Sunday, February 5, 2023
spot_img
BerandaPendidikanMalik Fadjar Inspirator Menghidupkan Kembali Sekolah

Malik Fadjar Inspirator Menghidupkan Kembali Sekolah

Abdulah Mukti, M.Pd.
Staf Khusus PP Muhammadiyah, Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Bangsa Indonesia kembali berduka kehilangan putera terbaiknya di bidang pendidikan. Kemarin, 7 September 2020, salah satu guru bangsa kembali ke pangkuan Sang Ilahi.

Kepergian Profesor Malik Fadjar meninggalkan banyak karya monumental di bidang pendidikan, baik untuk Persyarikatan Muhammadiyah, maupun untuk negeri tercinta ini. Jiwa raganya didedikasikan untuk pendidikan berkemajuan di Indonesia. Bahkan, setelah mengakhiri amanahnya menjadi Menteri Agama, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri ad interim Menko Kesra, dan Wantimpres RI, Malik Fadjar masih aktif tiada lelah “niup-niup” sekolah.

Malik Fadjar tercatat kerap melakukan lawatan ke daerah. Hal ini dilakukannya semata-mata untuk mewujudkan idealisme pendidikan berkemajuan di Indonesia. Salah satu bukti dari besutan tangan dinginnya adalah transformasi kampus Universitas Muhammadiyah Malang dan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Saya sendiri telah empat belas tahun membersamai Malik Fadjar (2009–2020) dalam “niup-niup sekolah”.

Tokoh praksis menghidupkan sekolah

Perjumpaan saya dengan Malik Fadjar diawali enam tahun lalu ketika membantu aktivitas riset mengenai penerbit buku Islam di Indonesia (2004–2005), kehidupan Islam kampus di 13 PTN terpilih di seluruh Indonesia (2006–2008), dan kehidupan keberagamaan kampus di tujuh PTN terpilih. Di awal Tahun 2009, saya mendapat amanah menjadi kepala SMP Muhammadiyah 1 Depok Sleman yang ketika itu kondisinya nyaris ditutup karena jumlah yang mendaftar pada tahun sebelumnya hanya 8 siswa.

SMP yang berdiri sejak 1 Januari 1968 tersebut, pada 1986 pernah mengalami kejayaan. Jumlah siswanya mencapai 596 (15 kelas paralel). Namun, karena ada konflik internal, kekurangmampuan sekolah dan persyarikatan menghadapi tantangan zaman, serta banyaknya sekolah di sekitar, menjadikan sekolah legendaris ini mendekati “sakratul maut”.

Mengetahui keadaan itu, mantan Rektor UMM, Rektor UMS, dan Ketua PP Muhammadiyah di bidang pendidikan ini mendorong saya untuk membenahi sekolah tersebut dan menawarkan diri menjadi “guru”. Malik Fadjar memberikan resep jitu yang telah diterapkan dalam membesarkan kampus UMM dan UMS secara intensif. Bahasa Malik Fadjar ketika itu, “niup-niup”.

Atas saran Beliau, seluruh stakeholders SMP dikumpulkan, mulai tokoh masyarakat Muhammadiyah dari berbagai lapisan, hingga Kepala Dinas Pendidikan DIY. Pendekatan yang dilakukan adalah transformasi berbasis masyarakat (MBS) yang juga pernah menjadi kebijakan saat Malik Fadjar menjabat Mendiknas. Hal lain yang dilakukan adalah menekankan aspek perubahan berbasis persyarikatan, gerakan, mendorong sekolah bersama seluruh elemen bergerak bersama, bahu-membahu membuat tanda-tanda kehidupan terhadap sekolah agar user dan masyarakat mengetahui SMP tersebut belum mati.

Hasil pertemuan tersebut adalah target untuk menaikkan siswa yang semula 8 menjadi 61. Hal ini di luar dugaan karena target kami hanya 20 siswa. Perubahan yang diraih menjadi anak tangga perubahan demi perubahan. Saat ini siswa sekolah tersebut sudah mencapai 359 siswa (12 kelas) dan terakreditasi A (unggul), bahkan secara fisik sekolah berubah drastis.

Dengan bimbingan Malik Fadjar, SMP ini tidak lagi pada peringkat paling bawah di Sleman, melainkan menuju sekolah unggulan. Tahun 2017, SMP 1 Muhammadiyah 1 Depok menjadi sekolah percontohan pendidikan karakter tingkat nasional. Sebagai kepala sekolah, di tahun 2018 saya memperoleh prestasi Kepala Sekolah Inspiratif Kemdikbud RI, mengikuti training kepemimpinan selama satu bulan di RRT (Kampus Jiangsu Vocasional Institute of Architectural and Technology Xuzhou), dan sebelum mengakhiri ketugasan, saya memperoleh prestasi Juara Terbaik Best Practices Kepala Sekolah Jenjang SMP Tingkat Nasional Kemdikbud RI (2019).

