Thursday, September 24, 2020
Beranda Pendidikan Mas Menteri, KBM Online Membuat Siswa 3T Susah Belajar

Mas Menteri, KBM Online Membuat Siswa 3T Susah Belajar

Risti Budiman
Guru Daerah 3T Delta Mahakam dan Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Sudah hampir lima bulan pandemi corona membuat perjalanan rajutan saya di tanah istimewa ini menjadi kacau. Ingin sekali satu tahun saya di daerah 3T ini mampu belajar menjadi ibu guru yang terbaik untuk anak-anak didik saya. Tapi, hanya 2,5 bulan saja saya mampu bertatap muka menyaksikan senyum semangat dan muka kesal mereka karena di beri hukuman akibat mengacau di kelas. Setelahnya, tantangan luar biasa muncul untuk mengajar di daerah terpencar ini, yaitu pembelajaran daring.

Pemerintah menginstruksikan untuk di rumah saja dan menghindari kerumunan, termasuk kerumunan pendidikan. Awalnya saya setuju karena hanya kurang lebih sepuluh hari saja. Dalam sepuluh hari itu, saya yakini mampu membuat anak-anak merasakan nikmatnya menuntut ilmu, lebih menghargai guru, serta mentaati peraturan dengan lebih baik lagi. Mendekati hari kesepuluh, muncullah pengumuman baru bahwa masuk sekolah diundur, diundur lagi, dan terus diundur hingga akhir semester genap, bahkan hingga tahun ajaran baru ini.




Kesal, marah, kacau, kecewa, itulah gambaran perasaan saya saat harus menerima kebijakan ini. Saya yakin pemerintah sudah mempertimbangkan dengan bijak, hingga akhirnya itulah solusi terbaik menurut mereka untuk kelangsungan negeri ini.

Semua harapan, capaian, dan dambaan saya untuk mengabdi di daerah ini banyak mengalami kendala karena keterbatasan akses dan sempat ada penerapan isolasi desa. Di desa tetangga terdengar isu warga terinfeksi virus. Seluruh akses ke dan dari desa seberang pun ditutup. Semua yang akan masuk ke desa kami dilarang, termasuk seluruh murid dari desa seberang dilarang untuk memasuki wilayah kami.

Bayangkan, betapa sepinya, suara capit anak kepiting saja sampai terdengar. Sudah rumah saling berjauhan, kapal sayur dilarang masuk, siswa yang sering menemani saya di rumah dilarang datang, warga diimbau untuk di rumah saja. Rasa was-was selalu mengelilingi kami. Bisa dibayangkan, betapa sepinya, hampir seperti desa mati. Tapi, saya berusaha untuk menguatkan diri bahwa tidak hanya saya yang merasakan ketakutan ini, seluruh orang di dunia merasakan hal tersebut. Kami bersabar dan berdoa agar selamat dari keadaan ini.

Ada momen di mana saya sangat terharu karena dihubungi salah satu murid yang hanya ingin mengatakan, “Kapan sekolah, Bu? Saya rindu Ibu dan sekolah!” Menurut saya, itu sudah ada tanda perubahan pada pola pikir mereka, bahwa sekolah itu penting. Namun, lama-kelamaan hampir setiap hari saya ditanya hal semacam itu, bukan satu murid, tetapi hampir seluruh murid saya. Sekarang, ditambah orang tua yang mengeluhkan perilaku anak di rumah yang semakin hari semakin malas dan hanya bermain game online atau domino. Kadang, saya merasa “diteror”. Tidak hanya mereka yang rindu sekolah, rindu belajar, rindu menghantarkan dan menunggui anak-anak mereka di sekolah, saya juga rindu, sangat rindu untuk bisa kembali menyambut mereka di pagi hari dengan salam, senyum, dan sapa, mengajar di kelas, bahkan bercanda gurau dengan mereka.

Salah satu tujuan saya merantau adalah untuk mengetahui salah satu asal-muasal benang kusut pendidikan di Indonesia. Hari ini saya tahu salah satunya, yaitu letak geografis. Di sini murid-murid kami sangat terpencar bahkan beberapa dari mereka saja beda pulau. Untuk bisa bertemu dengan mereka rata-rata aksesnya menggunakan air. Selain itu, tantangan lain muncul terkait sinyal yang datang dan pergi, bahkan masih banyak wilayah yang tidak terjangkau. Fasilitas umum masyarakat juga minim. Betul, hal tersebut mungkin bukan sesuatu yang awam dari pendengaran kita, tapi ya di sini memang begitu keadaanya dan sangat menyulitkan para guru untuk bisa mengadakan pembelajaran.

