tampan).

Baca juga:   Perempuan, Rahim, dan “Perlombaan” Memiliki Anak

Konstruksi tubuh perempuan ideal juga hadir dalam narasi bahasa yang dibangun dalam kehidupan sehari-hari. “Seharusnya kau menjadi seperti perempuan itu, tidak jerawatan, pintar merawat diri,” “Makan terus, jaga badanmu!” “Kau kok tidak seputih kakakmu?” “Ah, terlalu banyak pikiran kau, stres, maka muncullah jerawat yang membuat kau kusam begitu.” Pertanyaan yang selanjutnya muncul, “Mengapa tidak kau manajemen stress-mu itu?” Sudah dicoba, tetapi tidaklah mudah. Namun, selalu mengusahakan menjadi yang baik. Tentu, definisi baik setiap individu pun berbeda-beda.

Tubuh adalah bagian terkecil dari setiap individu yang (seharusnya) bebas. Sayangnya, konstruksi telah mengubah tatanan kebebasan berekspresi setiap tubuh. Dalam konteks tubuh perempuan misalnya, kontrol produk kecantikan sangatlah nyata, misalnya dalam hal industri make up. Menurut pandangan subjektif, shade produk foundation yang dikeluarkan beberapa merek lokal tidak cukup relevan dengan mayoritas kulit lokal yang cenderung pada tone sawo matang dan kuning langsat. Alhasil, kulit menjadi keabu-abuan karena tone foundation kurang sesuai dengan warna dasar kulit. Menyedihkan, seakan-akan dipaksakan untuk menjadi “putih”, dan menanggalkan warna asli dari kulit perempuan.

Beberapa orang berpikir bahwa berdandan dilakukan agar tubuh seorang perempuan “lebih dilihat”, namun berdandan tidak selalu dilakukan untuk menyenangkan lawan jenis, bisa jadi berdandan menjadi satu-satunya hal yang membahagiakan diri perempuan. Jika ada sepuluh perempuan dalam satu ruangan, maka ada sepuluh definisi kecantikan. Perempuan ialah subjek mandiri yang dapat mendefinisikan kecantikan melalui perspektifnya masing-masing.

Sebagai penutup, bagi perempuan-perempuan yang mungkin terpanggil atas tulisan ini, berdamailah dengan diri dan berbahagialah dengan cara kita masing-masing. (*)

Bahan Bacaan

Rochimah, Tri Hastuti Nur. 2018. Pertarungan Wacana Tubuh Perempuan dalam Media. Yogyakarta: Buku Litera.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow