Wednesday, January 20, 2021
Beranda Cerpen Menanti Curhatan Herfan

Menanti Curhatan Herfan

Oleh Alistyono Pramuhadi
Guru Bahasa Inggris MTsN 4 Gunungkidul dan MUHI English Club SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta

Suyanto.id–Teman sebuah makna yang luas untuk sebuah persahabatan. Lebih dekat lagi berada di sekeliling kita adalah seorang sahabat. Sahabat yang baik adalah turut merasakan apa yang dirasakan dan turut merasakan apa yang di derita maupun yang dibahagiakan. Kedekatan seorang sahabat kadang akan melebihi dengan kedekatan dengan saudara-saudara. Rasa sedih dan rasa senang kadang terbagi di antara dua sahabat.

Sebut saja seorang sahabatku bernama Herfan, ia sanga merupakan seseorang yang menurut pandanganku seorang yang  optimistis dan tidak pernah mengeluh. Apa yang dirasakan ketika ia mendapatkan satu ujian dari Allah SWT. Herfan bukan dari keluarga yang berada, ia bersal dari keluarga yang sederhana dan sangat taat terhadap agama. Ujian yang kadang menerpa didirinya akan bisa dipecahkan sendiri tanpa meleibatkan siapa pun yang ia dekat dengannya. Herfan adalah seorang pejuang yang pantang menyerah. Ia adalah seorang yang luar biasa.

Pada tahun 1990 ia menikah dengan seorang wanita asal kota Magelang. Wanita yang dinikahinya termasuk keluarga yang berada. Perjuangan mendapatkan wanita itu tidaklah mudah. Ia megalahkan banyak rivalnya, maklum wanita itu tergolong wanita yang parasnya cukuplah membuat lelaki ingin memilikinya. Dengan perjuangan yang luar biasa mengandalkan laku tirakat selalu mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Shalat malamnya tidaklah pernah ia tinggalkan dan ditambah dengan dhuhanya sangat kenceng ia jalani. Laku tirakat untuk taqarub kepada ilahi inilah yang menyebabkan ia kuat secara mental maupun psikologisnya dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada di dunia ini.

Selang bebarapa tahun kemudian, kira kira di tahun 1991, Herfan dikarunia putra laki laki yang sangat tampan. Ketampanannya melebihi bapaknya. Betapa bergembiranya keluarga itu dengan hadirnya Zafran, putra pertamanya. Dua tahun kemudian, isterinya melahirkan anak kedua, seorang putri yang mungil nan cantik. Prasasti putri cantiknya diberikan sebuah nama Rasyidah yang diharapkan menjadi wanita yang mulia.

Memang sudah lengkaplan Herfan dikarunia dua orang anak. Zafran sebagai lelaki yang ganteng dan Rasyida sebagai putri yang cantik. Kedua anaknya semakin hari semakin tumbuh dewasa.

Isterinya yang bernama Kamila sangat menyayangi suami dan anak-anaknya. Kamila memang isteri yang cerdas dan luar biasa dalam membangun mahligai rumah tangganya. Dia termasuk wanita yang terampil dalam segala hal. Kamila seorang wanita lulusan perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta. Ia menyelesaikan pendidikaanya hanya dalam waktu yang singkat sehingga ia lulus dengan “cumlaude”.  Namun, ia tidak mencari pekerjaan denga kesarjanaannya, diabdikan dan darmabaktikan dirinya untuk mengurus suami dan anak anaknya. Begitu mulianya hati Kamila, ia memang wanita yang  shalihah. Ini menurut kacamata saya. Ia tidak silau dengan glamornya kehidupan dunia. Kamila sangat taat dan patuh terhadap suaminya. Saya menyaksikan sendiri betapa ia memperlakukan suaminya.

Tidak terasa waktu berjalan terus hingga kedua anaknya tumbuh dewasa. Zafran menyeesaikan SMA-nya di tahun 2011 dan Rasyida di tahun 2013. Kedua anak Herfan adalah tergolong anak yang kampiun ia selesaikan dengan nilai yang tinggi. Sehingga keduanya pun  diterima di perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta. Zafran melanjutkan di farmasi dan Rasyidapun juga di terima di jurusan yang sama.

Kedua anak Herfan ini mempunyai bakat dan minat yang sama. Herfan sebagai ayah selalu mendorong kedua anaknya dan membebaskan keduanya sesuai dengan minat dan bakat yang dimilikinya, Ia tidak pernah memaksakan kehendaknya serta mengarahkan ke mana ia akan melanjutkan kuliahnya. Wujud demokratisnya di implementasikan dalam kehidupan keluarganya.

