Monday, November 30, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Manusia Wabah: Sebuah Introspeksi Diri di Masa Pandemi

Manusia Wabah: Sebuah Introspeksi Diri di Masa Pandemi

Lena Citra Manggalasari
Alumni Technische Universität Dresden, Mahasiswa Program Doktor Pendidikan Teknologi dan Kejuruan Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Dalam beberapa tahun ke depan, penelitian, media informasi, bisnis, kegiatan pendidikan, dan ekonomi mungkin tidak bisa lepas dari bahasan tentang Covid-19. Corona Virus Desease (COVID) yang mulai menduduki bumi sejak akhir 2019 ini, mengubah segala sesuatu, terutama cara hidup kita. Berapa banyak dari kita yang merasa bahwa virus ini menyebalkan karena membuat repot?

Sesaat cobalah menyendiri, mengajak alam untuk berbicara tentang apa yang sedang terjadi, juga mengajak diri untuk berintrospeksi. Bagaimana jika cara pandang kita yang diubah? Bagaimana kelakuan kita sebelum Covid-19 datang? Siapa kita dan siapa Covid-19 di bumi ini? Jikalau rasanya sulit untuk berintrospeksi karena rasa-rasanya sudah menjadi manusia saleh dan hebat, sudilah kiranya membaca dongeng singkat dari saya.



Di masa lalu, Sang Khalik menurunkan manusia lewat rahim seorang ibu untuk menjaga bumi. Tolong tidak perlu berkomentar, “Itu awalnya Adam berbuat kesalahan di surga, jadilah kita manusia diturunkan ke bumi”. Ini dongeng introspeksi diri, bukan introspeksi Adam atau yang lain. Fokus ke dirimu sendiri.

Dalam perjalanan waktu, Sang Khalik berbaik hati memberikan kecerdasan yang luar biasa melalui beberapa manusia di bumi, kecerdasan yang sering diaku-aku sebagai hasil usaha manusia sendiri. Kemudian, manusia memulai berkenalan dengan apa yang dinamakan teknologi. Memulai Era 1.0, di mana manusia mulai dimampukan Sang Khalik untuk menemukan mesin uap yang mengibarkan panji-panji kemenangan bagi industri tekstil pada waktu itu, meskipun bumi mulai dikotori dengan polusi.

Anugerah kecerdasan melaju terus membawa manusia ke Era 2.0 ketika penemuan listrik makin mengkatrol pundi-pundi keuntungan. Meski dalam keadaan perang, kecerdasannya pun mampu melahirkan komputer Colossus untuk memecahkan kode dan saling menghancurkan di masa Perang Dunia II. Bumi sudah menahan sakit sejak lama karena yang diberi tumpangan untuk tinggal berbuat sesuka hatinya.

Di zaman modern, manusia makin bersuka cita dengan berbagai penemuannya. Mereka membangun banyak gedung pencakar langit bahkan di atas situs-situs sejarah yang ditinggalkan nenek moyang, membangun industri-industri tanpa berdialog dengan sekitar, apakah limbahnya nanti merugikan, serta melakukan pembalakan liar demi secarik kertas yang bernama uang. Sebagian manusia menindas sebagian yang lain demi mendapatkan hasil alam, kedudukan, atau jabatan.

Baca juga:   Kultur Belajar di Masa Pandemi

Pada suatu masa, datanglah corona untuk membantu bumi pulih dari derita-derita yang dia tanggung selama ini. Dengan kekuatannya, dalam waktu singkat manusia menjadi menerapkan hidup bersih, lingkungan bersih, menghentikan industri, tinggal di rumah, dan menggarasikan kendaraan-kendaraannya yang biasa berjalan jumawa menyusuri jalan raya dan menyumbangkan polusi udara yang besar.

Jauh sebelum kedatangan corona, sebenarnya Sang Khalik membuka gerbang ilmu lebih luas lagi agar manusia dapat memasuki Era 4.0, di mana pada era ini hampir semua hal terhubung melalui internet. Jarak antartempat menjadi tanpa sekat, bahkan seluruh dunia terhubung dengan mudah. Sayangnya manusia tidak menyadari sign dari Sang Khalik, bahwa era ini adalah era perbekalan menuju era-era selanjutnya yang kecanggihannya mungkin belum ada dipikiran kita, juga untuk bekal di masa pandemi ini.

Bisa Anda bayangkan jika corona ini datang sebelum Era 4.0? Kegiatan apa saja yang bisa Anda lakukan dengan ponsel monophonic? Menghabiskan waktu di rumah dengan game ular? Oleh karena itu, seharusnya kita tetap bersyukur karena meski hidup di masa pandemi, tetapi Sang Khalik sudah menyiapkan bekal yang luar biasa canggihnya. Dengan adanya smartphone, kita masih bisa produktif di mana pun berada, bahkan kita bisa tetap berdagang, kuliah, maupun rapat dengan kolega-kolega yang tersebar di penjuru dunia.

Baca juga:   Terapi Covid-19 dengan Plasma

Bagi semesta, corona adalah pahlawan yang menyelamatkan bumi. Beberapa saat setelah kedatangannya, media memberitakan bahwa tingkat polusi udara di kota-kota besar di dunia menurun. Di Madrid misalnya, pada bulan Maret 2020 level NO2 turun 41-56 % dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Begitu pula halnya di Jakarta, partikel debu halus turun selama penerapan work from home, di mana indeks kualitas udara/AQI rata-rata dia angka 60. Seorang astronot NASA pun mengabarkan bahwa kondisi lapisan ozon membaik sejak adanya corona atau yang sering kita sebut Covid-19.

Jadi, bagaimana menurut Anda? Di bumi ini siapa sebenarnya yang wabah, manusia atau Covid-19? Selamat berintrospeksi diri. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Indonesia Tanah Air Beta

Ibuku, Guruku

Catatan Seorang Guru

4

Fragmen Pohon dan Rimba

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Catatan Seorang Guru

Fragmen Pohon dan Rimba

Pendidikan pun Butuh Sentuhan

1,071FansLike
45FollowersFollow