Friday, August 7, 2020
Beranda Budaya Melihat Fans K-Pop dari Sudut Pandang Akademis

Melihat Fans K-Pop dari Sudut Pandang Akademis

Awanis Akalili S.I.P., M.A.
Dosen Ilmu Komunikasi FIS Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Terkadang menyenangi Korean Pop atau lebih populer dengan singkatan “K-Pop” bisa berujung pada candu. Term tersebut tidaklah main-main ketika ada beberapa penggemar yang rela menyisihkan uangnya demi membeli segelintir merchandise dengan harga tidak murah, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menonton music video idolanya, bahkan tak jarang di antaranya mengalami halusinasi. Dalam konteks K-Pop, tentu tidaklah asing bila menjadi fans K-Pop kerap memperoleh predikat alay dan norak. Namun, stigma kurang baik mengenai penggemar K-Pop tersebut tidak menyurutkan semangat beberapa individu untuk tetap setia pada K-Pop.

Sebagai salah seorang penikmat K-Pop, pandangan negatif mengenai fans K-Pop justru menginspirasi saya dalam penulisan akademis. Tesis saya, misalnya (Akalili, 2018), berjudul Manajemen Komunikasi Fandom ‘Boys Love’ EXO, mengeksplorasi bagaimana solidaritas penggemar K-Pop minoritas yang secara mandiri membentuk, menjalankan, bahkan hingga suka rela mengeluarkan rupiah untuk mengakomodir fandom, baik di laman media (melalui LINE) dan offline (kegiatan-kegiatan gathering). Segala proses pengelolaan fandom tersebut dilakukan dan dikendalikan secara mandiri, berdasarkan landasan solidaritas.



K-Pop ialah salah satu bentuk budaya populer yang dibawa melalui arus Hallyu Wave, Korean Wave. Hallyu Wave merupakan diksi yang digunakan untuk menjelaskan tersebarnya budaya pop Korea di berbagai negara. Hallyu Wave membawa pengaruh besar pada bentuk-bentuk kesenangan baru Korea yang difasilitasi melalui musik, film, drama, makanan, pakaian, make up, bahkan diksi bahasa. Musik yang dihadirkan di dalam K-Pop pernah membawa satu fenomena Hallyu Wave besar di Indonesia melalui “Gangnam Style”. Sun Jung dan Doobo Shim (2014) dalam artikelnya berjudul “Social distribution: K-pop fan practices in Indonesia and the ‘Gangnam Style’ phenomenon” mengeksplorasi bagaimana sirkulasi budaya K-Pop ini tumbuh di Indonesia melalui jaringan global yang difasilitasi media online, terlebih Youtube (Jung & Doobo, 2014:497).

Fans merupakan orang yang menggemari sesuatu secara fanatik. Mengerucut pada konteks fans K-Pop, studi-studi mengenai hal tersebut dapat dilihat dari penggunaan media yang dibuktikan dari banyaknya cerita-cerita fiksi (fan fiction) di halaman website, membentuk jaringan fans di media sosial, hingga menjalin interaktivitas dengan berbagai komunitas fans K-Pop di dunia maya. Media mengambil peran penting di mana fans dapat diakomodir dengan mudah melalui jaringan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Dalam cakupan yang lebih luas, beberapa fans membentuk fandom yang biasanya menjadi identitas mereka. Fandom (fans kingdom) merupakan kelompok penggemar dengan loyalitas tinggi, rasa empati serta persahabatan atas kesenangan yang sama. Menurut Mark Duffett (2013:30) loyalitas membuat fandom sebagai kelompok yang setia serta rela menghabiskan waktu, tenaga dan bahkan uang sekalipun demi mencari tahu informasi mengenai idolanya.

Isu menarik lain yang dapat dibahas mengenai K-Pop ialah kendala bahasa dan ideologi yang berdampak pada munculnya budaya-budaya fans baru seperti fan war (peperangan antarpenggemar). Perang bahasa antar-fans kerap muncul di halaman-halaman komentar, bahkan tak jarang di antaranya menyematkan diksi bullying. Namun, terlepas dari sisi negatif dari fans K-Pop tersebut, fandom merupakan audiens aktif. Penjelasan ini diperkuat oleh argumentasi Henry Jenkins (dalam Wang, 2017:153) yang menggunakan istilah fandom participatory untuk menjelaskan fandom sebagai audiens aktif yang mampu menginterpretasikan teks-teks media dan menyampaikan pendapatnya atas idolanya di media.

