Friday, August 7, 2020
Beranda Pendidikan Kurikulum Adaptif di Masa Pandemi

Kurikulum Adaptif di Masa Pandemi

Abdul Aziz Saefudin
Dosen Prodi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Yogyakarta, Mahasiswa S3 Prodi Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Sejak awal kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) diberlakukan, banyak permasalahan muncul, mulai pedagogik, teknis, psikologis, hingga kurikulum. Permasalahan tersebut terjadi karena dunia pendidikan tidak pernah menduga adanya pandemi Covid-19. Kemunculannya yang tiba-tiba dan belum ditemukan vaksinnya menjadi ancaman yang mengerikan.

Guru yang tidak terbiasa menggunakan platform digital, metode, serta media pembelajaran kreatif, merasa kesulitan melaksanakan kegiatan pembelajaran. Akibatnya, pembelajaran cenderung monoton. Pembelajaran dilakukan hampir sama dengan kegiatan tatap muka. Bahkan, pada banyak kasus, guru hanya memberikan penugasan pada setiap kegiatan pembelajarannya.



Permasalahan ini berpengaruh kepada psikologis siswa. Mereka merasa terbebani dan jenuh dengan berbagai tugas yang diberikan. Hal serupa juga dirasakan orang tua. Banyaknya tugas yang diberikan guru dan kesulitan mendampingi proses belajar anaknya, menjadi beban bagi mereka. Atas dasar ini, beberapa kelompok orang tua memprotes kebijakan BDR dengan sistem dalam jaringan (daring) karena dianggap menyulitkan anak.

Selain persoalan tersebut, yang hingga sekarang masih hangat didiskusikan adalah teknis pembelajaran daring. Problematika yang banyak muncul di antaranya ketiadaan alat komunikasi (handphone) siswa, letak geografis siswa yang sulit akses internet, serta penggunaan kuota internet yang boros. Permasalahan ini lebih mengarah kepada kesiapan sarana dan prasarana dalam pembelajaran daring. Oleh karenanya, kebijakan yang win-win solution sebaiknya diutamakan agar BDR berjalan dan terlaksana dengan optimal.

Menanggapi hal tersebut, sebenarnya Kemendikbud RI sudah meresponsnya dengan mengeluarkan surat edaran dan panduan dalam pembelajaran selama masa pandemi. Sistem pembelajaran daring, luar jaringan (luring), serta tata pelaksanaannya menjadi alternatif solusi. Hanya saja, dalam penerapannya di sekolah, dari PAUD hingga SMA sederajat, bervariasi karena tidak adanya kurikulum yang menjadi panduan. Setiap sekolah cenderung menerapkan BDR menurut kemampuan masing-masing. Kurikulum adaptif di masa pandemi pun menjadi keniscayaan.

Kurikulum Adaptif

Kurikulum adaptif merupakan kurikulum yang dimodifikasi dan diadaptasi sesuai kebutuhan. Davis & Karunathilake (2004) menyebut bahwa kurikulum adaptif dikembangkan sesuai dengan minat, gaya, dan kemampuan belajar siswa. Kurikulum 2013 (K13) yang saat ini diberlakukan tidak seluruhnya diganti, tetapi dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan dan kondisi di masa pandemi.

Pengembangan kurikulum adaptif dapat didasarkan pada empat komponen utama kurikulum. Kompenen utama kurikulum tersebut meliputi tujuan, isi, proses, dan evaluasi.

Pertama, kurikulum adaptif harus menyederhanakan tujuan kurikulum. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Kurikulum 2013 (K13) yang berlaku dapat disederhanakan dan diarahkan untuk penguasaan literasi, numerasi, dan pengembangan karakter siswa. Artinya, siswa tidak hanya dibebani dengan tugas akademik dalam proses pembelajaran, tetapi juga pengembangan karakter.

Kedua, kurikulum yang dikembangkan harus mempunyai muatan isi yang ringkas, padat, dan utuh. Standar Isi (SI) K13 yang sudah ada dapat disederhanakan dalam rangka mencapai tujuan kurikulum. Penyederhaannya dapat difokuskan pada pemetaan Kompetensi Dasar (KD) setiap mata pelajaran atau juga KD untuk seluruh mata pelajaran di suatu jenjang. Keluasaan dan kedalaman KD dapat dimodifikasi agar lebih sederhana dengan tetap mempertahankan inti materi. KD yang menjadi materi prasyarat dan materi inti yang sedikit beririsan dapat dipadukan sehingga semua mata pelajaran yang sudah ada dapat diorganisasikan secara terpadu.