Baca juga:   Hati Putih Yu Jum

Kedua anaknya semua lulus dengan predikat cumlaude. Keduanya pun melanjutkan studinya S2 di fakutas dan jurusan yang sama. Sekali lagi Herfan terus memotivasi serta mendorong kedua anaknya untuk terus menempuh pendidikan yang lebih tinggi sesuai keinginannya tanpa ia mengarahkan keduanya agar melanjutkan kuliahnya lagi.

Lagi-lagi S2 mereka selesaikan dengan cepat dan mendapatkan predikat cumlaude. Keduanya pun juga langsung mendapatkan tawaran menjadi dosen di almaternya. Namun, Rasyida memilih menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi terkenal di Bandung.

Sebuah keberhasilan dalam mengantarkan kedua anaknya menjadi orang yang bermanfaat bagi insan adalah sebuah kebanggaan darinya. Ini adalah buah dari hasil laku tirakat yang ia lakukan tanpa henti-hentinya dan kontinyu. Laku tirakat untuk selalu mendapatkan yang terbaik memang tidak diniatkan untuk keberhasilan keluarganya, namun diniatkan lillahi ta ala. Niat hanya digantungkan kepada Allah SWT dan efeknya adalah merembet ke kehidupan keluarganya.

Herfan tinggal menunggu masa tuanya. Di mana ia sekarang hanya hidup bersma isteri tercintanya, Kamila. Namun, di masa tuanya inilah Herfan diuji oleh Allah SWT. Isterinya menderita stroke sehingga ia harus berbaring di tempat tidur. Ujian ini memang sangat berat baginya, tetapi ia selalu ingat apa yang ada di dalam Al Quran, “Laa yukalifullahu nafsan illa wus’aha” (Allah tidak akan memberikan cobaah kalau hambanya tidak mampu menjalani cobaan itu). Hal ini sangat diyakininya. Dengan penuh ketulusan ia rawat isterinya, ia layani isterinya dengan penuh kasih dan sayang seperti ketika ia jatuh cinta pertama kalinya.

Baca juga:   Dendam Tujuh Turunan

“Mau dibuatkan apa, Bunda?” sapaan lembut setiap harinya. Ini dilakukannya setiap harinya. “Mau pipis bunda?” Sebentar saya ambilkan pispot, ya,” terus-menerus tanpa keluh kesah yang ia raskan, terus emangat untuk merawat isterinya. Di rumah hanya tinggal berdua saja karena anaknya sudah punya rumah sendiri walaupun belum berkeluarga.

“Kringg… kringg…” ponselku berbunya. Aku bergegas menghampiri ponselku yang aku letakkan di ruang kerja. Aku lihat dalam foto profilnya ternyata yang menelpon adalah Herfan, sahabat yang tidak pernah mengeluh sedikit pun bila ia dirundung kesedihan.

“Assalamu’alaikum… Khamim,” Herfan membuka percakapan.

“Wa’alaikumusslam… heeee Herfannn apa kabar, lamo tidak bersuo…,” kataku dalam bahasa Minang. Walaupun Herfan sendiri bukan orang Minang.

“Alhamdulillah baik… baik, keluarga kami baik baik aja,” sahutnya.

“Bagaimana keadaan Kamila, sudah semakin sehat, kan?“ tanyaku bosa-basi.

Sebetulnya aku sudah tahu dari tetangganya kalau Kamila belum begitu membaik, bahkan belum ada perkembangan sakitnya.

“Alhamdulillah, semakin membaik, namun harus penuh ketelatenan untuk melayaninya,” kata Herfan.

“Syukurlah, semoga Allah segera ringankan sakitnya dan segera sembuhkan sakitnya…” sahutku.

Tanpa terasa kami bercakap cakap melalui ponsel hampir setengah jam. Dan inipun tidak muncul sedikit pun curhatan dari Herfan kepadaku. Sebetulnya Herfan bila ia biasa mencurahkan hati dan perasaan yang sekarang dirasakannya pasti akan sedikit entenglah beban pikirannya. Namun, hal itu tidak ia lakukan. Ia sangat “teteg” (kuat hati ) dalam menghadapi segala cobaan dan kesedihan yang di deritanya.

Menanti curhatan Herfan hanyalah sebuah penantian. Ia tidak akan bisa menumpahkan curahan hatinya kepada siapa pun. Ia sangat bisa mengatasi permaslahannya sendiri. Kesedihan dan kegembiraan hanyalah Herfan lakukan sendiri. Herfan tidak bisa curhat kepada siapa pun kecuali kepada Allah SWT sang Khalik yang sudah menciptakan manusia dimuka bumi ini. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -

Tulisan Terbaru

Mamuju

Tresna Tanpa Syarat

Tepuk Dada

Komentar Terbaru

Sedang Populer

1,145FansLike
46FollowersFollow