Sunday, February 28, 2021
Beranda Gagasan Ilmiah Populer Membangun Perjalanan Karier dengan Cinta

Membangun Perjalanan Karier dengan Cinta

Oleh Joko Budi Santoso, S.Pd., M.A.
Kandidat Doktor Universitas Negeri Yogyakarta

Hidup Apakah Sebuah Perjalanan?

Hidup adalah perjalanan panjang. Dalam sebuah perjalanan, segala biasa terjadi, mungkin ada kisah yang akan enak dikenang sepanjang masa karena dalam perjalanan itu mendapakan pengalaman empiris luar biasa yang dapat dijadikan cerita indah untuk generasi berikutnya. Perjalanan juga dapat mengakibatkan kisah sedih yang berujung pada derita sepanjang jaman seperti kecelakaan atau musibah lainnya yang melukai, baik pisik maupun psikis.

Perjalanan hidup akan bermuara pada hasil yang diakibatkan perjalanan itu. Bagimana perjalanan hidup kita, dari mulai masa anak-anak, rejama, hingga dewasa? Akankah saat ini kita sudah menuai hasilnya dan ceritanya? Hal ini menarik untuk penulis coba refleksikan guna evaluasi pribadi dalam sebuah karakter yang dirindukan ibu pertiwi pada anak negeri yang diharapkan dapat memberi arti dalam pembangunan bangsa ini.

Karakter yang memiliki keluhuran budi adalah karakter yang akan menjadi pilihan hidup dalam terminal akhir kebahagiaan haqiqi, yaitu kebahagian lahir dan batin dan kebahagiaan dunia akherat. Bukakankan jika kita mengkaji lebih jauh hidup ini memang sebuah siklus yang nampak seperti sebuah perjalanan? Ya, perjalanan waktu yang diawali dari kelahiran dan diakhiri pada kematian. Jika demikian tidakah kita mau meninggalkan kesan yang baik sebelum kita berpulang dengan membangun karier yang mendatangkan warna persahabatan yang enak dikenag sepanjang zaman?

Kondisi Kita Benarkah Dipengaruhi Kerja keras?

Kerja keras adalah hal yang dapat perpengaruh pada kondidi kita saat ini. Ingat pepatah jika kau tanam rambutan pasti hasilnya rambutan, jika kau tanam kebaikan pasti hasilnya kebaikan pula. Bahasa jawa mengatakan, dadi wong apa nandure, artinya bahwa ‘kita akan menjadi manusia yang diharapkan berhasil dalam hidup ini bergantung apa yang telah kita lakukan pada masa lalu dan sekarang’. Jika pada masa lalu kita melakukan hal yang tidak berarti atau hanya berdiam diri, maka jangat harap kita hidup bahagia saat ini dan akan datang. Ukuran sukses itu memang relatif namun kemapanan secara ekonomi dan finansial adalah ukuran yang rasional di era globalisasi ini.

Tidak ada yang hanya ingin bersantai atau hanya menunggu hasil, namun dewasa ini manusia berkecenderungan ke arah itu. Mengapa? Karena manusia pada dasarnya akan cenderung memberikan fasilitas lebih dalam pemenuhan egoistisnya. Hal yang kemudian menjadi masalah adalah bukankah pada dasarnya manusia adalah makhluk soisal yang tidak akan lepas dari kebutuhan berinteraksi dengan manusia lainnya. Bisa dibanyangkan konflik akan mudah terjadi ketika manusia masih bertahan untuk saling membidik kepuasan pribadinya, karena itupun akan dilakukan oleh manuisa lainnya.

Beberapa pengalaman hidup yang mungkin terjadi pada diri kita, sebagai seorang petani maka akan senang jika sawahnya tidak kekeringan. Untuk itu, sang petani akan selalu berusaha sekuat mungkin agar sawahnya mendapat pasokan air dari sumber air yang terbatas. Hal yang terjadi sudah dapat dipastikan, akan berbenturan dengan petani lain yang akan berbuat sama demi mempertahankan kualitas padinya di sawah agar tidak gagal panen.

