Saturday, December 5, 2020
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Masyarakat Antikarakter

Masyarakat Antikarakter

Prof. Suyanto, Ph.D.
Guru Besar FE Univeritas Negeri Yogyakarta, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah 2005-2013

PENDIDIKAN karakter semakin penting di era Revolusi Industri 4.0. Mengapa begitu? Mudah saja sebuah argumentasi diformulasikan. Bukankah di era Revolusi Industri 4.0 supaya kita eksis harus memikiki keterampilan hidup abad 21. Keterampilan itu meliputi: berpikir kritis, bertindak kreatif, mampu berkomuniaksi dengan piawai, dan mampu melakukan kolaborasi secara produktif. Kalau mau dielaborasi lebih detail keterampilan abad 21 dapat dirinci menjadi berbagai kemampuan atau kompetensi dalam beberapa hal yaitu: leadership, digital literacy, communication, emotional intelligence, entrepreneurship, global citizenships, problem-solving, dan team-working.

Untuk bisa melakukan ini semua seseorang perlu memiliki karakter yang kuat agar dalam praksis kehidupan kompetensi itu didasari pada nilai-nilai universal yang dapat berterima secara fungsional dan resiprokal. Maka dari itu pendidikan karakter menjadi sangat penting bagi siapa saja. Mengapa? Yaa karena karakter tidak dapat datang sendiri dibawa sejak lahir. Sebaliknya karakter harus didapat dari proses pendidikan yang panjang dan pembiasaan yang berulang-ulang. Namun lama tidaknya proses habituasi memang sangat tergantung pada kesiapan, kemapuan adopsi dan adaptasi masing-masing individu.

Pendidikan karakter perlu dikemas dan dipraktikkan untuk membekali para peserta didik hidup di era Revolusi Industri 4.0 di abad 21 ini. Apa urusanya dengan Revolusi Industri 4.0? Urusanya tidak mudah disederhanakan. Mengapa begitu? Karena di dua modalitas kehidupan itu kini juga dibarengi dengan disrupsi teknologi yang membuat cara hidup baru sungguh mencampakkan tata cara kehidupan yang lama tanpa ampun. Dalam menghadapi kehidupan yang campur baur dan berubah cepat ini semua orang harus memiliki kesiapan psikologis dan kesiapan teknis secara memadai. Orang-orang yang memiiki karakter kuat, konsisten, dan sekaligus fliksibel akan lebih sukses dibandingkan dengan orang yang berpikiran sempit dan picik dengan karakter yang kaku, ekstrim, dan buta huruf teknologi digital.

Lalu apa hubungannya karakter dengan Revoludi Industri 4.0? Di era Revolusi Industri 4.0 tuntutan kehidupan sangat mendasarkan pada konektivitas antarmesin, antarorang, antarprogram, antardata kecil dan data raksasa dalam suatu jaringan yang harmonis dan sinergis dalam modalitas digital. Di sini peran manusia merupakan subyek yang mengatur dan menentukan konektivitas itu. Orang yang memiliki karakter kuat akan sukses membangan konektivitas dalam jejaring berbasis internet. Sifat-sifat inovatif, kreatif, jujur, disiplin sangat dipersyaratkan untuk eksis dalam suatu jaringan.

Baca juga:   Kekerasan di Ruang Publik

Itulah sebabnya pendidikan karakter bagi siswa kita sangat diperlukan. Pendidikan karakter sudah kita lakukan. Langkah yang paling sederhana adalah melakukan harmonisi empat domain besar karakter yaitu olah pikir, olah rasa, oleh hati, dan olah raga. Menjaga keseimbangan empat domian ini agar terjadi pada diri siswa sehingga mereka memiliki pemahaman, penghayatan, dan tingkah laku positif, merupakan kegiatan penting bagi para pendidik dan juga orangtua.

Harmonisasi itu kemudian dilakukan dengan menggunanakan pendekatan budaya kelas, budaya sekolah dan budaya masyarakat. Apa itu budaya? Definisi yang lugas tentang budaya adalah: values in practice. Jadi nilai-nilai luhur yang dipraktekkan dalam kehidupan itulah badaya. Ketika orang perilakuknya menyenangkan, hormat pada orang tua, respek pada sesama, toleran terhadap perbedaan, maka dia sebenarnya sedang memraktekkan nilai-nilai moral universal dalam kehidupannya.

Baca juga:   Stop Kekerasan Anak

Berangkat dari pendakatan budaya ini, rupanya badaya masyarakt kita menjadi area rawan bagi pendidikan karakter. Betapa tidak! Dalam masyarakat kita sering dan tak kunjung berhenti ada praktek-praktek kehidupan yang antikarakter dan anti moral universal. Pembunuhan sering terjadi. Pertandingan sepak bola saja sering disertai dengan perkelahian masal, dan bahkan pembunuhun. Media sosial sering memviralkan perilaku perilaku yang tidak pro moral dan pro-karakter. Kejadian-kejadian yang antikemanusiaan itu semua menjadi non-example bagi pendidikan karakter. Oleh karena itu kita semua secara individu harus memulai ikut mengedukasi kelompok kelompok dalam masyarakat dengan memberikan keteladanaan yang pro moral dan pro karakater. Dengan cara seperti itu maasyarakat akan menjadi teladan dan referensi moral bagi siswa kita.

Tulisan ini terbit pertama di Harian Kedaulatan Rakyat edisi 15 Oktober 2018.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Kesiapan menjadi Kampus Merdeka

1

Indonesia Tanah Air Beta

Ibuku, Guruku

Catatan Seorang Guru

4

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,071FansLike
46FollowersFollow