Satu hal lagi yang sekarang saya yakini dan buktikan, bahwa teori memang tidak semudah di lapangan. Pemerintah meminta untuk semua pembelajaran dilaksanakan secara online. Menurut saya, itu salah satu gagasan cerdas mengingat kita sudah memasuki era di mana teknologi adalah bagian dari berlangsungnya hidup. Akan tetapi, apakah mungkin semua lokasi geografis di Indonesia yang unik ini mampu menyambut gagasan cerdas tersebut? Contoh paling nyata saja, di tempat saya mengajar ini listrik hanya 12 jam, itu saja hanya bisa dinikmati malam, pukul 18.00–06.00 WITA dan belum semua masyarakat mengunakan listrik PLN. Masih banyak warga yang menggunakan genset dari BUMDes, sebagian mereka menggunakan solar home system, itu pun tidak semua berfungsi dengan baik. Selain itu, tidak semua siswa memiliki handphone dan tidak semua memiliki anggaran untuk pembelian pulsa.

Orang tua juga banyak yang mengeluhkan harga komoditas laut, seperti kepiting, udang, dan ikan menurun drastis harganya. Bisa dibayangkan alasannya karena apa? Iya, alasannya hanya karena banyak konsumen yang menduga virus corona ini berasal salah satunya dari komoditas laut. Alangkah lucunya mereka ini. Contoh penurunan harga komoditas udang, pada harga biasanya satu kilogram bisa mencapai rentang 270–350 ribu rupiah. Sekarang harganya hanya sekitar 160 ribu. Ditambah cuaca yang sedang tidak mendukung, tambah menjeritlah para orang tua ini yang notabene profesi mereka adalah nelayan dan petani tambak.

Pembelajaran daring

Hari di mana mau tidak mau kami sebagai guru harus menggiring siswa mengikuti pembelajaran daring tiba. Pembelajaran daring disesuaikan dengan jadwal pelajaran pada hari-hari biasanya. Di rumah saya tinggal tidak ada sinyal sama sekali. Jadi, mau tidak mau saya harus mencari “kantor baru” yang memiliki sinyal paling kuat. Singkat cerita, saya menemukan “kantor” di jembatan dekat rumah.

Baca juga:   Pendidikan di Masa Sulit

Hampir setiap hari saya duduk di jembatan itu untuk mencari sinyal bersama guru-guru lain. Jika sinyal tidak tiba-tiba hilang dan tidak hujan, kami bisa bertahan dari pukul 08.00 pagi sampai 12.00 siang, hingga baterai laptop, powerbank, dan handphone saya habis. Setelah habis baterai, tandanya berakhir pula pembelajaran pada hari itu. Kami baru dapat mengisinya kembali saat listrik menyala sekitar pukul 18.00 WITA.

Awalnya, saya kesulitan mengefektifkan waktu kerja sesuai dengan kekuatan baterai. Akan tetapi, lama-kelamaan jadi kebiasaan. Tantangan lain saat berada di “ruang kelas” jembatan itu adalah nyamuk dan agas yang luar biasa arogan. Kadang ada biawak yang mampir di depan kami. Hal itu sudah biasa, namun kadang tetap saja mengagetkan.

Menjadi guru keliling

Beruntungnya saya mengajar di lingkungan sekolah yang guru-gurunya luar biasa. Guru-guru ini pengabdianya sudah tidak perlu diragukan lagi, bahkan saya sangat malu dengan diri saya sendiri. Saya merasa satu tahun saya di sini bisa disebut pengabdian, namun setelah melihat dan mendengar pengalaman guru-guru lain, hampir semua sudah merasakan pahit, manis, asam, dan asinnya mengabdi di sini. Mereka telah merasakan setiap hari kebanjiran karena pasang surut air, disentri karena kurang air bersih, ular, monyet, tikus, biawak, tinggal di rumah yang hampir rubuh karena tergerus air asin, jauh dari keluarga, sampai yang termanis adalah guru atau sekolah mendapat banyak prestasi hingga masuk televisi. Mereka ini sudah lebih dari dua puluh tahun membantu merealisakasikan janji kemerdekaan, bahwa pendidikan adalah hak segala bangsa.

Baca juga:   Belajar Tuntas Berkualitas dalam Kondisi Terbatas

Guru-guru ini sangat ulet untuk menghantarkan anak didik mereka ke gerbang kemerdekaan pendidikan. Sampai ada pada titik di mana pengabdian mereka yang sudah teruji diuji kembali oleh Ibu Pertiwi. Singkat cerita, pada suatu hari kami mengadakan rapat dan selama rapat berlangsung, para guru berdebat tentang mekanisme belajar terbaik selama pandemi.

