Tuesday, January 31, 2023
spot_img
BerandaGagasan Ilmiah PopulerMembangun Kerja Sama Luar Negeri – Bagian 4

Membangun Kerja Sama Luar Negeri – Bagian 4

Oleh Prof. Suwarsih Madya, M.A., Ph.D.
Dosen FBS dan Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Seperti saya katakan pada tulisan sebelumnya, saya belajar mendapatkan pemahaman lintas budaya melalui interaksi yang di dalamnya saya melakukan cultural blunder. Kali ini akan saya ceritakan kesalahan kultural yang berujung manis, meski dengan malu-malu saya saat itu menyadarinya. Ada dua kesalahan kultural yang saya lakukan.

Suatu hari, kami diajak dosen untuk melihat pameran pendidikan di mana berbagai produk media pendidikan dipajang. Kegiatan itu merupakan bagian dari mata kuliah Media in Education. Kami diangkut oleh dua dosen yang meminjam mobil universitas. Saya juga belajar hal baru dalam kegiatan di luar kampus seperti itu, yaitu para dosen justru melayani mahasiswa dalam hal tranportasi. Mereka dengan sigap menyiapkan kendaraan dan mahasiswa tinggal ikut saja. Saya heran sekali karena baru pertama kali dilayani dosen seperti itu. Kebetulan saya bersama dua orang mahasiswa lain kebagian ikut mobil dosen, yang lain ikut mobil universitas.




Sepanjang perjalanan, dosen berupaya mengisi waktu dengan membuat kami bicara. Dia meminta teman yang duduk di depan untuk bercerita. Tetapi, ceritanya yang banyak bekenaan dengan masalah pribadi tidak terlalu ditanggapi. Saya heran dan kasihan sama teman itu. Tetapi saya sendiri hanya mendengarkan saja, tidak bisa komentar, apalagi menyangkut kekayaan.

Lalu, dosen ganti meminta saya bercerita. Saya ceritakan tentang Yogya bersama beberapa situs sejarah dan masalah sosial budaya. Wou, di luar dugaan, dosen itu sangat antusias dan melempar beberapa pertanyaan yang kadang-kadang saya harus berpikir keras untuk menjawabnya. Misalnya, pertanyaan tentang kebebasan laki-laki berpoligami. Saya merasa wajib menjawab dengan tetap menjaga martabat, tetapi juga mempertimbangkan kenyataan. Saya lihat dosen itu lumayan puas dengan jawaban saya. Saya menjadi sadar bahwa topik non-pribadi dapat menjadi sarana percakapan yang mengasyikkan dan topik pribadi tidak menarik bagi orang barat.

Tidak terasa kami sudah sampai di lokasi pameran. Kami dibebaskan memencar tetapi harus kumpul 90 menit kemudian di tempat yang telah ditentukan. Mulailah kami bersama dua teman berjalan keliling. Banyak sekali barang-barang pamerannya. Pengunjungnya juga sangat banyak. Dari pembicaraannya, saya bisa menebak bahwa para pengunjung berprofesi sebagai pendidik dan sebagian orang tua murid.

Tibalah saya pada stand mainan anak-anak. Ada satu yang sangat menarik, yaitu puzzles gambar kangguru tetapi tidak terlalu rumit. Cocok untuk anak saya yang masih di bawah dua tahun.

Spontan saya bertanya, “How much is it?

Well, do you like it?

Yes, very much.”

Just take it.

Saya terbelalak kok hanya dikasihkan. Saya jadi salah tingkah, apa yang salah ya. Saya masih bengong, penjaga meja pameran membungkuskan dan memberikannya pada saya.

Betapa terkejutnya saya ketika dosen berkata, “Suwarsih, this is an exhibition. You shouldn’t have asked about the price.

Oh my God, I didn’t know. Sorry, I forgot I was outside Indonesia. Did he give it to me because of that?

Yes. Next time, please don’t do that.

I promise. I’m really sorry for that. It’s embarrassing. Thanks for your advice.”

Saya malu sekali, tapi nasi telah menjadi bubur.

Akhirnya teman saya bilang, “Sudahlah, anggap saja itu rezekimu.”

Jadi saya dapat rezeki karena kepolosan saya membuat kesalahan kultural. Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali niat untuk perbaiki diri.

Saya membuat kesalahan kultural sejenis empat tahun kemudian, yaitu pada tahun 1986. Suatu hari, menjelang hari ultah, saya berencana mengadakan kumpul-kumpul bersama teman-teman mahasiswa Indonesia untuk mengurangi rasa tegang mengerjakan disertasi. Karena jika datang semua teman-teman berjumlah sekitar 30 orang, saya memutuskan untuk merayakan ultah di rumah kediaman keluarga Hayes yang memang luas.

