Sunday, October 25, 2020
Beranda Tips Hiseri Memahami Rumput Tetangga dan Memupuk Rumput Sendiri

Memahami Rumput Tetangga dan Memupuk Rumput Sendiri

Lena Citra Manggalasari
Alumni Technische Universität Dresden, Mahasiswa Program Doktor PTK Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–The grass is always greener in the other side adalah salah satu idiom yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat kita, dalam bahasa Indonesia sering disebut ‘rumput tetangga lebih hijau’. Tidak ada yang salah dengan idiom ini, tetapi nampaknya kita perlu melatih diri untuk berani mengatakan ‘rumput saya lebih hijau daripada rumput tetangga’. Hal ini bukan mengarah pada arogansi kita sebagai manusia, tetapi lebih pada melatih diri untuk selalu mensyukuri apa yang kita punya.

Di era media sosial seperti sekarang ini, di mana hampir semua orang menampilkan positive vibes only, kemampuan menerima diri sendiri (self acceptance) menjadi sangat penting dimiliki oleh setiap orang. Bagaimana tidak, setiap hari kita akan disuguhi berbagai macam postingan artis, kolega, teman sekolah, atau tetangga yang kita ikuti di media sosial. Ketika orang-orang yang kita ikuti mengunggah foto dirinya yang cantik wajahnya, mulus kulitnya tanpa terlihat adanya pori-pori misalnya, kita langsung membandingkan diri kita dengan mereka. Mungkin hidung kita tidak semancung hidung mereka, mungkin kulit kita tidak semulus dan seputih kulit mereka atau bibir kita tidak semerah merona seperti bibir mereka, kita langsung merasa sedih dan melihat apa yang ada pada diri kita merupakan sebuah kekurangan, tanpa berpikir bahwa mereka bisa saja menggunakan kamera masa kini yang super canggih fiturnya atau mereka menggunakan aplikasi tertentu pada smartphone yang dapat mengubah wajah seketika menjadi tampan, cantik, dan bahkan muda tanpa kerutan.

Di hari lain mereka yang kita ikuti di media sosial mungkin akan memposting beberapa postingan barang-barang yang mereka miliki, seperti mobil baru, tas baru, atau mungkin apartemen baru dengan bermacam caption seperti “Alhamdulillah, akhirnya terbeli juga mobil impian sejak dulu”, “Tas baru hadiah ulang tahun, terimakasih suamiku, I love you to the moon and back” atau “Mengunjungi investasi masa depan, apartemen baru, puji Tuhan”. Dari postingan mereka lalu kita membandingkan hidup kita dengan hidup mereka. Kemudian muncul berbagai pertanyaan dalam diri “Kok, mobilku tidak pernah ganti?” “Mengapa suamiku tidak memberikan hadiah ulang tahun? Atau, “Kenapa penghasilanku tidak cukup untuk membeli apartemen?”

Baca juga:   Stoicism: Obat Antibaper dari Yunani

Percayalah hidup ini sering tidak seindah foto-foto di media sosial. Banyak cerita yang ada di belakang postingan-postingan tersebut yang tidak perlu diceritakan kepada Anda. Bisa jadi mereka adalah anak orang kaya, bisa jadi mereka bekerja keras siang malam di saat Anda tertidur lelap atau bisa jadi mereka menanggung banyak angsuran untuk memiliki semua itu. Gaya di awal bulan dan menangis di akhir bulan. Bisa jadi demikian.

Ibu-ibu zaman sekarang pun terlihat agak berbeda dengan ibu-ibu zaman dahulu. Dahulu jika anak demam, ibu adalah orang yang paling sibuk mencari kompresan atau mencari obat supaya anaknya segera sehat. Di era digital ketika anak demam, ibu akan mengambil foto si anak dan mempostingnya di media sosial dengan caption “Cepat sembuh kesayangan mama”. Tentu saja saya sangat percaya hanya sedikit ibu-ibu yang demikian, masih banyak ibu-ibu yang sangat memperhatikan dan meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Hal ini terbukti dari seringnya saya melihat postingan foto anak-anak yang sedang bermain dengan caption “quality time with lovely kiddos”.

Memahami bahwa ada kebutuhan tentang eksistensi diri di era media sosial seperti sekarang ini, akan menjadi titik balik untuk hidup kita agar lebih fokus menerima dan menyukuri apa yang kita miliki. Dengan demikian diharapkan kita akan menemukan celah-celah kekurangan kita untuk dapat kita perbaiki. Berbeda dengan ketika kita selalu membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain dan melihat bahwa hidup mereka lebih sempurna dari hidup kita, kita akan lupa untuk ‘memupuk rumput sendiri’.

Baca juga:   Stoicism: Obat Antibaper dari Yunani

Jadi, bagaimana kabar rumput anda?

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Gurit Ati

Lanskap Ibukota

1,044FansLike
43FollowersFollow