Kami yang muda seharusnya yang aktif, tapi melihat para guru senior ini rapat, luar biasa sangat menggugah nurani. Memang, kalau sudah jiwa guru mendarah daging, tidak ada yang bisa membantah termasuk virus seperti ini yang sangat berpotensi mengancam kesehatan mereka. Para guru ini beradu argumen untuk sekadar mencari jalan keluar terbaik untuk siswa-siswi kami.

“Hancur masa depan anak-anak kalau betul-betul sekolah ini semuanya kita lakukan online,” celetuk kepala sekolah saya.

“Tapi, hancur pula kalau kita harus berkeliling, rumah murid kita tidak satu tempat dan semuanya harus ditempuh menggunakan perahu, kalau jalan kaki bisa berjam-jam,” timpal salah seorang guru di tengah-tengah rapat.

“Tapi, tidak boleh kita biarkan mereka seperti ini. Kita adalah guru, di mana beban kita ada pada bagaimana nasib anak-anak penerus bangsa ini. Kita sudah mengabdikan diri ini kurang lebih dua puluh tahun, bahkan lebih. Dari yang benar-benar susah menjadi kemajuan yang cukup pesat. Dari hanya SD, menjadi ada SMP terbuka, kemudian menjadi SMP negeri, ada SMA, ada paket, dan ada juga TK. Kita juga bisa melihat alumni dari sekolah ini, bagaimana mereka berkembang di masyarakat dan dunia kerja. Apa kita akan menyerah begitu saja dengan keadaan ini?” teriak kepala sekolah saya.

“Baik, begini saja, kita harus tetap mentaati kebijakan pemerintah. Kita ambil jalan tengahnya saja, adakan pembelajaran kombinasi daring dan luring,” sahut guru lainnya.

“Betul, Pak. Untuk daring kita buat video pembelajaran dan kirim ke anak-anak, sedangkan untuk luring kita melakukan home visit ke rumah-rumah murid.”

“Tapi, lokasi siswa sangat terpencar, bagaimana ini, Pak, Bu?”

“Kita buat zona saja. Untuk daerah Muara Pantuan, Tani Baru, Tani Aman, Tani Makmur, Tani Subur, Kampung Makassar, kita kumpulkan saja di areal sekolah Tani Baru.”

“Bagaimana dengan yang di Muara Ilo? Muara Ilo seberang? Selok Janda? Pulau Tunu?” timpal guru lainnya.

“Sama saja, kita berlakukan zonasi saja. Mereka kita kumpulkan di daerah Muara Ilo, nanti kita izin kepala desa untuk menggunakan gedung badminton, pasar, mushola, rumah warga, kantor desa, dan kantor BPD, kita yang datangi mereka. Mayoritas murid kita ada di desa ini.”

“Baiklah, Pak, Buk.”

“Kita harus semangat, Bapak-Ibu guru, jangan sampai tekad dan usaha kita luntur hanya karena musibah ini. Ingat lagi, Bapak, Ibu, kita sudah dua puluh tahun lebih mengabdikan diri membangun Indonesia dari pinggir, jangan kalah dengan keadaan seperti ini,” tambah kepala sekolah.

Hingga hari menjadi “guling” (guru keliling) kami tiba, di mana kami mendatangai murid-murid kami sesuai dengan zona yang sudah disepakati. Kami berangkat menggunakan perahu, dengan membawa papan tulis dan spidol di tangan kanan-kiri. Luar biasa,  para guru ini, semangat mereka sangat menginspirasi kami sebagai generasi muda. Pengalaman yang luar biasa untuk menjadi guru keliling tidak akan pernah saya lupakan. Kami menggunakan seragam, membungkus buku-buku dengan plastik berharap agar tidak basah terkena air. Kami harus menjadi super lincah untuk naik turun dermaga dan perahu.

Dari pengalamanini saya belajar, bahwa tekad dan ketulusanlah yang akan menjadi bagian dari cahaya penerang bagi kehidupan di masa yang akan datang. TERIMA KASIH BAPAK IBU GURU, Anda semakin meyakinkan saya bahwa setiap manusia lahir di dunia pasti bermanfaat dengan misi yang mereka bawa masing-masing. (*)

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Papan Catur Tua Kraton Surakarta

Dendam Tujuh Turunan

Motivasi Menulis dari Webinar Guru Menulis

Bersegeralah Sedekah Jangan Ditunda

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Strategi dan Teknik Menulis Ilmiah

Pandemi

1,042FansLike
42FollowersFollow