Baca juga:   Menyikapi Kontroversi Peta Jalan Kemdikbud RI

Dengan penuh ketelatenan, saya mendapat bimbingan langsung. Secara khusus, satu bulan sekali, di sela kesibukan menghadiri rapat pleno PP Muhammadiyah, seluruh sivitas akademika SMP Muhammadiyah 1 Depok diberikan banyak wejangan, arahan, wawasan, ilmu, dan pencerahannya yang sangat mudah dicerna, tetapi mendalam dan mengena. Selain itu, Malik Fadjar juga melakukan kunjungan ke SMP secara informal, penuh dengan suasana kekeluargaan, humanis, dan selalu menyempatkan menelusuri setiap sudut yang ada di sekolah. Tak jarang masukan langsung diberikan tanpa tedeng aling-aling agar sekolah kami tumbuh, berkembang pesat, dan menjadi uswah hasanah bagi sekolah lainnya.

Ketika melakukan kunjungan ke daerah, baik sebagai Ketua PP Muhammadiyah, maupun sebagai Watimpres, saya sering diajak, bagaikan ajudan dan tiada henti mendapat limpahan ilmu pengetahuan menghidupkan kembali sekolah. Buah dari didikan dan kader intilan-nya ini, berwujud kemajuan SMP Muhammadiyah 1 Depok.

Selain “niup-niup” SMP Muhammadiyah 1 Depok, Malik Fadjar juga selalu menyempatkan “niup-niup” sekolah lainnya. SMP di daerah Ngemplak Sleman, Kecamatan Sleman, Prambanan, Wonosari Gunungkidul, Moyudan, Kulonprogo, Bojongnangka Tangerang, dan lain sebagainya juga mendapat perhatiannya dengan model blusukan. Tanpa formalitas dan basa-basi, Malik Fadjar secara lugas memberikan wejangannya yang mudah dicerna sekaligus berangkat dari pengalaman nyatanya.

Ada beberapa quotes Malik Fadjar yang saya ingat, di antaranya:

  1. jika ingin berhasil melakukan perubahan sekolah, harus siap ditongkrongi dan diplototi lahir dan batin oleh kepala sekolah dan guru;
  2. jangan bermain kelereng di gang buntu;
  3. ameng-ameng, omong-omong, iming-iming;
  4. buatlah tanda-tanda kehidupan;
  5. jangan menjadi sekolah tadah hujan;
  6. sekolah harus bisa membaca tanda-tanda zaman;
  7. jangan kelahi, konflik, karena menjauhkan dari rezeki (sudah miskin, konflik lagi);
  8. luaskan hati, luaskan pandangan dan wawasan, dan lentur bersikap;
  9. berangkatlah dari lingkungan setempat;
  10. guru jangan ngantukan agar siswanya semangat;
  11. wujudkan sekolah yang membahagiakan, menyenangkan; mengasyikkan,menggairahkan, mencerdaskan, dan menginspirasi para penerus masa depan bangsa;
  12. pendidikan harus menatap masa depan;
  13. boleh miskin dan tidak punya apa-apa secara finansial, namun jangan miskin cita-cita.

Beberapa bulan sebelum sakitnya, saya menemani Malik Fadjar dan ibu melakukan pola yang sama seperti yang dilakukan di SMP Muhammadiyah 1 Depok. Padahal, daerah dan medannya sangat terjal untuk usia sesepuh Beliau. Kendati harus dibantu tongkat, Malik Fadjar menyemangati, membakar obor juang optimisme guru dan karyawan agar sekolah yang kami kunjungi bisa mendapatkan siswa dari dua menjadi 50.

Sungguh luar biasa, keteladannya sebagai guru penggerak sejati tidak pernah surut, tanpa sekat, batasan, usia, dan daerah. Spirit sang begawan terjun langsung melakukan transformasi pendidikan tidak hanya di tingkatan perguruan tinggi, tetapi juga sekolah. Jalan hidup dan kepeduliannya, empati dan simpatinya, terutama untuk sekolah yang from nothing “ditiup-tiup” olehnya menjadi to be something.

Jasa dan amal salihnya tiada tara. Kepergiannya kepada Sang Ilahi beberapa hari yang lalu menjadi duka-lara bagi kalangan sekolah yang pernah “ditiup-tiupnya”. Inspirasi sang inspirator harus terus diteruskan agar pendidikan dan sekolah berkemajuan di negeri ini terwujud. (*)

spot_img

2 KOMENTAR

  1. Subhanallaah, semoga ada kader-kader Muham madiyah Muda yang melanjutkan dan mengembangkan jejak langkah beliau Prof. Malik Fajar terutama dalam Meniup-niupi atau ngipas-ngipasi sekolah-sekolah Muhammadiyah yang sekarang banyak permasalahan….

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow