Saturday, April 24, 2021

Menangis adalah Hak

Awanis Akalili S.I.P., M.A.
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta Kandidat Doktor Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada

Suyanto.id–Laki-laki harus kuat, tidak boleh menangis!” merupakan rangkaian kalimat yang mungkin sering terdengar atau bahkan tidak sengaja terucap dari kita. Sedari kecil, laki-laki dituntut untuk menjadi sosok yang tegar dan seakan tidak memiliki tempat untuk merasakan sakit hati dan kesedihan. Rangkaian bahasa tersebut dapat melanggengkan, melembagakan narasi bahwa laki-laki menangis ialah sesuatu yang dianggap salah. Predikat cengeng dan kurang gentle kemudian akan menjadi sudut pandang yang terus-menerus diamini sebagai suatu kelumrahan.

Peran laki-laki untuk menjadi sosok maskulin selalu menjadi wacana gender yang diperdebatkan. Sadar atau tidak, kita bisa saja terjebak di dalam kelindan toxic masculinity. Merujuk pada Erickson-Schroth dan Benjamin (2021:135) toxic masculinity didefinisikan sebagai “a narrow and repressive description manhood as defined by violence, sex, status, aggression”. Laki-laki dilihat sebagai individu yang secara gender memiliki peran yang jantan, maka ketika dirinya menjadi sosok tidak jantan akan dipertanyakan “ke-laki-laki-annya”.

Ada banyak hal yang dapat dipelajari dalam bahasan toxic masculinity, seperti melihat laki-laki merawat dirinya sebagai sebuah ketidakwajaran, menganggap laki-laki yang harus selalu dominan di hadapan perempuan, apabila tidak dominan akan diragukan peran laki-lakinya, merasa tidak pantas untuk galau dan sebagainya. Dari beberapa bahasan tersebut, fokus dalam tulisan ini lebih kepada problematika tangisan laki-laki dan konstruksi sosial yang berkembang.

Dalam beberapa referensi, seperti Childhood Trauma and The Non-Alpha Male: Gender Role Conflict, Toxic Shame and Complex Trauma: Finding Hope, Clarity, Healing and Change (Carpenter, 2018), diungkapkan bahwa sebagian laki-laki juga mengalami tekanan ketika dirinya selalu diinginkan untuk menjadi sosok yang kuat di hadapan publik. Bahkan, tekanan tersebut dirasakan sedari usia dini. Ada hal-hal yang perlu mereka tahan, seperti tangisan.

Bagi saya pribadi, menangis ialah hak, baik bagi perempuan maupun juga laki-laki. Manusia memiliki porsinya masing-masing untuk turut mencurahkan kesedihan bahkan kesenangan di dalam wujud air mata. Sayangnya, konstruksi ini kerap tidak sejalan dengan figur-figur laki-laki maskulin. Mengapa kemudian laki-laki dianggap tidak boleh menangis, sementara perempuan menangis ialah fenomena yang sah-sah saja? Mengapa kemudian laki-laki dituntut untuk kuat, tangguh, dan dianggap maskulinitasnya rapuh apabila menangis?

Baca juga:   Seni Bernegosiasi

Konstruksi sosial membangun wacana bahwa laki-laki adalah individu yang jauh dari rasa patah hati sehingga air matanya kerap dipertanyakan. Apabila berbicara tentang patah hati, Didi Kempot menjadi sosok yang saya idolakan karena syair-syair patah hatinya hadir untuk mendobrak wacana bahwa laki-laki juga memiliki kebebasan dalam meromansakan kesedihan, kegalauan, kegundahan pada yang mereka cintai. Bahkan, di beberapa kesempatan, predikat The Godfather of Broken Heart diberikan para penggemar pada Didi Kempot. Hal ini menunjukkan bahwa patah hati adalah rasa yang juga dialami oleh laki-laki.

Selain syair lagu, tangisan laki-laki juga ditunjukkan dalam beberapa serial drama, baik dalam negeri maupun luar negeri. Namun, kontekstualisasi berpengaruh dalam merepresentasikan kesedihan laki-laki dalam tayangan media. Sebagai contoh, dalam beberapa tayangan drama Korea, laki-laki menangis untuk memperjuangkan cintanya menjadi hal biasa. Hal ini berbeda dengan beberapa serial layar lebar produksi Barat di mana laki-laki bertubuh gagah digambarkan sebagai sosok tangguh dan relatif jarang dihadirkan dalam kondisi menangis. Sementara media di Indonesia mulai dapat mengakomodasi kesedihan laki-laki di dalam layar kaca, meskipun terkadang di beberapa konten media dan di kehidupan nyata fenomena laki-laki menangis masih saja dilihat sebagai sebuah keanehan.

Baca juga:   Konstruksi Tubuh Perempuan (Ideal)

Dalam benak saya, mengapa aneh? Laki-laki adalah individu yang sama dengan saya (perempuan), namun tangisan laki-laki seakan ditekan publik untuk ditahan dan tidak diluapkan.

Pribadi kuat dan bisa menganggulangi segala kesedihan seakan-akan menjadi tanggung jawab besar yang diemban laki-laki sehingga ketika ada raut kesedihan yang dimunculkan dari laki-laki, orang melihatnya sebagai sebuah kekurangan. Mengurangi kalimat toxic masculinity seperti: “kau laki-laki, yang kuat dong, cengeng, ah” di dalam kehidupan sehari-hari adalah salah satu pilihan untuk turut menjadi agen perubahan. Meminimalisasi toxic masculinity dengan memberi ruang kesedihan bagi laki-laki perlu dilakukan. Kesedihan adalah rasa yang manusiawi. Oleh karenanya menangis ialah hak, baik bagi laki-laki maupun perempuan.

Menangislah, apabila itu bisa mereduksi kesedihan. Salam. (*)

Daftar Bacaan

Carpenter, Douglas W. 2018. Childhood Trauma and The Non-Alpha Male: Gender Role Conflict, Toxic Shame and Complex Trauma: Finding Hope, Clarity, Healing and Change. Florida: Atlantic Publishing Group

Erickson-Schroth, Laura & Benjamin Davis. 2021. Gender: What Everyone Needs to Know. New York: Oxford University Press.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

PP 57/2021

Fajar Pertama Bulan Ramadan

Elegi Lembah Pujian

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,166FansLike
52FollowersFollow