Monday, October 25, 2021
spot_img
BerandaGagasan GuruMelukis Bersama Tuhan

Melukis Bersama Tuhan

Supriadi, S.Pd.
Guru SMP Negeri 12 Kota Bima

Suyanto.id–Seni dalam klasifikasi yang banyak diterima adalah salah satu dari berbagai aspek kehidupan yang bersifat integral di samping sistem religi, pengetahuan, bahasa, ekonomi, teknologi, maupun sistem sosial penyusun kebudayaan. Semuanya berkembang saling mempengaruhi secara simultan pada satu bagian kebudayaan dan memiliki peran pada setiap bagian-bagiannya dalam membangun sebuah kesadaran akan hubungan timbal balik yang bersifat fundamental.

Pada pembahasan ini, penulis mencoba meletakkan seni lukis dan kesadaran tauhidiah sebagai dua entitas yang mampu berkolaborasi dalam pembentukan dan penyempurnaan eksistensi kemanusiaan.



Dalam kehidupannya, manusia memerlukan suatu pola estetis yang dapat menyediakan objek bagi kontemplasi estetis religiusitasnya. Objek tersebut diharapkan dapat menjadi sarana yang akan terus mengingatkan pada prinsip-prinsip ketuhanan dan kehambaan. Sebagai sebuah proses atau sebuah karya, seni lukis semacam itu tentunya akan meneguhkan kesadaran terhadap fitrah kemanusiaan pada wujud transenden mutlak. Pemenuhan akan kehendak-Nya menjadi tujuan segala-galanya. Dalam kerangka ini, seni lukis dan ketuhanan menjadi dua ruang tak berbatas, menjadi satu kesatuan entitas imajinasi, inovasi, kreasi, dan imanensi. Tuhan merupakan tujuan dan seni lukis merupakan proses berkarya kreatif seniman dalam usahanya mengenal dan mendekatkan diri kepada-Nya.

“Kubentangkan kampas layar hidupku, padanya kutorehkan warna dari jejak akal kemanusiaan, nurani menjadi titik merah pemanis lukisan yang jadi, aku melukis bersama Tuhan.”

Selanjutnya, pertanyaan yang kemudian harus dijawab adalah pada posisi mana seorang pelukis menempatkan dirinya, apakah seniman menjadi pencipta makna dan simbol bersama Tuhan di sampingnya atau mendeskripsikan keagungan Tuhan lewat visualisasi karyanya.

Kontemplasi sebagai proses awal penciptaan sebuah karya seni lukis diarahkan kepada sebuah proses dzikrullah. Pada tahapan ini, dimensi spiritual, nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan menjadi materi yang harus mampu diolah menyatu dalam sebuah karya seni lukis. Tuhan, alam, manusia, dan kehidupan, pada proses kontemplasi sebagai sebuah penjelajahan tematik seperti ini diharapkan dapat menjadi proses awal ekspresi seniman di mana ekspresi keimanan dan keindahan menjadi ruhnya.

Seni dan ketuhanan dalam perspektif Islam, melahirkan peristilahan seni islami yang melarutkan realitas batiniah Wahyu Ilahi dalam dunia bentuk dan menuntun manusia memasuki ruang batin Wahyu Ilahi. Seni islami memiliki karakter tendensi yang kuat terhadap pemikiran dan esensi nilai yang pada proses berkarya selanjutnya akan menjadi sebuah prinsip dari idealisme seniman untuk menentukan nilai yang akan diangkat ke dalam karyanya.

Baca juga:   LDL to LDR dalam Pembelajaran di Era Pandemi

Pemilihan nilai dan bentuk karya, kemudian diharapkan tidak lepas dari semangat awal yang telah dibangun di mana seniman diharapkan dengan karyanya dapat berdiri tegak dalam ruang estetis religius. Usaha memvisualkan keindahan Ilahiah melalui penentuan tematik dan prosesnya, seharusnya dicapai melalui sumber-sumber keindahan, keyakinan, dan keagamaan. Semuanya harus merupakan realisasi penalaran dan perwujudan bahasa dari filsafat cita-cita, moral, dan spiritual. Penciptaan karya seni lukis semacam ini akan selalu hidup dalam ruang kehidupan dan selalu menempatkan pencapaian keindahannya yang tidak pernah tergantung dan terikat oleh modelitas benda-benda duniawi (phisical).

Akhir dari proses tersebut adalah lahirnya sebuah karya sebagai bentuk ekspresi keindahan yang menempatkan “Tuhan” sebagai simbol visual atau energi Ilahiah dalam proses berkarya. Penyadaran manusia terhadap Sang Pencipta untuk senantiasa mengabdi dan berserah diri kepada-Nya dalam keseluruhan proses di atas juga merupakan sebuah upaya untuk mengangkat seni lukis pada derajat yang diagungkan. Seni lukis tidak hanya sebagai pemuas batiniah keduniawian, tetapi juga menjadi media dakwah dan integral di dalamnya sistem religi, pengetahuan, bahasa, ekonomi, dan sosial, yang membentuk kebudayaan yang lebih agung.

Sebagai pemanis lukisan yang telah jadi, penulis mengutip tulisan Hamdy Salad dalam bukunya Agama Seni: Refleksi Teologis dalam Ruang Estetik, bahwa “unsur-unsur pemaknaan seni pada tingkat kultural haruslah merujuk pada eksternalisasi kesadaran subjektif yang menyata dalam proses dan penciptaan karya seni yang dapat dilihat dari parameter religiositas”. Ini kemudian dapat dilihat dari ekspresi dan imajinasi yang merupakan korespondensi pengembaraan tematik dengan pengerahan nilai-nilai Ilahiah, kreasi, dan inovasi sebagai perjalanan semiotik dengan warna-warna yuridis atau fiqhiyahnya.

Terakhir, “Melukis Bersama Tuhan” diharapkan melahirkan intensi dan konsistensi pada kesadaran akan Ketuhanan dan Kehambaan. Wallahualam. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
59FollowersFollow