Baca juga:   Shalat Jumat di Tengah Wabah Covid-19

Untuk memadukannya, Kysilka (1998) berpendapat, bahwa keterpaduan mata pelajaran dapat berbentuk fusion, multidisipliner, interdisipliner, atau transdisipliner. Keterpaduan fusion merupakan keterpaduan sederhana yang didasarkan beberapa subkonten menjadi satu tema. Keterpaduan multidisipliner merupakan keterpaduan tema yang sama dalam berbagai mata pelajaran yang berbeda dan terpisah. Keterpaduan interdisipliner merupakan keterpaduan yang berupa suatu tujuan mata pelajaran yang beririsan diajarkan pada berbagai mata pelajaran. Sementara itu, keterpaduan transdisipliner merupakan keterpaduan seluruh mata pelajaran yang meluruh dan terpadu menjadi satu secara koheren untuk mengkaji dan mempelajari suatu konteks pembelajaran. Pemilihan materi untuk dijadikan suatu tema yang dikaji dalam pembelajaran dapat menjadi salah satu alternatif. Dengan melihat pemilihan bentuk keterpaduan pembelajaran, kita seharusnya dapat mengoptimalkan kemampuan siswa.

Ketiga, kurikulum adaptif harus diimplementasikan dalam proses kegiatan pembelajaran yang sederhana dan tidak membebani siswa. Kebijakan pembelajaran daring dan luring dapat dijadikan alternatif penyampaian materi kepada siswa. Dua sistem pembelajaran tersebut dapat dijadikan pilihan dengan didasarkan pada situasi dan kondisi siswa.

Kemampuan dan keterbatasan siswa yang beragam juga menjadi satu pijakan untuk memilih suatu metode pembelajaran. Guru harus lebih kreatif untuk mencoba berbagai variasi metode pembelajaran yang bermakna sehingga membuat siswa antusias dan tidak bosan mengikuti pembelajaran.

Selain hal tersebut, jam pelajaran sebaiknya dikurangi dan waktu yang digunakan juga lebih fleksibel. Artinya, guru tidak perlu kaku untuk menerapkan pembelajaran dengan panduan kurikulum adaptif. Justru sebaliknya, guru harus mencoba untuk memberikan rasa tanggung jawab, kepercayaan, dan kemandirian kepada siswa dalam mengikuti pembelajaran dan penyelesaian tugas di masa pandemi.

Baca juga:   Pendidikan di Masa Sulit

Keempat, kurikulum adaptif memuat suatu kegiatan evaluasi atau penilaian yang tidak membebani siswa. Kegiatan evaluasi pembelajaran dapat mengadaptasi dari jenis penilaian yang selama ini digunakan dalam K13, salah satunya adalah penilaian portofolio. Apabila siswa selama satu pekan mempelajari beberapa tema dan tema tersebut dikaji dari berbagai mata pelajaran, siswa dapat mengirimkan tugas yang diberikan dalam rentang masa satu pekan tersebut. Masing-masing guru mata pelajaran dapat memberikan review dan penilaian atas tugas yang dikirimkan oleh siswa. Titik tekannya tidak harus benar salahnya tugas yang diberikan saja, tetapi lebih menekankan kepada proses dan hasil belajar siswa. Dengan demikan, penilaian yang diberikan tidak sekompleks dan serumit seperti kurikulum pada masa dan kondisi normal, penekanannya lebih pada penguasaan literasi, numerasi, dan pengembangan karakter.

Empat komponen utama kurikulum tersebut dapat dijadikan pijakan dalam pengembangan kurikulum adaptif. Dengan kurikulum adaptif ini, sekolah, guru, dan siswa di Indonesia diharapkan dapat melaksanakan pembelajaran dari rumah dengan baik. Peran orang tua dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak-anak pun dapat berjalan optimal.

Menarik dan patut dinanti, seperti apa rancangan kurikulum adaptif yang dikembangkan oleh pemerintah. Semoga dapat sesuai harapan seluruh stakeholder pendidikan sehingga proses pembelajaran di masa pandemi ini tidak menjadi beban yang terlalu memberatkan bagi sekolah, guru, siswa, dan orang tua. Semoga. (*)

2 KOMENTAR

  1. Mohon maaf evaluasi bukan penilaian karena kalau penilaian (assessment) untuk menetapkan status/keberhasilan seseorang peserta didik sedangkan evaluasi untuk menetapkan status/keberhasilan pendidik dalam mengimplementasikan kurikulum sebagai program atau secara operasional diujudkan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran sehingga evaluasi untuk nenetapkan seberapa efektif dan efisiennya program yang dirancang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,023FansLike
37FollowersFollow