Baca juga:   Bullying dalam Serial Drama Korea

Selanjutnya, lokus gender juga bisa menjadi subtema menarik untuk menganalisis fans K-Pop. Menyenangi K-Pop tidak terbatas untuk kelompok perempuan saja, namun juga laki-laki. Sayangnya, beberapa fan boy (penggemar laki-laki) masih dilihat sesuatu yang aneh ketika dirinya menyenangi K-Pop. Maskulinitas yang dibangun laki-laki dianggap rapuh ketika dirinya menyenangi K-Pop, padahal menikmati K-Pop tidaklah memiliki batasan jenis kelamin dan gender apapun. Oleh karenanya, hadirnya fan boy K-Pop sering kali dilihat sebagai minoritas.

Menyenangi, menyayangi, dan candu pada K-Pop terkadang dapat menciptakan relasi fans dan idola yang diistilahkan sebagai bentuk cinta virtual. Dari sudut pandang psikologis, fans kerap merasa ketergantungan sehingga tidak bisa lepas dari bayang-bayang idolanya. Cinta virtual hadir dalam kehidupan maya, halusinasi, pikiran dan bayangan. Ada banyak alasan mengapa beberapa penggemar terjebak di dalam kesenangan berlebih terutama pada idolanya. Pada konteks penggemar perempuan, mengutip pemikiran Job, Lerner, dan Olson (dalam Engle & Tim, 2005:267) bahwa perempuan menyenangi idola laki-laki karena ia tidak ingin mengalami penolakan oleh laki-laki yang ia kenal di dunia nyata (the idea that girls like male celebrities because they do not want to risk rejection from the boys they actually know”).

Kondisi psikologis dan realitas yang pahit dapat membuat penggemar (dalam konteks artikel di atas ialah penggemar perempuan) mengalami candu pada relasi cinta virtual dengan idola laki-laki. Meskipun tidak juga menutup kemungkinan ada penggemar laki-laki yang mengalami hal serupa. Jika kejadian cinta virtual tersebut ditarik di dalam konteks fans K-Pop, ada beberapa penggemar yang merasakan sedih teramat dalam bila kehilangan idolanya. Menghadapi kenyataan bahwa idolanya tersebut harus mengakhiri hidup karena depresi, juga berdampak pada psikis penggemar. Tentu, depresi bukan isu yang dapat dipandang sebelah mata. Di sini, depresi mental pun bisa menjadi kajian akademik tersendiri untuk menjelaskan kultur fans K-Pop dan relasi batinnya pada idola.

Baca juga:   (Ter)-Jerat dalam “Toxic Relationship”

Dari bahasan di atas, K-Pop sebagai budaya populer ialah fenomena yang dapat dieksplorasi dari berbagai sudut pandang keilmuan. Menjadikan K-Pop sebagai hobi ialah pilihan. Namun, hadirnya fans K-Pop tidak sekadar wujud luapan emosi kebahagiaan, kesenangan, bahkan candu cinta pada idol yang diekspresikan oleh para penggemar, tetapi juga dapat menghasilkan serangkaian bahasan akademik yang menarik. (*)

Bahan Bacaan

Akalili, Awanis. 2018. Manajemen Komunikasi Fandom “Boys Love” EXO: studi kasus manajemen komunikasi fandom “boys love” EXO’s OTP offline dan online. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Duffett, Mark. 2013. Understanding Fandom: an introduction to the study of media fan culture. New York: Bloomsbury.

Engle, Yuna & Tim Kasser. 2005. Why do Adolescent Girls Idolize Male Celebrities?. Journal of Adolescent Research. Vol. 20 No. 2, March 2005 263-283. Sagepub.com.

Jung, Sun & Doobo Shim. 2014. Social distribution: K-pop fan practices in Indonesia and the ‘Gangnam Style’ phenomenon. International Journal of Cultural Studies. Vol. 17(5) 485–501. Sagepub.com.

Wang, Cheng Lu. 2017. Exploring the Rise of Fandom in Contemporary Consumer Culture. Chocolate Avenue: IGI Global.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,023FansLike
37FollowersFollow