Maka saya telepon Joan untuk pinjam rumahnya. Dia menjawab, “Yes, sure,” dengan suara ceria penuh semangat.

Saya sangat lega. Lalu, dia bertanya kapan mau belanja dan dia siap mengantar. Wah, saya jadi tidak enak karena saya rencananya mau belanja dengan teman saya. Tetapi ya sudah, tidak enak menolak dan Joan bukan orang yang tawarannya mudah ditolak. Singkat kata saya dan Joan sepakat untuk belanja ke supermarket terdekat dan sama-sama janji untuk acara agar meriah. Saya janji akan membuat catatan dan Joan mengingatkan jangan ada yang terlewat.

Sehari sebelum hari H, Joan jemput saya untuk belanja. Kelilinglah kami berdua di supermarket untuk beli bahan makanan. Saya ambil troli yang besar dan sambil melihat catatan, saya ambil bahan-bahan untuk buat gulai, sate, pecel/gado-gado, telur balado, krupuk, dan buah-buahan serta minuman ringan. Joan menggoda dengan pertanyaan,

Would you like some wine? Tomorrow is your special day, Suwarsih.”

No thanks, but would you?”

Dia hanya tersenyum. Berkali-kali Joan mengingatkan jangan sampai kurang dan jika melihat barang yang saya ambil sedikit, dia minta agar ditambah. Saya sebenarnya khawatir uang saya gak cukup tetapi saya pikir pasti Joan tidak ingin dia menjadi malu kalau ada makanan yang kurang lantaran pesta itu berlangsung di rumahnya. Dengan menahan kekhawatiran, saya menuruti saran Joan. Akhirnya belanjaan menjadi menggunung di troli.

Kami menuju kasier dan saya siap membayar, tetapi Joan berkata, “No, Suwarsih. I will pay for all.

Oh no, please don’t do that, Joan.” Saya sangat kaget bercampur dengan malu sekali karena belanjaannya banyak banget.

Suwarsih, take it easy. This is Australia. So, it’s my treat.

A billion of thanks, Joan. That’s very kind of you, sahutku menahan rasa malu tapi haru juga.

Never mind, Suwarsih.”

Saya baru ingat apa yang sering saya lihat dalam film-film Barat, di mana yang berulang tahun adalah yang ditraktir, bahkan sering menjadi kejutan. Benar-benar kebalikan dari budaya Indonesia.

Baca juga:   Covid-19 Has Changed the World

Ah… saya menyesal sekali telah membuat kesalahan dengan meminjam rumah keluarga Hayes. Kan, sama saja minta ditraktir. Tetapi, demi Tuhan, saya benar-benar bertindak alami sesuai budaya sendiri tanpa menyadari adanya perbedaan budaya. Padahal, secara teori saya tahu, tetapi pas kejadian, saya balik lagi ke budaya sendiri. Susah banget sih belajar budaya.

Melihat saya bengong, Joan tersenyum dan minta agar saya fokus untuk rencana hari H. Karena sudah terlanjur, yah akhirnya saya “pupus”…. Mungkin itu sudah menjadi rezeki saya…. Tetapi, saya berjanji pada diri sendiri untuk lebih hati-hati.

Singkat cerita, pesta ultah berlangsung seru. Kami mahasiswa Indonesia kompak, ada yang memasak, ada yang main piano, dan ada yang menyanyi. Makanan melimpah dan acara berlangsung seharian penuh sampai sore hari.

Di sisi lain, saya juga punya pengalaman yang dapat dianggap mengimbangi kesalahan kultural tersebut di atas, yaitu ketika meluruskan persepsi orang terhadap Indonesia. Seperti saya sampaikan terdahulu saya berupaya membangun komunikasi dengan sebanyak mungkin mahasiswa dari berbagai negara. Tanda keberhasilan komunikasi lintas budaya dapat dilihat ketika berhasil angkat persoalan paling sensitif, yaitu agama, dalam suasana enak, penuh persahabatan. Suatu saat ada seorang sahabat asal Australia tiba-tiba bertanya dengan suara pelan, setengah berbisik.

 “Suwarsih, are you a Muslim?”

“Yes, I am,” jawab saya sangat cepat, “Why…?” pertanyaan saya terpotong.

“But why are you so nice?”

Dia meneruskan pertanyaannya sampai menatapku seolah-olah ingin mencari jawaban yang sesuai dengan harapan lamanya. Ganti saya yang jadi balik bertanya.

“I beg your pardon? Why… why did you ask that question? Anything wrong with my being nice to everyone here?”

