Sunday, February 5, 2023
spot_img

Memaknai Waktu

Sunarta, S.E., M.M., M.Pd.
Dosen FE Universitas Negeri Yogyakarta dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi Fakultas Bisnis dan Ekonomika UII

Suyanto.id–Walaupun setiap hari kita selalu bersinggunan dengan waktu, tetapi kalau ditanya apa itu “waktu” seringkali bingung untuk menjawabanya. Setiap orang pasti memiliki jawaban yang berbeda, sehingga pengertian tentang waktu mungkin jumlahnya sama dengan orang yang mendefinisikannya.

Waktu tidak memiliki batas (awal atau akhir) sehingga setiap saat adalah awal dari waktu masa depan dan akhir dari masa lalu (Lettinck, 1994). Waktu yang sedang kita jalani saat ini adalah masa depan bagi masa lalu atau saat ini juga merupakan masa lalu untuk waktu yang akan datang dan begitu seterusnya. Sebagai contoh, saat ini saya sedang menulis naskah, setelah berlangsung selama lima menit kemudian, maka dengan sendirinya waktu lima menit tersebut merupakan masa lalu untuk saat ini dan bagian dari masa depan untuk waktu sebelumnya.

Sebagai ilustrasi, dalam perjalanan hidup manusia, ada yang namanya waktu kecil, waktu remaja, waktu dewasa, dan waktu tua. Dalam kehidupan sehari-hari juga dikenal adanya waktu sekolah, waktu kuliah, waktu kerja, dan waktu pensiun. Ada pula yang namanya waktu belajar, waktu istirahat, waktu rapat, waktu ibadah, waktu makan, waktu tidur, dan berbagai jenis penggunaan waktu lainnya.

Ada tidaknya aktivitas yang kita lakukan, untuk apa waktu kita gunakan, dan bagaimana cara kita mengelola waktu tersebut, waktu akan tetap ada dan terus bergerak linier sampai tak terhingga, (mungkin) sampai kehidupan di dunia ini berakhir. Pertanyaan radikalnya: jika kelak dunia ini berakhir, apakah waktu masih ada? Jika benar masih ada, sejak kapan waktu mulai ada? Jika dikaitkan dengan dunia dan seisinya yang kelak akan berakhir, kemudian kapan dunia dimulai/diciptakan? Mana yang lebih dahulu ada (being) antara waktu dan dunia?

Sebagai orang yang beragama dan percaya adanya Tuhan (theis), tentu mempercayai bahwa setelah kehidupan ini masih akan ada kehidupan selanjutnya. Itu artinya masih ada waktu yang akan datang walaupun satuan waktunya berbeda dengan satuan waktu di dunia saat ini.

Baca juga:   Mendekonstruksi “Mangan Ora Mangan” Sing Penting Ngumpul

Satuan waktu secara umum terdiri dari detik, menit, jam, dan akumulasi dari semua itu menjadi satuan hari, minggu, bulan, tahun, windu, dekade, serta abad. Fungsi dari satuan-satuan waktu tersebut bagi sebagian orang adalah untuk pengingat atas suatu peristiwa atau kejadian, kapan harus memulai, dan kapan mengakhiri. Waktu juga berfungsi sebagai penyemangat dalam usaha mencapai suatu target individu maupun kelompok. Dengan menggunakan waktu, suatu target yang akan dicapai bisa diukur tingkat keberhasilan dan kegagalannya.

Ada dua jenis waktu, yakni waktu objektif dan waktu subjektif. Waktu objektif adalah waktu yang digunakan sebagai pedoman secara umum, seperti dalam 1 hari 1 malam ada 24 jam, 1 minggu ada 7 hari, dan 1 bulan ada 4 minggu, 1 tahun ada 12 bulan. Sementara itu, waktu subjektif adalah waktu yang dirasakan (bisa terasa terlalu cepat atau terlalu lambat) atas suatu kejadian (senang-susah) yang dijalani seseorang.

Orang yang memperoleh kegembiraan, waktu yang dijalani terasa cepat-sebaliknya orang yang sedang mengalami musibah merasakan waktu seperti tidak bergerak. Namun, tidak jarang bagi sebagian orang, waktu juga sering dijadikan sebagai alat pembenar (justifikasi) atas tindakan atau langkah yang dianggap gagal. Alasan seperti waktunya tidak cukup, waktunya bersamaan dengan kegiaan lain, waktunya tidak tepat, dan berbagai alasan lainnya yang pada akhirnya waktu menjadi kambing hitam. Seburuk apapun kita dalam mengelola dan memanfaatan waktu yang disediakan secara adil oleh Allah, waktu akan tetap setia menemani perjalanan hidup manusia.

Mari kita manfaatkan waktu dengan baik di dunia saat ini (sekarang) agar tidak menyesal di akhirat nanti (yang akan datang). Semoga tulisan yang sangat sederhana ini bermanfaat bagi sesama. Penting untuk mengingat tentang “waktu” seperti yang dikatakan Socrates “Gunakan waktumu untuk meningkatkan diri dengan tulisan orang lain sehingga kamu dengan mudah menemukan apa yang telah diupayakan orang lain”. (*)

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow