Monday, November 30, 2020
Beranda Pendidikan Mempertahankan Mutu Pembelajaran di Masa New Normal

Mempertahankan Mutu Pembelajaran di Masa New Normal

Oleh Agustin Hanivia Cindy, S.Pd., M.Pd.
Kandidat Doktor Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Suyanto.id–Pendidikan yang bermutu adalah yang mampu menjadi jalan para siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Selain itu, pendidikan bermutu merupakan pendidikan yang mampu mewujud seperti yang diharapkan oleh pelanggan pendidikan itu sendiri.

Selama ini telah banyak sekolah yang mampu menjadi sekolah bermutu karena telah berupaya semaksimal mungkin memenuhi harapan masyarakat sebagai pelanggan pendidikan. Hal ini terjadi dalam keadaan normal, dalam keadaan tidak normal seperti sekarang ini (kenormalan yang baru  atau new normal), apakah sekolah tersebut masih mampu mempertahankan mutu yang dimilikinya? Tentu saja hal itu menjadi pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab.



Pendidikan di Indonesia baru saja diserbu gelombang Revolusi Industri 4.0. Sekolah yang tidak siap menjadi tertinggal sehingga memaksa semua sekolah menggunakan cara-cara baru dengan melakukan migrasi pemikiran yang baru. Ketika proses migrasi tersebut belum selesai, muncul serangan kedua yang tidak kalah hebatnya, yaitu serangan pandemi Corona Virus Disease (Covid-19).

Seluruh dunia terhentak dengan pandemi Covid-19 yang dikuatkan dengan adanya pengumuman resmi dari World Health Organization (WHO) pada 12 Maret 2020. Pandemi Covid-19 tersebut seperti segerombolan pemaksa tak kasat mata yang tidak terhadang, mereka memaksa masyarakat seluruh dunia melakukan kehidupan dengan cara yang baru. Berbagai kebiasaan dalam kehidupan yang dianggap normal menjadi kebiasaan yang dianggap membahayakan sehingga harus membangun kebiasaan baru.

Perubahan cara hidup tersebut juga terjadi dalam ranah pendidikan, sekolah mengubah metode pembelajaran yang selama ini dilakukan. Tidak ada lagi suara-suara dari bibir para siswa dalam ruang kelas yang bertanya kepada guru. Ruang kelas berubah menjadi ruang-ruang kosong, menganga, yang dihiasi oleh kursi-kursi berdebu. Sekolah-sekolah mendadak menjadi sepi tanpa riuh renyah siswa yang penuh riang, semua guru seolah tidak percaya ini semua bisa terjadi dengan pandangannya yang penuh tanya.

Setiap sekolah harus menjalankan online learning maupun blended learning tanpa ditanya terlebih dahulu apakah sekolah tersebut sudah siap atau belum untuk menjalankannya. Para orang tua juga demikian, siap atau tidak siap harus mengubah dirinya yang selama ini total menjadi orang tua, tiba-tiba harus berubah menjadi orang tua dan menjadi seorang guru di dalam rumah. Kondisi tersebut benar-benar telah menjadikan pihak sekolah dan orang tua bekerja ekstra dalam mendidik. Di sisi lain, pihak sekolah harus tetap mempertahankan mutu pendidikannya.

Baca juga:   New Normal: Keniscayaan di Tengah Ketidakpastian

Bagi sekolah yang benar-benar bermutu harus mampu mempertahankan mutunya bak mutiara yang tetap akan menjadi mutiara meskipun di malam hari yang sedang gelap gulita. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat dilakukan oleh berbagai pihak yang berkepentingan dalam pendidikan untuk mempertahankan mutu pendidikan di sekolah dalam masa new normal. Pertama, pemerintah harus saksama merevitalisasi sistem evaluasi mutu pendidikan khusus untuk mengetahui mutu pendidikan di sekolah pada masa new normal. Sebagai contoh, dalam borang akreditasi ada poin yang mempertanyakan luas sebuah kelas dan mempertanyakan beberapa sarana dan prasarana lainnya. Andai pun semua pertanyaan itu terjawab dengan baik, lantas apa manfaat dari semua itu untuk kondisi new normal seperti saat ini? Tentu saja ini harus menjadi perhatian yang serius dan harus ditindaklanjuti dengan saksama untuk melakukan perubahan.

Kedua, pihak sekolah harus mampu melakukan metode baru dalam pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan di dalam masa new normal, yaitu online learning dan atau blended learning dengan meninggalkan metode konvensional tanpa alasan apapun. Hal ini tentu saja perlu didukung oleh ketersediaan hardware, software, dan paket data dalam menjalankan metode pembelajaran yang baru tersebut, sementara itu untuk menjamin ketersediaan berbagai perangkat tersebut  maka peran pemerintah dalam hal ini sangat dibutuhkan terlebih untuk daerah-daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal).

Baca juga:   Dialog Imajiner Covid-19 dan Anak-Anak Sekolah

Ketiga, pihak keluarga dalam menjalankan metode online learning maupun blended learning sangat dibutuhkan peranannya, bahkan cenderung memiliki peran yang besar dari guru, para orang tua harus menjamin bahwa putra-putrinya dapat belajar dengan nyaman di rumahnya tanpa ada hal yang dapat mengganggu proses belajarnya. Selain itu orang tua juga dituntut harus mampu memonitor serta memberikan catatan yang diperlukan terhadap proses belajar yang diikuti oleh putra-putrinya untuk dijadikan masukan bagi pihak sekolah.

Keempat, semua pihak, baik pemerintah, sekolah, keluarga, maupun siswa harus menjadikan pendidikan jarak jauh ini sebagai paradigma baru dalam proses pendidikan, bukan hanya sekadar sebagai kegiatan sementara dalam masa pandemi. Hal ini perlu dilakukan agar semua pihak menyadari bahwa dengan melaksanakan pendidikan jarak jauh, tujuan pendidikan harus tetap tercapai secara efektif dan efisien.

Terakhir, yang perlu disampaikan adalah bahwa yang lebih penting dari itu semua bahwa di masa new normal saat ini aspek kesehatan dan keselamatan harus diutamakan di atas segalanya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Indonesia Tanah Air Beta

Ibuku, Guruku

Catatan Seorang Guru

4

Fragmen Pohon dan Rimba

Komentar Terbaru

Sedang Populer

Catatan Seorang Guru

Fragmen Pohon dan Rimba

Pendidikan pun Butuh Sentuhan

1,071FansLike
45FollowersFollow