“No, of course not. Nothing wrong for sure. But I was told at school that Muslims are cruel, even killers.”

Saya sangat terkejut, bak tersambar petir dan dia tampak merasa salah.

I’m sorry to have shocked to with my question.”

Well, yes, I’m shocked. But I’m sorry to hear that. Anyway, it’s not true. You can see how the Indonesian and Malaysian students treat other people here, can’t you.”

“Yes, every one of you are so nice to me. This is the first time I feel peaceful to interact with people from other countries like Indonesia, you know.”

Dia tampak merasa tidak enak sekali, tetapi saya bilang bahwa saya bisa mengerti situasi dia dan dia jadi tenang. Lalu, saya cerita tentang kehidupan sosial di Indonesia yang dipayungi oleh Pancasila. Saya ceritakan betapa masyarakat Indonesia biasa gotong royong lintas agama dalam membangun rumah ibadah.

Dia terbengong-bengong. Lalu, bertanya apakah aman berkunjung ke Indonesia. Saya jawab dengan panjang lebar. Dan saya katakan bahwa kami yang di Sydney itu bisa dikatakan mewakili masyarakat Indonesia yang majemuk dari segi budaya, agama, suku bangsa, dan ekonomi. Toh bisa dilihat rukun-rukun saja.

You know, we’ve been here for a year, and will still be here for another year. We behave naturally, don’t we? You can see it when we interact with other people here, can’t you?”

“Yes, of course I can. In fact, I’ve been observing for the last 6 months. Therefore, there’s a sort of conflict inside me. But I’ve started to change my view about Indonesia now. Thanks for your explanation.”

“My pleasure. Don’t hesitate to ask me more questions about my country.”

“Sure, I will.”

Sejak itu, kami dan makin dekat. Setelah menerima informasi dari orang yang berbeda, dia makin percaya bahwa Indonesia tidak seburuk yang dibayangkan selama ini. Dia lalu merencanakan berkunjung ke Indonesia.

Namun, demikian dia ternyata masih ragu tentang kondisi Indonesia. Saat berkemas, teman saya melihat tanpa sengaja dia bawa cukup banyak tisu, sabun, sampo, pasta gigi sampai kopernya penuh sesak.

Setelah diberitahu bahwa di Indonesia semua keperluan sehari-hari tersedia, dia urungkan dan mengatakan mau membatalkan rencana bawa barang-barang tersebut. Tetapi, yang namanya orang belum tahu, ternyata dia belum percaya 100%; dia ketahuan masih bawa beberapa. Ketika dia diajak ke supermarket setiba di indonesia, dia benar-benar melongo dan merasa agak malu.

Lewat obrolan di meja makan, saya juga berkesempatan meluruskan pandangan tentang dominasi kelompok. Meski sudah saya jelaskan, rupanya mereka belum yakin tentang kerukunan hidup dalam masyarakat majemuk dan kesamaan kesempatan untuk meniti karier setinggi mungkin.

Oleh karena susah meyakinkan, saya lalu rekayasa untuk duduk satu meja dengan beberapa teman yang agamanya berbeda, ada yang Hindu, Kristen Protestan, dan Katolik. Ketika ditanya apakah orang non-Muslim bisa menjadi pimpinan lembaga, yang saya minta menjawab adalah adik-adik mahasiswa keturunan Tionghoa yang telah saya ceritakan dulu bergabung dalam Vocal Group. Sambil bilang bahwa dia pemeluk Katolik, seorang dari adik-adik itu memberikan contoh bahwa pimpinan militer adalah Jenderal Benny Murdani yang non-Muslim. orang yang mendengar itu mengangguk-angguk, tetapi masih tampak belum percaya. Lalu, ditunjukkan gambarnya bersama komentarnya yang kebetulan ada di koran yang dibawa ke meja makan. Baru mereka percaya.

Akhirnya, salah satu bilang, “That’s nice. One day, I will visit your country.

Please, do,” saya langsung menyahut.

Yang lain menyahut, “I’ll think about it.

Dari interaksi penuh persahabatan dengan mereka, saya menjadi paham jalan pikiran dan pandangan mereka tentang Indonesia. Segi bagusnya, mereka akan berubah pandangan ketika menerima cukup informasi yang mereka yakini kebenarannya. Pemahaman saya ini rupanya telah membekali saya dalam menjalani tugas ke depan yang banyak berurusan dengan pihak asing. (*)

Bersambung ke bagian 5 …
Baca bagian 3

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Cinta

0

Janji Proklamasi

1

Pelayatan Agung

0

Ziarah

1

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
68FollowersFollow