Hal lain juga sering terjadi jika Anda tinggal dalam suatu kompleks perumahan, Anda sedapat mungkin menggunakan luas lahan yang terbatas itu seoptimal mungkin agar merasa lebih nyaman. Lalu, tetangga dekat pun berbuat yang sama. Pertengkaran sering kali menjadi ending dari peristiwa itu.

Conoh lain, jika Anda adalah seorang staf organisasi pemerintah maupun swasta, maka jabatan strategis sering menjadi perburuan karena akan berpengaruh terhadap pundi-pundi keuangan Anda. Maka, tidak jarang terjadi tindakan saling sikut melalui perbuatan cari muka pada atasan Anda. Apa yang terjadi dapat dipastikan hubungan kinerja dari masing-masing personal dalam organisasi tersebut akan rawan konflik karena munculnya rasa like or dislike dari pihak-pihak yang berkompetesi untuk jabatan idaman.

Sebuah alternatif solusi yang menurut penulis adalah cara bijak bagamaimana mengatasi fenomena tersebut, sedapat mungkin melakukan kerja keras dengan mengesampingkan berbagai tendensi yang akan mengurangi motivasi kita untuk melahirkan karya sempurna dan bermanfaat bagi bangsa. Cintailah pekerjaan kita dengan mencintai orang lain yang bekerja seperti kita, membagun kerja keras bersama akan melahirkan kesempurnaan energi guna memikul beratnya proses berkarya itu. Dengan demikian, kita akan berada pada kondisi yang cukup prima karena bekerja keras akan membawa pada kejayaan lahir batin yang bermuara pada kepuasan sempurna atas hasil karya kita.

Toleransi betulkah Menjadi Solusi

Beberapa difinisi tentang toleransi pada dasarnya mengartikan sama, yakni sikap menghargai hak asasi orang lain. Namun, penulis mengedepankan makna bahwa toleransi adalah suatu sikap mau dan mampu mengerti kebutuhan orang lain. Sikap mengerti akan kebutuhan orang lain merupakan manifestasi dari bentuk pengakuan akan orang lain, mengerti bahkan sudah masuk dalam ranah terjadinya dialektika suasana batin akan hak individu dan hak orang lain.

Gambaran sederhana, misalkan kita seorang pemimpin dalam organisasi, ketika kita mengerti akan keadaan bawahan kita, maka kebijakan yang diambil adalah yang memberikan  rasa aman dan kenyamanan, bukan kebijakan yang mendatangkan kegelisahan para staf. Jika Anda adalah seorang bawahan, semestinya Anda mengerti apa yang diingini pimpinan. Dengan demikian, Anda akan mampu memenuhi keinginannya. Apabila kondisi ini dapat diwujudkan, maka sudah pasti pimpinan Anda akan nyaman dan memberikan respon positif akan kinerja Anda. Dengan demikian, terjadi sinergitas antara bawahan dan atasan. Sinergitas itu terjadi karena ada toleransi antarkeduanya dalam posisi masing-masing. Hal ini merupakan pengertian yang menjadi inti dari hakikat membangun hubungan antarmanusia.

Bagamaimana Bekerja Sama Secara Cerdas

Kehidupan kita di antara orang lain merupakan hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Untuk itu, hubungan akan berlangsung postif ketika terjadi kerja sama di antara kita dan orang sekitarnya. Bentuk kerja sama diperlukan suatu yang mengedepankan hasil yang positif pada apa yang akan dihasilkan, serta bagaimana cara kerja sama itu berlangsung.

Hasil dari kerja sama yang memberikan kontriusi positif terhadap proses pembangunan bangsa adalah hal yang semestinya menjadi referensi utama dalam setiap bentuk kerja sama. Kondisi nyata di lapangan justru berbanding terbalik dengan harapan itu. Lihat saja para politisi begitu getol membangun kerja sama memperjuangkan kepentingan kelompoknya dengan segala cara sehingga terjadi korupsi secara koligial. Tengok pula bagaimana para birokrat kita membuat kerja sama dalam berbagai manipulasi kebijakan publik.

Cara kerja sama itu berlangsung juga diperlukan pendekatan nilai cinta selama proses itu berlangsung, karena apabila referensi  cinta tidak menjadi bagian yang ada dalam proses itu, maka semangat untuk memberikan pendzoliman terhadap orang lian yang menjadi hasil dari kerja sama yang dilakukan.

Hasil dan cara kerja sama seperti itu adalah bentuk kerja sama yang tidak cerdas karena lari dari semangat hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Hal itu merupakan pencederaan atas cinta pada sesama sebab muara dari kersama itu tidak lain akan melahirkan kebenciaan. Kebencian pada atasan jika kita seorang bawahan, kebencian pemeimpin pada yang dipimpin jika posisi kita seorang atasan, atau kebenciaan rakyat kepada pemerintah jika kita adalah rakyatnya. Jika pada akhirnya adalah kebencian lalu mengapa kita harus melakuakn hal yang salah pada setiap aktivitas kita dalam membangun kerja sama.

Berkaca pada hal itu, maka menurut penulis diperlukan semangat rela berkorban, memberi seluruh dirinya, melayani secara total (sungguh-sungguh) terhadap apa yang kita lakukan dalam sebuah pekerjaaan, bukan membangun karier dengan mencederai karier orang lain. Tahu membalas budi, merawat rekannya hingga akhir hayat lebih mulia dari pada menghujat keberadaaanya. Bekerja sesuai dorongan dari dalam dirinya, bukan karena memcari muka atasan. Tidak menunggu perintah orang lain melainkan kaya akan tindakan yan inovatif. Itulah cara cerdas dalam bekerja sama.

Etos kehidupan semut didasarkan pada suatu nilai-nilai dasariah yang sering kita sebut sebagai living values (nilai kehidupan) Kita ingin membangun “sebuah tim kerja” yang tangguh. Tim kerja yang melebihi kemampuan team work-nya semut. Untuk itu, kita ingin memanfaatkan keberbedaan kita menjadi sebuah kekayaan dan sekaligus kekuatan. Maka, kita perlu mengembangkan nilai-nilai kehidupan yang ada dalam diri masing-masing. Kita semua dilahirkan dalam keunikan. Maka, kita semua berbeda, punya keahlian, dan punya kemampuan yang berbeda-beda. Masing-masing kita juga punya kemampuan (ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial) yang perlu kita kembangkan. Setiap orang juga memiliki kekurangan dan kelemahan yang perlu diatasi. Justru keberbedaan kita itulah yang menjadi kekuatan karena kita saling melengkapi, sehingga kelemahan yang kita miliki diisi oleh ketangguhan yang lain. Sikap dasar yang kita perlukan adalah “saling menghargai” yang ada dalam cinta.

Pada dasarnya kerja sama adalah bentuk aktivitas manusia dalam pengejawantahan human society. Adanya perbaikan karier pada setiap pekerjaaan manusia merupakan indikator pengembangan diri karena manusia pasti butuh berkembang. Perkembangan itu sendiri tentunya ke arah yang lebih baik. Langkah perbaikan hidup itu pada hakikatnya adalah pembangunan individu yang menjadi bagian dari pembangunan bangsa.

Pembagunan individu adalah perbaikan karier. Oleh karena itu, membangun perjalanan karier hendaknya dengan cinta sehingga akan melahirkan sinergitas yang terbangun dari toleransi antarsesama dalam posisi masing-masing. Hal ini merupakan inti dari hakikat membangun hubungan antar manusia yang perlu dicerahkan dengan menejemen cinta agar tercipta kondisi yang cukup prima melalui bekerja keras yang membawa pada kejayaan lahir batin yang bermuara pada kepuasan sempurna melalui suatu hasil karya. Maka, perjalan waktu yang diawali dari kelahiran dan diakhiri pada kematian hidup kita senantiasa akan mendatangkan kebahagiaan hakiki dengan tanpa menyakiti mahluk lain yang ada dibumi.

Mari berkarier dengan cinta sebagai senjata bukan menyikut antar sesama. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Hari yang Dijanjikan

0

Menangis adalah Hak

0

Problematika Terurai

0

Kilasanmu Ayah

0

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Menangis adalah Hak

Kilasanmu Ayah

Problematika Terurai

1,160FansLike
46FollowersFollow